My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
18.



"Apakah kau juga begitu pada Harold?"


Pertanyaan yang begitu menggelitik di hatiku.


"Hemm."


Pria itu mengangguk ringan menciptakan senyum kikuk dibibirku.


"Harold tipe yang fokus dalam pekerjaannya, dan kami bukanlah tipe orang yang suka basa basi dalam bekerja. Hal seperti itu hanya membuang waktu dan energi, mungkin kau merasa aneh saat Harold datang ke ruangan ini tapi sama sekali tak menyapa atau mengobrol denganku."


"Sebenarnya karna kepergian kita yang mendadak kemarin, aku telah banyak menunda pekerjaan yang sangat penting. Banyak yang harus ku selesaikan, begitu juga dengan Harold."


"Selama ini dia yang selalu menyelesaikan pekerjaan yang ku tunda juga merangkap sebegai sekretaris ku. Di banding aku, perkerjaan Harold lebih banyak dan rumit."


"Ah begitu ternyata," Jawabku semakin kikuk.


Pria ini mendeskripsikan segalanya, padahal maksud ku tidak sampai sedetail itu.


"Mungkin aku harus banyak beradaptasi." Ucapku pada Bastian.


"Tentu, Emma. Kau hanya perlu melakukannya dengan perlahan, lagi pula aku tak akan membiarkan mu berhenti dari pekerjaan ini. Kau tak punya pilihan selain beradaptasi dengan kebiasaanku."


Benar-benar Bos yang otoriter. Bisa-bisanya dia berkata seperti dengan gamblang kepadaku.


"Ayo kita makan siang, Emma."


"Aku tidak lapar sama sekali.. Bolehkan aku ingin mentralisir otakku sejenak disini."


"Tapi otakmu yang kecil itu juga butuh asupan nutrisi Emma."


"Tapi aku benar-benar tidak lapar."


Kruyuuuk....


Sial perutku tidak bisa ajak bekerja sama disaat seperti ini, buat malu saja.


"Sepertinya otak dan perutmu sedang tidak singkron, Emma. Begini saja aku akan menyuruh Liam mengatur makan siang kita kali ini. Kau ingin makan sesuatu yang lain, mereka akan kemari mengantarkannya."


"Hah? Tidak Bastian tidak."


"Tenanglah Emma, aku akan minta mereka membawa beberapa menu."


"Terserah apa mau mu saja, Bos." Aku menyerah.


Pria itu melempar senyum selagi sibuk dengan ponselnya.


***


Sepekan terlewati aku mulai terbiasa dengan pekerjaan ku menjadi sekretaris seorang CEO perusahaan terkemuka di negara ini.


Limford adalah perusahaan besar yang mencakup bidang jasa serta kontribusinya di industri digital, sekarang tengah merambah ke dalam bidang property dan real estate.


Menjadi sekretaris seorang Bastian Linford memang bukan hal yang mudah, selain butuh ketekunan dan kesabaran aku juga butuh banyak belajar mencari berbagai informasi. Semua hal sekarang sangat terasa berbeda dari kehidupanku yang sebelumnya.


Masalah perjalanan yang ku tempuh dari rumah juga mulai terasa melelahkan, bukan karna waktu tapi karna traumatik ku sepakin parah.


Terlebih hari ini ada kecelakaan di perjalan menuju kantor, cemasku menjadi semakin berlebihan. Aku sulit fokus saat berjalan, kurasa aku benar-benar tidak sehat hari ini.


"Bisakah kau ambilkan file yang baru kita bahas saat rapat kemarin, Nona Emma?"


"Tentu.."


Tubuhku semakin lemah, perutku seakan di aduk-aduk dan kepala terasa sangat nyeri. Semua jadi tambah tak seimbang saat aku berdiri menjangkau rak file yang tak jauh dari mejaku, dan tiba-tiba semua menjadi gelap.


"Emma!!!!" Suara terakhir yang samar-samar masih ku dengar.


Semua gelap tiba-tiba sedikit cahaya terang terlihat dari mataku, dan aku terbangun di ruangan tak asing.


Ini ruang inap rumah sakit.


Seorang pria yang ku kenal, dia Bastian yang tengah mengurut-urut kening dengan tangan kanannya. Ia tertunduk seperti kelelahan.


"Bastian, mengapa aku disini?"


"Kau sudah bangun Emma? Ya Tuhan syukurlah. Tunggu, aku akan memanggil dokter terlebih dahulu."


Bastian menyentuh pipiku dengan tangannya yang terasa hangat, lalu ia berlalu hilang di balik pintu.


Wajahnya terlihat lebih lusuh dari biasanya, jas sudah tak menempel dan dasi yang biasanya rapi terpasang saat berkerja sudah acak tak terikat lagi dengan sempurna.


Tak berapa lama ia datang dengan beberapa orang yang mengenakan jas putih, beberapa perawat menyusul di belakang.


"Bagaimana Nona Emma, apakah badan anda masih terasa lemas?"


"Sudah tidak lagi dokter.."


"Anda kelelahan dan mengalami kondisi yang disebut hipoglikemia. Biasa juga disebut kadar gula darah dalam tubuh menjadi sangat rendah. Di tambah magh juga kekurangan cairan.. "


"Iya dokter, mungkin karna saya tak sempat sarapan."


"Apakah anda mengalami stres belakangan ini?"


"Tidak dokter, saya hanya belum terbiasa' mengatur pola waktu saya dalam berkerja."


"Saya sudah resepkan obat, cairan infus juga sudah boleh dilepas. Tolong perbaiki juga pola makan dan konsumsi nutrisi tambahan seperti vitamin serta buah-buahan, dan tentunya perbanyak minum air putih."


"Baik dokter."


"Suster tolong lepas infusnya, pasien sudah bisa pulang."


"Tuan Bastian kalau tidak sibuk anda bisa keruangan saya sebentar, ada yang harus kita bicarakan."


"Tentu.."


Dokter dan Bastian pergi meninggal aku dan dua orang perawat yang tengah sibuk melepas selang infus di tanganku.


Rasanya sangat memalukan, sampai membuat riuh seperti ini. Aku harus minta maaf pada Bastian nanti.