
"Emma..!!!"
Casey membuyarkan lamunanku. Pikiranku benar-benar sedang tak karuan, entahlah mungkin ini yang dinamakan 'dimabuk cinta' aku mulai tak fokus pada apapun lagi setelah terakhir kali bersama Bastian saat itu.
"Katakan padaku? Kau dan Bastian bertengkar?"
"Tidak Casey, tidak.."
"Lalu, sedari tadi kau hanya diam dan sama sekali tak mendengarkanku."
Casey memajukan bibirnya tampak kesal.
"Maafkan aku, jangan marah okay! Aku akan mendengarkanmu kali ini."
"Katakan padaku sebenarnya apa yang terjadi padamu? Mengapa kau jadi begini?"
"Aku?" Tuhan, bagaimana memulainya aku malu.
"Lihatlah wajahmu memerah Emma! Jangan-jangan... Sudah terjadi sesuatu yang sudah seharusnya terjadi! Benarkah?" Wajah Casey sangat excited.
"Apa maksudmu Casey!!" Aku jadi panik saat melihat raut Casey yang tampak aneh itu.
"Katakan padaku, kalian sudah melakukan skinship?" Mata Casey menerka-nerka tak sabar mendengar jawaban dariku.
"Tentu, siapa pasangan yang tidak melakukan itu!!" Jawabku agak lantang, tak ingin harga diriku jatuh di hadapannya.
"Hahahaaaa...!!"
Casey tertawa puas, matanya seperti takjub sekaligus tak percaya.
"Bukankah kau juga begitu dengan Harold?" Aku membalikan pertanyaan untuk meringankan tekanan pada hatiku.
"Tentu Emma, tapi sejauh yang ku tahu kau tak pernah melakukan itu pada pria lain. Kalian hanya menghabiskan waktu pada handphone, atau kencan buta seperti anak kecil yang bodoh. Lalu seminggu kemudian kau akan merengek kalau mereka meninggalkan mu begitu saja."
"Kau kan tau aku tak punya waktu untuk punya hubungan yang serius. Mengapa kau jadi mengungkit masa laluku Casey!!"
Casey bodoh, mengapa dia menceritakan hal yang ingin ku lupakan itu.
"Bukan begitu, kau jangan kesal. Aku terlalu terharu kau sudah sampai ketahap itu. Aku juga bahagia Emma, percayalah!"
Casey mengusap lenganku, tatapannya tak lagi mengolokku.
"Sebenarnya aku sangat merindukan Bastian, tapi entah mengapa dia terlalu sibuk belakangan ini. Tadinya, Bastian seperti tak ingin melewatkan waktu saat bersamaku tapi sekarang bahkan seharian aku tak bisa melihatnya."
"Bukankah Bastian sibuk bekerja?"
Aku menggangguk.
"Lalu mengapa kau resah..?"
"Seperti yang ku katakan aku rindu!"
"Sudah berapa Bastian seperti ini?"
"Hmm, 3 hari. Itu karna jadwalnya yang semakin sibuk dan aku tak bisa menemaninya karna aku juga harus menyelesaikan banyak hal lain."
"Astaga Emma, bukannya kau terlalu berlebihan? Tapi aku mengerti, aku di pihakmu kau tau? Hanya saja.. Saat kau menjalin hubungan kau juga harus bisa mengontrol egomu. Apalagi untuk hal-hal yang urgent seperti ini, aku yakin Bastian juga sama sepertimu tapi dia berusaha mengontrolnya. Kau juga harus mendukung Bastian sepenuhnya, kau mengerti?"
Aku melihat ke curuk mata Casey, aku rasa Casey benar.
"Tapi bagaimana caramu saat kau mengalami hal yang serupa denganku? Harold juga manusia yang sangat mengutamakan pekerjaan."
"Ku beri tahu satu hal, saat merindukannya aku menahan sekuat hatiku. Lalu saat kami bertemu, kami mencurahkannya habis-habisan sampai tak tersisa lagi apapun selain kesenangan."
Aku pikir maksud Casey adalah sesuatu yang ada dalam pikiran terliarku.
"Apa yang kau maksud itu..." Ucapku selagi mendekatkan mulut ke telinga Casey.
Aku membisikan pada Casey suatu hal yang orang dewasa sering lakukan. Lalu Casey tersenyum dengan kedua alis yang di naik turunkan.
"Lalu itu akan menjadi malam yang sangat panas dan brutal. Kami pernah melakukannya sampai pagi, saat hampir 3 minggu kamu tidak bertemu."
Aku menelan ludah kasar mendengar perkataan Casey, tak terbayangkan. Aku dan Bastian?? Melakukan 'hal itu'? Tidak mungkin!
