
Ya Tuhan badanku sakit semua, aku melihat ke sekeliling ruangan. Ruangan yang asing aku di mana? ini bukan kamarku.
"Kau sudah bangun Emma? apa tidur nyenyak?"
Aku reflek langsung terduduk, suara ini benar-benar tidak asing. Ini suara Bastian, apakah aku sedang bermimpi? atau ini benar-benar kenyataan? aku mendengar suara Bastian berada di dalam satu kamar yang sama bersamaku.
Dan benar saja pria itu sedang duduk di sofa dengan dengan tangan yang sedang sibuk memegang gawainya.
Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi sebelum aku berada di kamar ini. Sekarang aku mengingatnya, aku hanya ingin tidur sebentar di sofa ruang tengah apartemen Bastian dan sekarang aku malah terbangun di dalam kamar bersama Bastian.
seketika aku langsung memukul kepalaku, dasar bodoh kau Emma. Aku pasti tertidur dengan sangat lama hingga tak menyadari Bastian sudah pulang ke rumah.
" Hey! Ada apa denganmu?"
"Aku hanya sedang mengutuk kebodohanku, bagaimana bisa aku tertidur tanpa menyadari kau sudah pulang? Aku pasti sudah tidur seperti orang mati."
"Tidak masalah Emma, lagipula kau terlihat sangat lelah aku tidak tega membangunkanmu. Apakah kau nyaman? tidurmu nyenyak?"
Aku hanya bisa menggangguk malu.
"Jam berapa sekarang?" Tanyaku dengan pikiran yang benar-benar masih kacau ini.
"Jam 10 Malam."
"Apa!??"
Bastian tersenyum,
"Aku pasti sudah gila tertidur selama itu! Aku harus bergegas, aku dan casey udah berjanji untuk bertemu malam ini."
"Kau tidak perlu memikirkan itu lagi aku sudah mengangkat telepon dari Casey, dan mengatakan kau tidur di rumahku malam ini, dia menjawab akan menemuimu besok malam."
"Kau bilang apa padanya Bastian? Kau katakan padanya aku tidur di rumahmu, habislah aku!!"
"Aku tidak ingin berbohong padanya, aku mengatakan yang sebenarnya. dimana salahku?"
"Kau tidak salah tetapi kalimatmu itu bisa mengartikan hal yang berbeda."
"Coba kau jelaskan apakah maksud dari arti yang berbeda itu?"
"Casey bisa berfikir aku menginap di rumahmu."
"Lalu?"
"Dia pasti berfikir yang tidak-tidak."
"Apanya yang tidak-tidak, kau hanya tidur. Tenanglah!"
"Kau sungguh tak mengerti apa pendapat orang lain Bastian."
"Sudah-sudah tenangkan dirimu, aku yakin Casey tak akan mengatakan apapun yang buruk jika dia benar sahabatmu."
"Casey bukan orang seperti itu.."
"Kalau begitu apalagi yang kau khawatirkan?"
"Aku hanya gugup karna ini pengalaman pertamaku tidur di rumah pria."
Aku sangat sedih, ini semua karna kebodohan ku sendiri. Harusnya aku tak terfikir untuk tidur sejenak mengingat kemarin kegiatanku terlalu banyak.
Bastian menghampiriku, pria ini sedang berusaha menenangkan aku. Dia sedang mengusap pucuk rambutku, sebenarnya itu membantu perasaanku menjadi sedikit lebih nyaman.
"Ayo kita makan malam dulu.." Ajaknya.
"Aku lapar..." Balasku.
"Aku tahu kau sudah melewatkan jam makan siangmu tadi dan kau tertidur dengan sangat lama."
"Aku mau pizza, aku juga mau kentang goreng dan colla."
"Berhentilah makan makanan yang tidak sehat Emma, bagaimana kalau kita cari restoran yang enak."
Aku hanya bisa menggangguk, entah karna kesadaranku yang belum sepenuhnya pulih. Atau juga karena perutku yang terasa sangat lapar rasanya tubuhku tidak nyaman sama sekali.
Akhirnya kami sampai di sebuah restorant dan memesan beberapa hidangan berat dan beberapa sup hangat.
Karna tidak sabar aku langsung melahap makanan,
"Hentikan itu Emma, di mulai dengan sup hangat. Perutmu kosong sejak siang tadi, nanti perutmu bisa sakit."
"Tapi aku benar-benar lapar."
"Aku tahu, tapi kau harus memperhatikan kesehatan mu. Ayolah makan sup hangat ini dulu agar perutmu terbiasa, baru nanti kau boleh makan makanan yang kau suka."
"Tapi Bastian..."
"Ayolah jangan merengek, kita masih punya waktu yang banyak untuk menghabiskan semua makanan ini."
"Baiklah.." Lagi-lagi aku kalah dengan pria ini.
"Makanlah dengan perlahan, oke."
Aku mengangguk kecil tak bisa melawan.
30 menit berlalu, perutku pun sudah penuh.
"Akhirnya aku terhindar dari kelaparan.."
Bastian terkekeh sambil memalingkan wajahnya.
"Aku penasaran, bagaimana kau tau aku belum makan siang." Ucapku benar-benar penasaran.
"Harold menceritakan semuanya, dia juga menitipkan pesan bahwa sudah mengantar temanmu pulang, dia mengurus temanmu itu dengan baik."
"Syukurlah, aku tenang. Ini kali pertama kami berjumpa setelah sekian lama tapi sepertinya waktunya tidak tepat."
"Sudah berapa lama kau mengenal anak itu?"
"Jangan memanggilnya 'anak itu' namanya Casey. Aku mengenalnya sejak memulai kuliah, Casey selalu ada untukku di saat aku di posisi sulit sekalipun. Walau dia bisa mengejar karirnya lebih tinggi Casey tetap memilih berada di dekatku."
"Aku agak merasa tak adil baginya saat kau memintaku berkerja disini, tapi dia malah senang dan mengatakan ia bahagia untukku. Aku tak boleh menghianati rasa sayangnya padaku dengan hati yang setengah-setengah, walau ragu akhirnya aku memutuskan untuk serius bekerja denganmu Bastian."
Bastian melepas nafas kasar.
"Mulai sekarang aku akan sangat cemburu pada casey."
Aku mengerutkan kening,
"Apa maksudmu Bastian."
"Tentu, rasa cemburuku itu tidak sebanding dengan rasa terima kasihku padanya. karena saat aku tidak ada di waktu sulitmu, dia ada menggantikan itu."
Lagi-lagi Bastian mengatakan hal-hal yang membuat hatiku terus bergetar.
"Mulai sekarang aku akan menganggap kebahagiaan Casey adalah kebahagiaanku juga. karena saat Casey membuatmu bahagia, aku juga merasa lebih bahagia dari siapapun."
Bastian ucapan mu benar-benar..!