
"Gavin Leoline."
"Bastian Linford."
Aku tak berhenti mengiring bola mataku kekanan dan kekiri, menyaksikan Bastian dan Gavin? apa? Gavin Leoline?? mereka berjabat tangan.
Benarkah dia selama ini Gavin yang ku kenal? Gavin??
Aku lebih terkejut lagi saat Gavin mengedipkan sebelah matanya padaku, di sela-sela hiruk pikuknya aula rapat ini.
Gavin dengan setelan jas serta rambut tertata, gesturnya yang berbeda. Aku seperti melihat 2 orang yang berbeda dalam satu kemasan.
"Perkenalkan Tuan Leoline, Ini Nona Edelsteen sekretarisku." Ucap Bastian memperkenalkan aku pada Gavin, ia sama sekali tak tau aku sudah mengenal Gavin jauh lebih dulu.
Gavin mengulurkan tangan, aku hanya bisa mengikuti alur konyol ini dan menjabat tangannya.
"Hai, Nona Edelsteen." Sapanya dengan senyum miring yang tak bisa ku mengerti
Aku hanya bisa mengangguk sopan, benar-benar kehabisan kata-kata.
Setelah semua duduk di kursi rapat, aku memulai sebagai moderator.
Semua berjalan lancar seperti apa yang kuharapkan, walau di awali dengan rasa canggung karna kurang fokus melihat Gavin yang terus mencuri pandang padaku, akhirnya aku bisa menyelesaikan alur rapat dengan sempurna.
Jujur, aku baru berkecimpung di bidang ini dan tugas utamaku hanya mempersiapkan beberapa dokument dengan data yang telah disiapkan. Aku tak begitu mengerti apa yang mereka bahas, tapi aku berusaha semaksimalku.
Tapi yang paling menyenangkan bisa memahami garis besar tujuan diadakan rapat ini, Bastian ingin menggait semua perusahaan-perusahaan serupa sebagai partnernya.
Alih-alih seperti mengumpulkan pemimpin singa pada satu kandang, tapi Bastian merubahnya menjadi mitra. Gila, kecerdasan setinggi apa yang dimiliki kekasihku itu? Benar-benar membuatku bangga.
Semua perusahaan yang bergabung selain mendapatkan keuntungan melalui jalur investasi saham juga akan mendapatkan keuntungan lain seperti memperbesar pangsa pasar dengan nama Linford yang telah mendunia.
Hal seperti ini juga bisa mendatangkan investor yang lebih banyak lagi, dari belahan dunia manapun.
Sekali mendayun 2-3 pulau terlewati. Mekanisme politik bisnis yang sangat cerdas.
Akhirnya setelah rapat, Bastian mengantar dan beramah tamah dengan mitra bisnisnya yang akan pulang. Aku memilih membawa tumpukan file penting dan membawanya ke kantor.
"Nona Edelsteen.."
Aku memutar pinggang mencari sumber suara yang tak asing. Gavin??
"Bukannya kau sudah pergi tadi?" Ah.. intonasiku masih belum terbiasa formal padanya.
"Aku menunggumu, kau terlalu sibuk membereskan sisa-sisa rapat tadi. Aku tak ingin mengganggumu."
"Kau masih saja terlalu manis untuk ukuran calon CEO Gavin."
"Jangan memandangku dengan cara yang berbeda Emma, maaf aku tak bermaksud membuatmu terkejut. Aku juga tak menyangka kau adalah sekretaris dari Tuan Linford. Itu sangat mengejutkanku."
"Tapi reaksi yang ku tangkap darimu terlalu santai untuk ukuran orang yang terkejut Tuan Leoline." Balasku mencibir.
"Aku hanya berusaha membuat suasana tidak canggung tadi."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan berusaha menerima alasanmu. Kalau begitu aku harus undur diri karna ini masih merupakan jam sibukku." Entahlah mengapa aku tiba-tiba kesal padanya.
"Kau tidak kecewa padaku kan Emma?"
"Kecewa? Apa maksudmu?"
"Karna aku tak memberi tahumu sebelumnya tentang ini."
"Tidak, lagi pula kita tidak sedekat itu untuk menceritakan hal pribadi. Aku harus pergi karna tanganku semakin pegal membawa dokumen-dokumen ini Gavin."
"Maaf aku jadi menyita waktumu, kalau begitu pergilah."
Aku hanya menggangguk lantas meninggalkan Gavin begitu saja. Aku pikir aku bisa mengandalkannya sebagai sahabatku karna aku sudah berbagi rasa sedihku saat itu. Tapi kini memandang statusnya aku tak punya keberanian lagi.