"Kau terlihat sangat tegang Emma, bukankah kalian sudah melakukan skinship?"
"Hal terliar yang pernah kalian lakukan?" Casey semakin penasaran.
Casey benar-benar seperti detektif yang sedang mengorek-ngorek rahasiaku, dan tanpa ragu-ragu aku membisikkan hal yang pernah Bastian lakukan di kantornya padaku saat itu.
"Hahh??" Casey membulatkan mata dan membukam mulutnya. Reaksinya mendengar apa yang ku bisikkan membuatku jadi salah tingkah.
"Apakah aku terlalu membiarkan Bastian melakukan semaunya???" Jantungku sedang tak baik-baik saja sekarang, takut Casey akan memarahiku.
"Luar biasa!!! Bastian pria yang hebat!!" Ucap Casey dengan mengacungkan ibu jarinya.
Casey gilaa!! Aku ketakutan hampir mati, dia malah memuji prilaku Bastian.
"Aku kira kau akan memaki ku, sial!" Ucapku sambil menyapu dada berulang kali.
"Hahahaa...! Tenanglah, Emma. Sebentar lagi umurmu 27tahun, semua teman kuliah kita menyebutmu nenek-nenek, karna kau masih perawan di usiamu sekarang. Jika kau sudah melakukan hal yang kau bisikan tadi bersama Bastian, kau mungkin tidak akan canggung saat melakukan 'hal itu' bersama Bastian nanti."
Plak! Aku memukul keras bahu Casey saat raut wajahnya menggodaku.
"Aww!!" Pekiknya.
"Jangan memikirkan yang tidak-tidak Casey! Aku hanya akan melakukannya di saat aku sudah siap."
" Siap tidak siap kau akan tetap jatuh kedalam pelukan Bastian, kau hanya mengulur waktu." Ledeknya lagi.
"Sudah-sudah hentikan, jangan di bahas lagi. Kalau tidak aku tidak akan mengijinkanmu menginap disini malam ini." Sungutku kesal.
"Tidaak... Jangan marah Emma, aku hanya menggodamu. Aku sedang tidak ingin melihat wajah Ayahku dalam minggu ini, dia terus menerorku untuk menikah."
Ya, Casey berencana menginap di apartemenku dalam minggu ini karna masalah yang sama. Ia sedang bersitegang dengan sang Ayah.
"Lalu mengapa tidak kau bawa saja Harold kehadapannya!" Ketusku.
"Aku belum siap,"
"Apa maksudmu? Harold itu pria bertanggung jawab kau tau?" Sautku lagi.
"Tentu, hanya saja..." Raut Casey tampak bimbang.
"Katakan Casey.." Desakku semakin penasaran.
"Kau tau Ayahku orang yang sangat keras, aku takut Harold tak berhasil menghadapinya."
"Kau meragukan kekasihmu?"
"Bukan begitu Emma, kau tau aku pernah begitu di cintai seorang pria dan Ayahku menolak untuk merestui hubungan itu, kemudian dia mundur dan mencampakkan ku. Aku tak mau itu terjadi lagi, lagi pula hubungan kami masih sangat awal. Aku ingin menikmatinya dan tak ingin membebani Harold."
Aku memeluk Casey, aku tau itu adalah masa lalu terkelam baginya. Saat seluruh jiwanya hilang dan hancur karna seorang pria, aku tak bisa menyalahkan siapapun karna masalah restu adalah hal yang penting bagi siapapun.
Orang tua adalah orang yang membesarkan kita dengan penuh cinta dan dialah yang paling tau hal yang terbaik untuk anaknya, sedang aku yang tak merasakan itu tak berhak menghakimi orang tua Casey ataupun pria yang menghancurkan hati Casey, karna menjadi lelaki yang tak diinginkan orang tua sang kekasih pasti sangat menyakitkan.
Disaat yang sama rasa cinta dan rasa rendah diri terus saling menghunus di hati, perasaan seperti itu juga akan terasa membunuhmu waktu demi waktu.
Mungkin belum berjodoh, cinta yang istimewa akan datang dengan cara dan waktu yang tepat. Mungkin butuh waktu, butuh kesabaran, tapi jika bisa bertahan sekuat itu.. Seorang yang telah di persiapkan Tuhan akan kita temui dengan jalannya sendiri dan dengan takdir yang lebih indah.
Mungkin seperti kisahku dan Bastian, aku rasa... Aku harus lebih banyak bersyukur mulai saat ini.
Akhirnya aku kami menyerah dalam perdebatan konyol tadi, aku mengajak Casey untuk berganti baju dengan piyamaku. Kami bercakap hal-hal ringan hingga tengah malam dan terlelap kemudian.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 😉 moga bisa up tiap hari😢 Biar cepet kelar🙃