My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
10.



Sudah 20 menit berlalu, pria es kutub utara itu memintaku menunggunya 'sebentar' dan waktu sudah berlalu selama itu.


Aku tak bisa membantah, sudah ku bilang kalau masih sibuk aku akan turun dan nanti akan menemuinya lagi. Tapi matanya yang tajam pertanda tak suka di bantah, membuatku masih duduk menunggunya di sofa yang syukurnya sangat nyaman ini.


Nuray juga belum membalas pesanku, mungkin dia sudah masuk kedalam ruangan dimana test wawancara itu di laksanakan.


Aku sudah mengiriminya pesan, kalau aku ada urusan sebentar dan harus pergi. Semoga urusanku dengan monster ini cepat selesai dan aku bisa pulang tepat waktu bersama Nuray. Akan tidak nyaman baginya kalau harus menungguku.


"Sepertinya raut wajah anda mulai kesal, Nona Emma."


Ku lepaskan panah mataku secara tajam ke arahnya, tanpa dijelaskan dia tau pasti mengapa aku kesal begini.


"Ayolah, maaf. Pekerjaanku sekarang selesai."


"jadi?" Tanyaku ketus.


"Jadi?" Ucapnya mengulang dengan persis apa yang ku katakan.


"Ya, jadi.. Apa yang ingin anda sampaikan?" Tanyaku lebih serius.


"Apakah tadi saya bilang akan menyampaikan sesuatu pada anda, Nona Emma?"


Astaga!! Ini menyebalkan.


"Tadikan anda bilang ada pembicaraan lain pada saya, Tuan Linford!"


"Benar, itu maksud saya. Kita mungkin ada pembicaraan lain, tapi tidak ada hal yang ini saya sampaikan." Elaknya.


Pria ini sepertinya senang sekali mempermainkan ku. Tahan Emma, tahan.


Fiuuuhhh, ku buang nafasku perlahan.


"Baiklah.. Kalau sekiranya tidak ada yang akan kita bicarakan, saya permisi dulu Tuan Linford." Ucapku dengan senyum palsu.


"Apa kau tidak ingin menanyakan kabarku Nona Emma?"


Apalagi ini!!!! Dia memutar pertanyaanku dengan pertanyaan yang tak penting.


"Anda terlihat sangat sehat Tuan Linford." Jawabku enggan.


"Tubuhku terlihat sehat tapi pikiranku sedang kacau dan kewalahan Nona Emma." Ucapnya terdengar serius.


Walau aku tak peduli sama sekali atas apa yang ia katakan, tapi aku menangkap apa yang ia katakan adalah sebuah keterus terangan.


Tapi apa pedulinya dengan itu, aku tak punya kata-kata untuk menghiburnya. Atau sebenarnya apa tujuan dari pria ini menceritakan tentang keluhannya pada orang seperti aku.


"Tidurlah dengan cukup, perhatikan kesehatan anda." Ucapku tiba-tiba.


Mata pria arogan itu langsung menatapku sempurna, astaga.


Lihat, dia seperti salah menerima maksud ucapanku dan mulai memainkan senyum kebanggaannya.


"Baiklah akan ku ingat nasehat mu, Nona Emma."


Jangan..!!! Jangan salah faham atas ucapanku, itu hanya bentuk perhatiaan biasa karna kasihan. Bukan karna rasa peduli dengan maksud lain.


Ingin ku katakan itu, melihat reaksi pria ini yang tiba-tiba senyum berkembang. Mengapa sekarang setiap reaksi dari pria ini begitu penting bagiku.


Aku pasti sangat takut sehingga setiap apapun yang keluar dari raut wajahnya sangat berdampak padaku.


"Saya benar-benar minta maaf Tuan Linford, kalau tidak ada hal yang perting lagi saya harus pergi. Saya tidak ingin teman saya menunggu karna saya sudah berjanji menemaninya."


"Bagaimana kalau teman mu itu diantar pulang oleh supir saya, dan kau tetap disini Nona Emma."


"Ha? Itu akan terdengar sangat aneh Tuan, bukan ingin menolak kebaikan anda pada teman saya. Tapi, apa yang akan teman saya pikirkan.."


"Biarkan saya yang memikirkan itu Nona Emma."


"Tapi Tuan,"


Entahlah hal konyol apa lagi ini, tapi dengan bodohnya aku hanya bisa mengikuti kemauannya tanpa bisa membantah.


***


Setelah menerima pesan dari Nuray yang sepertinya malah terdengar senang, tanpa mengetahui apa yang telah di rencanakan Tuan Linford sehingga bisa dengan mudah begitu saja Nuray menurut.


Aku telah kehilangan kata-kata, dan sekarang akupun telah duduk dengan manis di dalam mobil mewah milik CEO Kaya raya ini.


Seperti sapi yang di cocok hidungnya, semua penolakanku tidak berlaku. Aku yang pandai bicara dan berkelit ini seperti tidak ada apa-apanya. Pria arogan, dominan dan cenderung implusif ini seperti telah memanipulasi pikiran ku.


Entah apa yang ada di pikirannya, aku benar-benar tidak bisa menebak sedikitpun.


"Kalau saya boleh tau Tuan Linford?"


Tanyaku memecah kebisuan,


"Katakan, Nona Emma."


"Bukan karna terlalu percaya diri, apa anda tertarik pada saya?"


Entah keberanian macam apa, tapi aku tak bisa membendungnya lagi.