****
"Mengapa memanggilku sayang saja tidak mau?" Rengek Bastian menggelayutiku.
"Dulu kau memintaku memanggilmu dengan nama saja, sekarang kau merubahnya lagi."
"Itu lumrah saat pasangan saling menyebut itu sebagai panggilan."
Aku menahan tawa mendengar rengekan Bastian. Sekarang ia 360 derajat berubah, manja dan selalu ingin menyentuhku. Dia tak rubahnya seperti anak kecil yang sedang meminta permen.
"Kau tak malu bersikap begini? Dari tadi menempel bahkan tidak membiarkan aku makan diluar. Bagaimana kalau ada yang melihatnya, ini kantor."
"Di lantai gedung ini hanya ada ruanganku satu-satunya, tidak semua staf yang tidak berkepentingan bisa masuk sesuka hati mereka. Lantas apa lagi yang perlu ku takutkan untuk sedikit mesra dengan kekasihku seperti ini?"
Bastian mencubit ringan kedua pipiku.
"Kau nakal Bastian..!"
"Aku hanya ingin merasakan perasaan seperti ini sejak lama, dan aku tak ingin melewatkan sedikitpun waktu saat berdua denganmu."
"Aku hanya ingin kita sedikit menjaga batasan saat bekerja, walau bagaimanapun sebagai seorang CEO kau adalah panutan di perusahaan ini."
"Aku tak ingin ada batasan saat bersamamu, dan aku juga tidak pernah memberi batasan pada semua kariawanku untuk menjalin hubungan asmara. Mereka boleh berkencan dengan sesama kariawan lainnya, jadi aku tidak punya alasan apapun untuk merasa gelisah."
"Benarkah? Bukannya pacaran di kantor itu agak berisiko.. Jika hubungan mereka bermasalah, itu bisa mempengaruhi kinerja mereka pada perusahaan."
"Tentu saja aku sudah memberi peringatan, jika terjadi masalah mereka harus suka rela menanggung resiko untuk di pindah tugaskan ke cabang perusahaan lain."
"Apakah sudah ada yang melakukan itu? di pindah tugaskan?"
"Sejauh ini tidak ada, siapa yang berani berulah di perusahaan terkemuka seperti ini? Bukankah akan merugikan diri sendiri?"
"Ah ya kau benar, aku pikir tidak akan ada yang berani.."
"Jadi? Setelah obrolan kita yang panjang ini sudah bolehkah aku mendengar kau menyebutku 'sayang'?"
Aku tak bisa menahan tawa, fokus Bastian benar-benar tak teralihkan bahkan setelah banyaknya pertanyaan yang ku ajukan. Kedua matanya yang kehijauan ini tak berajak dari pandanganku, tentu saja tajam dan menuntut.
"Sayang..."
Bastian langsung tersenyum.
"Apa? Katakan lagi aku tak begitu jelas."
"Sayaang..!" Ucapku lebih keras.
"Katakan sekali lagi,"
"Apa aku harus menggunakan pengeras suara agar kau puas?"
Bastian lantas terkekeh, di cubitnya lagi pipiku dengan raut penuh kebahagiaan.
"Panggil aku sayang mulai saat ini, terutama saat kita bersama."
"Baiklah, sayang."
Tentu saja, Bastian meluncurkan kecupannya dan berakhir dengan ciuman kami yang semakin menuntut. Aku tak terkejut lagi walau dadaku masih berdebar-debar seperti biasanya, sekarang aku merasa semakin ahli dan bisa mengimbangi Bastian.
Kami saling mencurahkan cinta dengan pemandangan kota Agithum sebagai saksi bisu betapa Bastian begitu menggebu, nafas kami bersautan saat kami semakin terhayut dalam pagutan.
"Kau membuatku candu Emma."
"Kau membuatku gila Bastian."
Bastian mengecupku, tidak! Lebih seperti, mengigit. Aku bisa melihat ia mulai hilang kendali, Bastian bertubi-tubi melayangkan kecupannya di leherku.
Perasaan macam ini, aku merasa ini mulai di luar kendali. Panas, nafasku mulai tak beraturan..
Jangan! Bastian, hentikan itu. Ketika tangannya melakukan sesuatu yang membuat aku melayang, aku ingin menghetikannya tapi ucapan itu hanya berakhir dalam leguhan nafasku yang semakin gila.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf baru up, masih dalam suasana mempersiapkan lebaran dan kesulitan membagi waktu:'(
maapkeun ya readersku.😚