
Ku injak pedal gas kencang mungkin, aku tak perduli lagi akan apapun.
Tuhan aku mohon lindungi Bastian, dia dewaku. Aku mencintainya, maafkan keragu-raguan di hatiku.. Jika ia dalam keadaan baik aku berjanji akan mengutarakan semua isi hatiku padanya.
Airmataku tumpah ruah, aku ingin segera memastikan apa yang terjadi, bagaimana kondisi Bastian saat ini.
Aku mengejar waktu, tak peduli suara-suara klakson dari mobil lain yang memprotes caraku melaju. Hanya Tuhan yang tahu bagamana cemasnya hati ini, aku tak mau kehilangan lagi seseorang yang berharga bagiku.
Sesampainya di sana aku berlari sekencang-kencangnya, aku berhenti saat tak tau harus kemana. Suara bandara riuh ramai, mungkin karna musibah ini dan terlihat raut kepanikan dari semua orang.
Aku menghubungi Harold,
"Kau dimana?"
"Aku baru sampai di lobby, terlalu banyak orang aku tak tau harus kemana." Jawabku masih dalam kepanikan yang sama.
"Tenanglah Emma, aku akan menyusulmu."
Suara telfon dimatikan, aku mengatur nafas. Leherku masih tercekat, aku mendengar suara orang menangis suasana ini benar-benar membuatku hancur.
Suara dan raut wajah kepanikan semua orang membuatku merasa terkunci, semua berputar-putar tanpa henti di kepalaku. Aku mencengkram dengan erat kepalaku.
"Bastian, kau dimana!!!" Pekikku dalam tangis yang semakin menderu.
Aku terduduk membeku, dalam riuhnya manusia dan kepanikan yang sama.
"Aku disini Emma,"
Sebuah suara yang tak asing, aku lantas berdiri dan mencari asal suara itu. Aku benar-benar mendengarnya bukan berhalusinasi. Aku juga berjudi dengan ketakutan ku sendiri benarkah yang ku dengar atau suara hati yang membuat itu terasa seperti kenyataan.
Aku melihat Harold yang berjalan mendekat, di iringi dengan siluet tubuh yang sangat tak asing. Bastian benarkah itu dia, tangisku pecah sejadinya.
Ya, dia Bastian..
Tubuhnya mendekapku, tubuh hangat ini memelukku erat.
"Bastian...!!" Isakku tak percaya.
"Iya, Emma. Aku disini, aku disini...!"
Tanganku mencengkram erat, tak ingin ku lepas sedetikpun.
"Tenanglah Emma, tenang aku disini. Aku bersamamu dan baik-baik saja."
"Aku hampir gila Bastian.. Aku kira akan kehilanganmu. Aku pasti gila jika itu terjadi..."
"Lihatlah aku Emma, lihatlah aku baik-baik saja."
Aku masih menenggelamkan wajahku dalam pelukan Bastian, masih menerka-nerka apakah ini mimpi dan aku takut terbangun.
"Tidak, aku takut kalau ini mimpi aku takut terbangun dan mengetahui ini bukan kenyataan."
"Emma.... Lihat aku... lihat wajahku."
Ku beranikan diri melawan segala fikiran buruk dan menatap wajah Bastian. Aku bersyukur padamu Tuhan, aku tidak sedang bermimpi. Ku pegang wajah Bastian ku cermati setiap senti wajahnya.
"Aku mencintai mu Bastian, aku mencintaimu.."
Airmataku mengucur deras, aku harus mengatakannya. Aku takut kalau aku tak akan sempat mengatakannya lagi, dan akan sangat menyesal nantinya.
Bastian terperangah, wajahnya masih terlihat tak percaya.
"Katakan lagi Emma, katakan aku tak mendengar apapun."
"Aku mencintaimu Bastian..!"
Aku membulatkan mata, seraya merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirku. Bastian menciumku!! Jantungku rasanya ingin lepas karna terkejut, anehnya aku malah merasa bahagia.
"Kau mencintaiku Emma?" Tanyanya lagi.
Aku mengangguk, memastikan jawaban Bastian yang menantikan jawaban dengan tak sabar.
Dia memelukku lagi dengan erat, mengecup keningku berulang kali.
"Harold kau dengar itu, kau dengar kalau Emma mencintaiku!?"
