My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
49.



Kakiku sudah terasa kebas hampir tak merasakan apapun, orang-orang berlalu hilir mudik dengan raut gembira di taman kota.


Aku meleguh lelah, menyesali hidupku yang terlalu terbawa arus saat bersama Bastian tak menyadari ada tempat indah seperti ini. Semua orang bahagia, suasana sore yang berwarna agak jingga dan teduh. Aku lupa belum mengisi sedikitpun perutku dari tadi pagi, hanya menenggak segelas amerikano dingin di cafe tadi. Agak perih dah melilit, tapi aku tidak merasakan nafsu makan sama sekali.


Tak jauh dari bangku taman yang ku duduki tampak seorang anak yang sedang melahap roti isi coklat yang terlihat sangat nikmat, ingin rasanya aku memintanya barang sedikit saja. Ah, haruskan aku merebutnya dan beradu masalah dengan anak kecil.


Tiba-tiba aku merasa geli sendiri dengan apa yang aku fikirkan, sejenak aku berfikir hidupku sama sekali belum pernah merasa santai seperti ini.


Mungkin kebahagiaan saat bersama Bastian terlalu membutakan mataku, hingga melewatkan hal-hal seperti ini. Hidup dengan perasaan bebas tanpa merasa terbelenggu oleh segala tuntutan hidup yang serasa tiada akhir.


Mungkin karna dahulu hidupku yang terlalu sulit aku berfikir kehidupan bergelimang fasilitas adalah kebahagiaan yang paling ku impikan. Setelah memiliki semua itu, aku merasa terbelenggu oleh rasa ketidak percayaan diriku sendiri karna semua yang ku dapat adalah pemberian oleh Bastian.


Aku tak bisa menyalahkan Bastian kalau hatinya berpindah, ia layak mendapatkan yang lebih baik dari pada aku yang hanya bisa menjadi bebannya ini.


Ku jinjing sepatu heelsku dan melangkah tak tau arah, kakiku berhenti saat tak sengaja melihat wajah tak asing. Tidak, itu Gavin. Mengapa aku harus menemuinya disini. Aku memutar arah berharap dia tak menyadari keberadaanku.


"Emma,"


Aku menoleh sejenak dan sial! Gavin menyadari keberadaanku. Aku melangkah lebih cepat berharap bisa meninggalkannya.


"Emma, tunggu!!!"


Dia menarik tanganku dengan nafas terengah-engah. Pasti dia berlari dengan cepat dan menangkap basah keberadaanku, dengan cepat ku hempas genggamannya. Aku masih kesal dengan ucapannya waktu itu.


"Emma, aku tau kau masih marah. Dan kau berhak atas itu, aku benar-benar minta maaf atas ucapanku yang bodoh dan kasar saat itu. Aku mohon, aku melakukannya karna sangat cemburu saat mengetahui kau dan Bastian Linford memiliki hubungan yang spesial."


"Lalu apa hubungannya denganmu??" Bentakku.


"Aku tau kau tidak pernah menganggapku sebagai pria yang akan bersanding denganmu, tapi setidaknya kau juga tau kalau perasaanku tulus sejak awal mengenalmu Emma. Aku menemukan terlebih dulu bukan dia.."


"Apa maksudmu Gavin.."


"Bastian belum memberi tahumu tentang masa lalu dan kecelakaan orang tuamu?"


Aku melihat Gavin dengan tajam, aku bertanya-tanya dari mana dia tau tentang masa laluku.


****


Aku masih duduk di bangku taman sore di senja itu, Gavin datang membawa flat shoes dan memakaikannya pada kakiku. Entahlah, aku membiarkannya. Aku harus tau tentang masa lalu itu, tentang apapun yang berkaitan dengan kecelakaan kedua orang tuaku dan Bastian.


"Makanlah,"


Aku menerima bungkusan yang di dalamnya ada roti dan minuman, aku benar-benar lapar dan melahapnya begitu saja di depan Gavin tanpa rasa sungkan.


"Kau pasti begitu terkejut dengan berita yang beredar sampai berakhir di tempat ini, benarkan Emma?"


Aku tersedak medengar pertanyaan Gavin, dan lantas menenggak air dengan banyak.


"Pelan-pelanlah Emma, makan dengan perlahan. Aku juga sudah melihat berita itu dan mencemaskan dirimu, dan benar-benar tak menyangka kau ada disini."


" Lalu kau sendiri mengapa ada disini? Wajahmu juga terlihat tak kalah kacau." Tanyaku kembali pada Gavin.


Gavin tersenyum dan melepas bebas pandangannya pada senja yang semakin berwarna jingga pekat.


"Upaya yang kalian lakukan berhasil membuat kerugian besar pada perusaan kami Emma, aku jelas mendapat kecaman dari pemegang saham dan dewan direksi. Semua tiba-tiba menjadi kacau dan aku di berhentikan sementara dari jabatan direktur yang baru saja ku pegang."


Gavin terkekeh, aku bisa melihat ada masalah yang lebih besar di tanggungnya dari sekedar apa yang sudah ia ceritakan.


"Jadi? Sudah berapa lama kau menemukan tempat yang indah ini?"


"Tempat ini tempat bersejarah bagiku Emma, sewaktu kecil Ibuku selalu membawaku kesini dan membiarkan aku bebas berlari."


"Pasti itu kenangan yang sangat indah.."


"Sangat indah, kehidupanku jauh berbeda dengan anak lainnya. Memiliki seorang Ayah yang sangat disiplin dan tegas, aku tak punya waktu untuk merasakan hal-hal sederhana seperti anak-anak lainya."


Aku melihat raut kesedihan di mata Gavin, pasti kenangan itu sangat berharga baginya.


"Semua berubah saat ibuku menderita depresi saat mengetahui ayahku mencintai wanita lain."


Aku tercengang, Gavin menceritakan hal seperti itu padaku begitu saja.


"Sebenarnya bukan karna mencintai wanita itu yang salah tapi obsesi ayahku yang mengerihkan. Aku terlalu kecil saat itu, sekitar 4 tahun dimana ibuku mulai tak sama. Sikapnya dingin dan mulai tidak mempedulikanku lagi.."


"Brianna Eloise, dia adalah istri dari Edmund Linford..."


Aku membulatkan mata saat kedua nama itu di sebut. Mereka adalah kedua orang tua Bastian.


"Tak mungkin, maksudmu Ayahmu dan Ibu Bastian melakukan...?"


"Benar, perselingkuhan."


Aku membelalakan mata lagi, jantungku seperti terhenti.


"Ibuku mengetahui itu secara tak sengaja, dan perselingkuhan itu terjadi saat usia pernikahan Ayah dan Ibuku yang masih menginjak 2 tahun. Alasannya karna ibuku tak kunjung mengandung, entah alasan itu benar atau tidak."


"Yang aku tahu dari kisah yang ibuku ceritakan, kecelakaan yang menyebabkan kedua orang Bastian Linford dan orang tuamu adalah..."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


WF❤️