My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
12.



Ya Tuhan, sekarang aku benar-benar dalam masalah.


Sebenarnya apakah tidak ada kamar lain di rumah ini sehingga pria itu membawaku ke kamarnya. Itu hanya agak..ah entahlah rasanya kurang pantas.


setelah kebingungan yang ku coba netralisir, akhirnya aku selesai dan ingin cepat bertemu dengan pria itu. Pertanyaan-pertanyaan di dalam otak ku seperti bom waktu yang ingin meledak, kenapa juga dia membawaku kemari.


Tidur, mandi, dan kemudian berganti baju di kamar pria yang baru ku kenal. Ya Tuhan, mengapa aku harus mengalami kejadian yang di luar batas kewajaran ini. Tak nyaman..


Dress casual berwarna peach dengan tinggi rok di bawah lutut, pemilihan warna yang manis ini membuatku terlihat lebih feminim.


Ku buka pintu dan benar pelayan perempuan bernama Fedora tadi masih menunggu di depan pintu.


Setelah melihat ku, ia tak banyak bicara dan mengarahkan aku untuk mengikutinya. Lorong yang lumayan panjang dengan banyak pintu, hingga kami sampai di ruangan besar dengan tangga menuju ke bawah di sisi kanannya.


Kami menuruni tangga, rumah dengan interior yang kental bergaya american classic ini sangatt luas.


Rumah yang sangat indah, tapi tak ada seorangpun disini hanya beberapa pelayan yang tanpak sibuk di beberapa sudut.


Akhirnya aku sampai di meja makan yang cukup besar, di ujung sana terlihat pria itu. Pria yang ingin ku cecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah menggunung di dadaku.


Dia memakai kacamata, tak seperti biasa. Matanya fokus menatap layar laptop serta jari-jarinya yang juga terlihat tak kalah sibuk.


Dan untuk pertama kalinya juga aku melihat ia memakai pakaian casual, sangat terlihat berbeda. Yah baiklah, aku akui dia sangatt tampan, jangan sampai dia mendengar itu.


"Akhirnya kau turun juga Nona Emma, untuk kali ini aku maklumi. Tapi nanti saat jadi sekretarisku, aku tidak suka menunggu."


Apa!? Dia mengomeliku? Hah??? Hey!! Aku yang harusnya mengomel disini Tuan arogan!


"Ayo kemari duduklah di dekatku, kau mau sarapan apa?"


Aku masih memandanginya dengan kesal, tapi bagaimana lagi akupun duduk dengan patuh seperti biasanya.


"Kau mau susu, orange jus?"


"Air putih hangat." Tenggorokanku rasanya tidak enak.


"Kau mau sandwich? oatmeal?"


"Apel saja." Aku sedang tidak berselera.


Dia mengangguk, kemudian membisikan sesuatu pada pelayan perempuan tadi yang masih berdiri menunggu titahnya.


Beberapa saat kemudian, meja penuh dengan sangat banyak menu sarapan yang tidak ku minta satupun.


Ku pijat keningku yang tidak sakit, pria ini benar-benar selalu punya hal untuk menguji kesabaranku.


"Kita hanya makan siang seadaanya di jalan, kau lantas tertidur sehingga melewatkan makan malammu. Apel tidak akan mengenyangkan perutmu Nona Emma!"


"Tapi saya juga tak bisa menghabiskan seluruh makanan ini yang di hidangkan ini."


"Kau tidak perlu menghabiskannya, kau hanya perlu membuat perutmu kenyang. Setelah itu mari kita bahas apa yang ingin kau tanyakan."


"Anda tau saya ingin menanyakan banyak hal pada anda Tuan Linford?"


"Raut wajahmu itu, kau sangat mudah di tebak Nona Emma."


Apakah aku begitu mudah di tebak? Ah siapa peduli,


"Temani saya makan! Saya tak mau makan sendirian, lagi pula siapa yang akan menghabiskan makanan ini." Ucapku tambah kesal.


"Dengan senang hati Nona Edelsteen..." Jawabnya sambil tersenyum.


Pria itu menutup laptopnya, membuka kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya yang mancung. Mengambil sebuah sandwich dan melahapnya, setelah memastikan itu barulah aku ikut menikmati sarapan bersamanya.


***


Dia mengajak ku ke halaman belakang yang di suguhkan keindahan berbagai pepohonan yang memanjakan mata, benar-benar membuat hati menjadi tenang.


"Sepertinya perjalanan yang cukup memakan waktu untuk sampai di villa ini, Tuan Linford?"


"Ya, untuk pertama kalinya aku menyetir sejauh itu. Rasanya tidak buruk.."


Aku yang memunggunginya pun langsung berbalik.


"Tadinya saya ingin mencecar anda dengan banyak pertanyaan, tapi karna anda pasti lelah pertanyaan itu akan saya simpan. Nanti akan saya tanya disaat kondisi anda sudah membaik."


"Kau meragukan stamina Lelaki sehat sepertiku Nona Emma?"


"Cih, kau selalu narsis! kau selalu membuatku tak bisa bicara secara formal dan ingin selalu mengomelimu."


Terserahlah aku tak bisa membendung lagi kesopanan ku.


"Hahaha.. Lakukan seperti apa yang kau mau Emma, lagi pula ini bukan ranah perusahaan kau tidak perlu bicara dengan formal. Aku akan senang, mendengar omelanmu."


Dia langsung memanggil nama ku dengan akrab begitu saja. Dasar pria arogan, tidak mau kalah.


"Baiklah langsung ke intinya, apa maksudmu membawaku kemari?"