My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
7.



"Ha-ha ternyata anda bercanda juga Tuan." Jawab ku dengan tawa palsu.


Dia tidak berekspresi sedikit pun atas ucapanku, membuat suasana mendadak hening dan kikuk.


Beberapa saat kemudian makanan pun tersaji.


"Menu appetizer kami kali ini seperti kesukaan tuan, Zuppa chikken soup."


Ini bukan makan siang tipe ku sama sekali.


"Ajari aku bagaimana cara memakan hidangan ini tuan, aku pertama kali memakannya." Ucapku pada Tuan Robert.


"Uhuk.." Suara di batuk pria es itu ujung sana, aku tau dia pasti menertawaiku dalam hati.


"Tentu saja Nona, anda hanya perlu menekan pastry nya dengan sendok seperti ini dan menyendok soupnya dari dalam mangkok Nona."


"Aaahh...Sangat mudah ternyata."


Waow! Makanan ini sangat enak ternyata.


"Bagaimana Nona Edelsteen? Apakah sesuai dengan selera anda?"


"Sangat suka Tuan Robert, aku bahkan tidak sabar untuk terus menyendokannya ke dalam mulut."


"Syukurlah kalau begitu Nona Edelsteen, Ini appetizer terbaik di restoran ini."


"Restorant?"


Aku melirik ke arah Tuan Bastian yang sengaja menepis wajahnya dari mataku.


"Bukankah ini Kantin?"


Tuan Robert sedikit terkekeh, melirik ke arah Tuan Es kutub utara dan saling berpandangan sejenak seperti ada kata sandi yang di sampaikan Tuan CEO itu padanya, ia lantas mengangguk.


"Tentu saja selain fungsinya sebagai restoran, ini juga kantin untuk para petinggi di gedung ini Nona Edelsteen, kalau kantin yang anda maksud untuk para pegawai. Itu ada di lantai 2."


"Begitu ternyata..?"


Aku benar-benar orang kampungan yang tak tau apa-apa, dan aku tertipu mentah-mentah begitu saja.


Robert menepuk tangannya, dan pelayan datang kembali mengambil mangkok yang sudah bersih itu dengan piring yang terlihat besar dengan isi yang terlihat lebih menggugah selera.


"Silahkan nikmati main course nya Tuan muda, ini sederhana tapi sangat lezat Baked salmon dengan kentang dan asparagus. Sausnya sudah kami sesuaikan dengan kesukaan anda."


"Silahkan di nikmati untuk mu juga Nona Emma."


"Ya terimakasih Tuan Robert.. Seperti yang kau katakan tadi ini sangat enak."


"Terimakasih Nona Emma, kalau Tuan sering mengajak mu kemari aku akan sajikan banyak menu istimewa untuk mu lagi."


Hah? Paman Robert ini mendoakan aku cepat mati ya? Semoga setelah ini aku tak akan pernah lagi berurusan dengan pria di hadapanku ini selamanya. Kau salah besar jika ingin berkerja disini Emma, enyahkan pikiran itu.


Setelah melihat Paman Robert pergi, aku sedikit melirik ke arah Tuan es kutub utara. Sebenarnya apa yang dia fikirkan, ingin rasanya aku membuka isi kepalanya dan melihat apa yang ia pikirkan sampai mengajak orang yang telah mengatainya bodoh ini untuk makan siang bersama.


"Katakan saja apa yang kau fikirkan Nona Emma, tidak perlu mencuri pandang seperti itu."


"Mengapa kau tidak membawaku ke kantin yang sebenarnya."


Ah.. Aku tidak berencana menanyakan pertanyaan konyol seperti ini. Tapi entah mengapa menghadapinya seperti semuanya jadi salah.


"Ah.. Kau sangat ingin makan di kantin ternyata."


Hiks, bukan begitu. Aku hanya asal bertanya.


"Tidak juga tadi ku pikir bisa menghemat waktu, dan juga aku hanya ingin melihat-lihat bagaimana pegawai disini berinteraksi."


"Wah kau juga sangat peduli dengan lingkungan pegawai kami."


Entahlah, entah kemana alur pembicaraan ini.


"Lain kali aku berjanji mengajak mu makan disana, tapi untuk kali ini itu tidak mungkin. Itu akan menyebabkan keributan yang tidak menguntungkan dirimu."


Ah, entah apa maksud dari omongannya. Aku mengangguk kecil berpura-pura mengerti.


"Tidak perlu berjanji, lagi pula saya rasa ini pertemuan kita yang terakhir."


"Jangan begitu yakin Nona Emma."


Mengapa dia selalu mengatakan hal-hal yang membuat otak ku berfikir keras.


"Jadi, setelah makan siang ini apakah saya boleh meminta tas saya."


"Tentu."


"Ah terimakasih karna sudah mengajak saya makan di tempat yang nyaman dan menu yang enak seperti ini."


Dia mengangguk kecil, entah mengapa dia tanpak terlalu tenang kalau masalah ini menyangkut tentang ucapanku tadi malam.


Harusnya kan aku di hukum atau sebagainya. Malah mengajak makan, aku sama sekali tak mengerti pikiran orang kaya.


"Nyonya Emma, sebelumnya saya minta maaf. Sepertinya saya sangat membutuhkan tenaga anda di perusahaan ini, sebagai sekretaris pribadi saya."


Hah kan!!! Baru saja aku mau berfikir dia orang yang tidak pendendam. Sekretaris? itu akal bulus anda ingin menyiksa saya.


"Sekretaris? Apa maksud anda Tuan Linford."


"Bekerja paruh waktu dengan gaji kecil itu sangat melelahkan. Kau juga punya paman yang sakit parah, disini kami menilai kau punya kemampuan. Pendidikan dan nilai kelulusannya anda juga baik."


"Selain gaji besar, kami bisa memberi fasilitas terbaik yang kami miliki untuk menjamin masa depan anda di Linford Nona Emma."


Tak ku sangka, jadi dia orang yang seperti ini.


"Anda pasti sudah mencari tau tentang kehidupan saya."


Rasanya benar-benar kosong, aku benci pria arogan ini.


"Itu bukan hal yang sulit bagi saya."


Dia sudah keterlaluan. Ini hal yang ku benci dari orang yang berkuasa suka seenaknya dan semena-mena.