My Boss, My Boyfriend

My Boss, My Boyfriend
15.



Entah nyata atau tidak, air mataku tak bisa terbendung walau aku mencoba menghapusnya berkali-kali.


"Apakah kau punya kenangan yang tersisa tentang orang tuaku Bastian?"


"Tentu, aku masih menyimpan beberapa barang dan foto peninggalan orang tua kita Emma."


"Bolehkah aku melihatnya?"


Bastian berdiri dan menawarkan tangannya untuk meraih genggamanku. Kami melangkah meninggalkan kursi tua yang memberikan ku kisah baru.


***


"Pakailah, hapus airmata mu Emma.."


Aku mengambil sapu tangan dari tangan Bastian, sapu tangan itu bercorak khusus seperti sapu tangan custom yang hanya di buat khusus untuk satu orang.


Karna terlalu malu memperlihatkan kesedihanku, aku hanya bisa menunduk selagi menyeka air mata yang sepertinya tak ingin berhenti.


Bagaimana tidak, album yang terlihat tua dan masih sangat terpelihara sehingga tak usang sama sekali. Di situ terpampang lembar demi lembar potret orang tuaku, dan sepasang suami istri lain yang tampak bahagia. Tak ada raut susah atau sedih sedikitpun yang tergambar dari raut wajah mereka.


Awalnya terasa asing, dan kelamaan muncul samar-samar seperti bayangan dejavu dari masa lalu.


"Mungkin kau sulit mengingat, waktu itu kau masih berwujud gadis kecil nakal yang tak bisa diam."


Aku lantas melirik tajam kearah Pria yang tak bisa melewatkan hal sedikitpun untuk tidak merundungku.


"Cih.." Keluhku.


"Entah mengapa aku masih tak menyangka kau bisa tumbuh secepat ini, ini kesalahanku karna terlalu lama mencarimu Emma. Maafkan aku.."


Wajahnya yang tadi jelas-jelas terlihat jahil secepat itu menjadi datar. Dimatanya tergambar jelas penyesalan.


"Bagaimana aku bisa menyalahkan mu karna ketidak beruntunganku Bastian, tapi aku sangat menghargai waktu yang sudah kau curahkan untuk mencariku. Terimakasih.."


"Ah, kau memang sudah dewasa.. Bagaimana aku bisa menganggapmu gadis kecil yang masih mengompol di celana dulu."


"Kalau kau masih mengungkit bagaimana masa kecilku dulu aku akan mematahkan kedua kakimu, Pak CEO."


"Hahaha, kau masih bisa menantangku dengan hidung yang penuh dengan ingus itu."


"Dasar kau..."


" Ada apa Tuan Sergei?" Tanya Bastian memastikan kedatangan Pria tua itu.


"Maaf kalau saya mengganggu waktu Tuan besar dan Nona Emma, tapi sedari tadi telfon genggam milik Nona Emma berdering tanpa henti. Sepertinya ada yang penting Tuan Besar."


"Ah.. iya berikan padaku Tuan Sergei, terimakasih sudah mengantarkannya kemari." Ucapku memotong pembicaraan mereka.


"Tentu Nona Emma."


Setelah melihat Tuan Sergei pamit undur diri, aku melihat begitu banyaknya panggilan tak terjawab. Astaga Bibi..


"Sial aku lupa mengabari Bibi Agatha, pasti dia sekarang kebingungan mencariku."


"Tenanglah Emma.. Nanti akan ku carikan alasan yang tepat pada Bibimu saat mengantarmu pulang. Sekarang kau hubungi dan tenangkan saja dulu Bibimu..."


***


Harusnya aku tak percaya ucapan dari bajingan tengik ini. Dalam sekejap ia bisa memperdaya Bibi Agatha dengan bualan manisnya.


"Aku sangat senang kalau sekarang Emma bisa di terima di perusahaan anda Tuan Besar, saya tidak menyangka perusahaan besar dan sangat terkenal itu mau menerima orang biasa seperti kami."


"Tidak, jangan bicara seperti itu Nyonya Agatha. Saya yang sangat beruntung bisa mendapatkan orang yang sangat kompeten seperti Emma menjadi sekretaris saya."


"Dan.. Maaf sekali lagi karna kemarin perkerjaan yang sangat mendadak membuat Emma harus tiba-tiba saya bawa ke luar kota dan tidak sempat mengabari anda."


"Jangan sungkan Tuan Besar, saya tidak masalah selagi alasan itu berkaitan dengan tanggung jawab pekerjaan Emma. Sekali lagi saya sangat senang Emma di terima di perusahaan milik anda."


"Tentu saya yang merasa lebih beruntung, Nyonya Agatha.."


"Kalau begitu silahkan di minum tehnya Tuan Besar, maaf dengan jamuan yang serba sederhana ini."


"Sama sekali tidak ada yang kurang dalam jamuan yang anda buat Nyonya Agatha.."


Ya Tuhan, rasanya aku ingin muntah dengan akting Si Tuan besar ini. Sekali mendayung, dua tiga pulau yang terlewati. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kelihaiannya.


Dalam usahanya mendapatkan simpati Bibi Agatha, ia juga sekaligus membuat aku mau tak mau menerima tawaran kerja yang masih ku timbang-timbang itu.


Dasar otak bisnis, ia selalu mengambil keuntungan dari apa yang di lakukannya.


Sial, lagi? Aku terjebak.