
"Aku sangat membencimu Emma."
Ucapan yang lugas, jelas, tanpa ekspresi apapun. Nuray, mengatakan itu dengan kesadarannya. Sedang aku hanya bisa menatapnya dengan rasa tak percaya.
Akhirnya kami bicara, dua orang yang tidak pernah bicara lebih dari 1-2 kalimat, kini saling berhadapan seolah telah terjadi banyak hal di antara mereka. Dan kini aku mengetahui isi hatinya.
"Di mana letak kesalahanku?"
"Kau tidak pernah tau, tidak pernah menyadari kesalahanmu padaku?"
"Beritau aku Nuray, kesalahan apa yang ku lakukan padamu?"
"Mengapa kau harus jadi sekretaris Tuan Bastian? Mengapa kau menghancurkan impianku bisa dekat dengannya?"
Aku tertegun, menatap Nuray dengan nanar. Apa maksud perkataannya?
"Sejak pertama kali mengetahui tentang test wawancara itu aku tak punya mimpi apapun tentang hidupku selain bisa sukses dengan caraku sendiri, tapi biografi seorang pria yang tak sengaja ku temui di sebuah situs web. Pria yang sangat tampan juga seorang yang mempunyai bakat luar biasa aku ingin menjadi sepertinya."
"Aku ingin dekat dengannya Emma, aku ingin mengenalnya lebih dekat."
"Kau tau aku berusaha keras dengan talentaku agar bisa melewati test wawancara itu dengan lancar, aku bisa gila jika aku gagal. Ini pertama kalinya aku punya tujuan dan gairah dalam hidupku. Aku tak mau mendengar Ocehan Baba lagi dan selalu jadi perbandingan dengan dirimu!"
"Aku memang tak punya keahlian dan minat apapun, aku juga bukan gadis yang ramah dan ceria sepertimu. Tapi bukan berarti aku tak punya perasaan..
Setiap hari Baba dan Anne selalu menyelipkan cerita tentang dirimu yang ramah dan baik hati, mereka tak pernah sekalipun menyebut namaku sambil tersenyum seperti menyebut namamu."
"Sekali saja, aku ingin bahagia dengan mimpiku. Apa itu salah? Aku pikir bisa memperlihatkan keunggulanku saat memintamu menemaniku saat test wawancara. Tapi mengapa kau malah merebut anganku dan menjadi sekretaris Tuan Bastian, aku harus merangkak dan berjuang. Lalu kau? Kau dengan mudahnya berhasil ada di posisi yang ku impikan."
"Mengapa kau selalu menjadi bayang-bayang gelapku, dulu maupun sekarang."
Mengapa bisa begini? Apa yang harus ku jawab. Apa yang harus ku katakan pada Nuray, aku tak pernah ingin merusak mimpinya tak pernah.
"Aku mengagumi usahamu Nona Nuray, tapi jika kau fikir Emma ada di posisinya sekarang dengan cara mudah seperti yang kau sebarkan pada staf lain itu salah besar."
Suara Bastian tiba-tiba muncul dan membuat aku dan Nuray terkesiap, Nuray bahkan terbelalak. Bastian muncul dari meja yang berada tepat di samping meja ku dan Nuray duduk.
Nuray lantas berdiri, ia menunduk memberi hormat dengan kikuk dan cemas. Entah dari bagaimana Bastian ada disini, aku tak menyadarinya.
"Selamat sore Nona Nuray," Ucap Bastian selagi menarik kursi dan duduk di meja yang sama dengan kami.
"Maaf kalau aku menguping pembicaraan kalian, karna ini menyangkut perusahaanku dan Emma adalah orang yang penting bagiku. Jadi aku ingin turun tangan menyelesaikan masalah ini sendiri."
Suasana bahkan lebih serius dari pada tadi saat kami hanya berdua, aku sebenarnya tak menyukai cara Bastian. Tapi, aku sendiri pun tak tau harus bagaimana menyikapi ungkapan dari perasaan Nuray yang sebenarnya, aku tak mungkin menceritakan detail yang terjadi antara aku serta Bastian namun aku juga tak ingin menyakiti perasaan Nuray.
