My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
13.



Dia langsung memanggil nama ku dengan akrab begitu saja. Dasar pria arogan, tidak mau kalah.


"Baiklah langsung ke intinya, apa maksudmu membawaku kemari?"


"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bolehkah aku meminta satu hal?"


"Oke, katakan."


"Mulai sekarang saat berdua denganku kau harus memanggilku Bastian, hanya Bastian."


"Haruskah?" Jawabku dengan nada sedikit meninggi karna permintaannya sedikit mengejutkan.


"Ya, di depanmu aku hanya pria biasa bukan Boss atau tidak peduli orang lain melihat sosokku seperti apa. Aku hanya ingin di lihat sebagai Bastian di depanmu Emma."


Tatapannya itu, begitu dalam. Aku bisa merasakan ketulusan dari setiap kata yang ia utarakan.


Bagaimana tidak salah faham kalau selalu begini caranya memperlakukan aku yang hanya gadis biasa ini, haruskah aku menganggap ini hanya sebuah kekeliruan atau terbawa perasaan karna pesona kharisma yang ia miliki.


Hentikan Emma, kau tidak boleh salah mengerti. Kau dan dia seperti langit dan bumi, kalian datang dari kelas yang berbeda.


"Apa aku boleh selancang itu Tuan Bastian, walau di hatiku masih bertanya-tanya mengapa kau sampai seperti ini padaku. Aku masih mempertanyakan pada diriku sendiri, apakah kita bisa sedekat itu sampai titik di mana permintaanmu ini."


"Kau dan aku apa bisa kita sedekat itu sampai aku kau perbolehkan melewati batas yang bahkan sangat di impikan orang di luar sana."


Pria itu tersenyum pias, tubuhnya menjangkau ku tangannya menyentuh bahuku dengan lembut.


Ia melangkah dan menggiring tubuh ku mengikuti langkahnya sampailah kami di sebuah bangku taman yang tampak tua tapi sangat berkesan, kursi itu seperti telah menyimpan banyak kenangan dari orang-orang yang pernah duduk di atasnya.


Kami duduk dengan jarak yang sangat dekat, sampai aku bisa mencium aroma parfum yang sangat maskulin dan lembut di sampingnya.


"Aku tau di kepalamu yang tampak kecil ini pasti sudah banyak sekali yang kau fikirkan, Emma."


Matanya menyapu semua bagian dari kepalaku.


Dan entah karna jarak yang terlalu dekat, serta sorot matanya yang teduh wajahku tiba-tiba terasa panas. Tidak, jangan sekarang!! Aku berdebar.


"Wajahmu memerah Emma? Apakah kau demam? Apakah disini terlalu dingin?"


Seketika Pria ini menyentuh keningku, matanya cemas seakan aku sedang sekarat.


"Hentikan Tuan, aku tidak apa-apa. Ah maksudku.. Bastian."


Jantungku yang sudah berdecak tak karuan semakin menjadi, di tambah lagi tangan hangatnya menyentuhku. Aku bisa gila, jantungku mau meledak.


"Iya, mungkin karna dingin tapi tidak masalah." Jawabku mencari alasan.


Pria itu, apa yang sedang ia lakukan.


"Pakailah ini? Aku tidak terlalu dingin."


Dia melepas swetter tebalnya dan memintaku memakainya? What? Ini seperti adegan di drama-drama romantis yang pernah ku lihat.


"Emma, pakailah! Atau perlu ku pakaikan?"


"Ah tidak-tidak! Aku benar-benar baik-baik saja Bastian." Berusaha menolak dengan sopan.


"Pakailah," Ucapnya dengan sorot mata memaksa.


Aku hanya bisa menurut, bagaimana lagi aku sudah terlanjur membuat alasan dan menelan kebodohan ku sendiri.


"Terimakasih, Bastian."


Pria itu tampak senang saat aku memakai swetter miliknya.


"Kau harus menjaga kesehatanmu Emma."


Aku menggangguk pelan tak ingin membantah.


"Ada hal yang harus kau tau Emma, mungkin cerita ini sedikit akan mengingatkan mu pada mada masa lalu."


Raut wajahnya yang tadi hangat sekarang terlihat lebih serius.


"Ini kisah tentang ayahmu, Raymond Evgen."


Mataku sontak terbelalak, langsung menuju ke arah kedua mata Bastian. Mencari, memastikan, apa yang ia tahu tentang nama yang sudah lama bahkan sangat lama sampai telingaku sendiri sudah mulai asing mendengar nama itu. Terlalu pedih.


"Maafkan aku Emma, aku sama sekali bukan ingin membuka luka lama di hatimu. Tapi, kisah ini berkaitan dengan masa lalu kita."


"Kau dan aku... Kita sempat punya ikatan kecil yang sedikit rumit."


"Kita? Kau... dan aku?" Jawabku spontan.


Pria itu mengangguk, seakan banyak cerita yang telah ia siapkan. Dan itu pasti sangat penting.