Harold menanggapi dengan tersenyum sambil menggeleng heran, aku rasa Bastian sudah gila. Dia membuatku malu.
"Ayo kita pulang Bastian, disini semakin ramai."
"Emmaa!!!!"
Aku menoleh, saat melihat dari jauh Casey terengah-engah berlari.
"Casey, kau menyusulku."
"Bagaimana aku tidak menyusulmu!! Kau!! Rasanya aku ingin memukulimu sampai mati."
Bastian dan Harold terlihat terkejut mendengar ucapan Casey.
"Bagaimana kau bisa tiba-tiba menyetir mobil, dan melaju dengan kencang!! Apa kau lupa dengan traumamu, aku bisa gila saat berada di Taxi memikirkan mu! Memangnya kau punya nyawa 10."
Casey terengah engah, sepertinya dia sangat mengakhawatirkanku.
"Maafkan aku Casey, aku tadi tak menggunakan akalku. Aku benar-benar minta maaf."
Aku lantas memeluk Casey.
"Kalau kau melakukannya lagi aku akan membunuhmu."
"Tentu, tenanglah aku salah. Aku yang salah."
Casey melepas pelukanku dan memandangiku dari ujung rambut sampai kaki. Ku rasa ia ingin memastikan kondisiku baik-baik saja.
"Syukurlah kau baik-baik saja, aku mengikutimu seperti orang gila. Kau benar-benar mengejutkanku Emma, kau melaju seperti tak kenal takut. Kau juga menghilang saat aku sampai disini, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku terlalu panik, dan syukurlah ternyata Bastian baik-baik saja. Casey, kenalkan dia Bastian."
"Hai, aku Casey sahabat Emma."
"Aku Bastian, terimakasih sudah menghawatirkan Emma. Aku akan memarahinya nanti jika kau cemas karna itu."
"Dan Casey, ini Harold." Ucapku lagi.
Casey dan Harold saling memandang, mereka terlihat canggung. Tatapan mereka juga sedikit aneh.
"Apa kau baik-baik saja." Tanya Harold pada Casey, itu membuatku mengerutkan kening.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Aku baik, kau terlihat lelah. Bagaimana kalau kita cari tempat untuk minum."
Hah? Ada apa ini, mereka seperti..
"Apakah kalian sudah saling mengenal?" Pertanyaan Bastian mewakili hatiku, tingkah Casey yang agak malu-malu juga mencurigakan.
"Aku dan Casey sudah resmi pacaran." Jawab Harold sambil mengusap-usap tengkuknya. Wajahnya juga merona.
Aku membungkam mulutku tak percaya, walau rasanya mataku ingin lepas saat memandangi mereka secara bergantian. Aku benar-benar tak percaya.
"Casey jangan bilang dia Tuan Es Batu?"
Tanyaku tanpa berfikir, dan Casey langsung memukul lenganku ringan. Sial aku lupa kalau itu rahasia.
"Tuan Es Batu?" Harold menatap Casey.
"Emma, kau memang tak bisa di percaya!" Sungut Casey.
Aku terkekeh, suasana macam apa ini? Sebelumnya aku sangat cemas seperti mau gila. Dan dalam sekejap suasana berubah menjadi begitu manis.
Bastian menarikku dalam dekapannya,
"Kalau begitu aku juga akan memperkenalkan diri pada sahabatmu Emma."
"Aku akan memperkenalkan diri bahwa mulai saat ini sahabatmu Emma resmi menjadi kekasihku."
Casey tak bisa menutupi rasa bahagiannya.
"Aku sudah menduga itu, kalian tampak serasi saat bersama. Kalau begitu mulai sekarang aku menitipkan sahabat yang paling aku sayangi ini padamu Tuan Bastian. Kalau sekali saja kau membuatnya menderita, aku akan memastikan dirimu dalam keadaan yang tidak aman."
"Aku akan mengingat-ingat ucapanmu ini dan mengukirnya dalam hatiku Nona Casey, dan aku juga mohon kepadamu untuk merubah sahabatku yang paling kaku sedunia itu menjadi lebih manis."
Bastian menyeringai ke arah Harold, Harold yang menyadari itu membalas geram tatapan Sahabatnya.
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, rasa bahagiaku tiba-tiba meluap. Kami tersenyum bahagia dan meninggalkan Arthur Airport. Aku sangat bersyukur untuk hari ini, dan merasa lega semuanya baik-baik saja.