"Kau tak perlu takut padaku Nona Nuray, aku sangat menghargai hubunganmu dan Emma. Adapun yang terjadi antara aku dan Emma, aku punya alasan tersendiri memintanya menjadi sekretarisku dan jika hal itupun karna hal pribadi itu juga keinginanku sendiri bukan karna Emma yang melakukan hal-hal di luar norma."
"Sebenarnya seperti perjanjian yang sudah kita sepakati kau pun menyetujuinya, alasan sebenarnya Emma cuti kau pun tahu bukan? Karna orang tuamu juga mengirim surat duka keperusahaan untuk Emma."
"Kau tau semuanya lantas mengapa kau menyebarkan berita buruk tentang Emma yang baru saja melewati masa berkabungnya."
"Aku tak menyangka kalau kalau hubungan kalian tak sedekat itu, dan aku telah salah menilai karaktermu. Mulai sekarang, aku tidak ingin melihatmu lagi di kantorku Nona Nuray."
"Bastian!!!" Aku menatap tajam kearah Bastian, aku tak ingin masalah pribadi ini mempengaruhi pekerjaan.
"Aku juga tidak bisa mempekerjakan orang yang tidak profesional Emma, ini keputusan objektif dariku."
"Silahkan ajukan surat pengunduran dirimu secepatnya."
Nuray mengangguk dan aku melihat air matanya yang sudah mengalir di pipi, lantas ia meninggalkan aku dan Bastian begitu saja.
"Nuray tunggu!" Aku ingin menyusulnya tapi Bastian menahanku.
"Sudahlah, aku ingin kau menyudahi hal yang tidak perlu. Kalian tidak sedekat itu dan berani bersikap manis lalu menikammu dari belakang, kau tidak perlu memikirkan orang yang seperti itu."
"Tapi, ia anak Baba Ramzan aku sangat menghormatinya."
"Hanya karna kau menghormati orang tuanya lantas kau harus menanggung kejahatan dari anaknya."
"Bukan begitu Bastian, aku hanya.."
"Berhentilah terlalu memikirkan orang lain Emma, pikirkanlah tentang dirimu dahulu."
Aku menghela nafas, tak punya tenaga lagi berdebat dengan Bastian.
"Dengarkan aku Emma, ini adalah terhakhir kalinya kau terlalu baik dengan seseorang. Jangan mudah melibatkan perasaan, dan jangan mudah mempercayai orang lain. Terkadang wajah manis yang manipulatif itu lebih berbahaya daripada musuh yang tampak di depan mata."
Aku mengangguk pelan, aku tau Bastian tak akan berhenti mengoceh kalau aku masih membantahnya.
"Jadi, bagaimana kau bisa disini?" Pertanyaan ini sedari tadi mengelayuti pikiranku.
"Aku mengikutimu," Jawabnya singkat.
"Kau sangat berbakat jadi mata-mata." Ejekku.
"Aku menyelesaikan semua masalah pagi ini, aku mencari sumber isu tidak benar itu. Aku bahkan mendapatkan cctv saat kau di lift bersama para staf perempuan itu, melihatmu yang hanya diam aku sangat emosi. Mengapa kau biarkan saja mereka membicarakanmu saat itu."
"Aku hanya merasa itu tidak perlu.."
"Kau memang butuh pelatihan ketat Emma, aku harus mengajarimu cara menjadi lebih tangguh."
"Aku bisa menjaga diriku Bastian."
"Kalau kau bisa aku tak perlu turun tangan begini."
Dia selalu merasa paling benar, aku tak tahan dengan sikap narsisnya.
"Lagipula sekarang aku punya cara agar kau tak di remehkan lagi. Kau harus patuh kali ini."
Apalagi yang di rencanakan Bastian kali ini, wajahnya menyeringai ke arahku. Menakutkan apa dia punya rencana yang tidak-tidak!?
"Cara apa itu Bastian, jangan macam-macam!"
"Aku rasa cara ini bisa membuat staf lain lebih menghargaimu. Aku tak punya ide sebagus yang ku fikirkan kali ini Emma."
"Jangan membuatku penasaran.. !" Perasaanku mengatakan ini hal yang tidak baik.
"Besok aku akan mengumumkan kau adalah pacarku secara resmi di perusahaan." Ucapnya dengan tersenyum.
"APA!!??"