
Begitulah hukum dunia, saat kau meminta sedikit saja hal yang baik agar hatimu semakin kuat. Tapi yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, kesedihanlah yang datang. Karna bukan kita yang menentukan dengan cara seperti apa kita akan kuat.
Di-Atas sana sudah ada yang mengarahkan waktu, mengarahkan cerita agar sesuai dengan alurnya.
Di akhir musim panas, Paman Anthony akhirnya berangkat dengan damai. Luka di hati yang ku kira sudah mengering lama, basah.
Aku tetap tak bisa menguasai emosi dan perasaan ini. Pernah menjadi saksi dari kepergian kedua orangtua tepat di depan mataku sendiri, kali ini pun tak jauh beda hanya caranya saja yang tak sama. Nyawa tetap terenggut oleh kematian.
Maaf aku tak bisa memeluk Bibi Agatha, karna kepedihan di hatiku sendiripun tak berhasil ku tangani.
Menatap kain yang menutupi wajah pucat Paman Anthony kala itu kakiku seperti tak terasa lagi, aku limbung.
Tangan Bastian kokoh menopang, aku bersyukur akan kehadirannya. Walau tak mengurangi rasa sakit di hatiku sama sekali, setidaknya dia bisa membuatku tak merasa sendiri melalui semua ini.
Hari demi hari Bastian mengunjungiku dan Bibi Agatha, ia tak sendiri terkadang Casey pun datang dan menginap.
Sebulan berlalu, Bibi Agatha pamit kembali ke Beeqo. Ia ingin membawa abu Paman Anthony ke sana, menempatkannya di makan yang seharusnya menjadi tempat ia disemayamkan.
Bibi Agatha juga ingin menghabiskan masa tuanya disana, ia ingin mulai berjualan lagi dan menghabiskan sisa hidupnya dekat dengan makam Paman Anthony.
Aku tak bisa berkata banyak walau aku ingin Bibi Agatha tetap disini menemaniku, tapi aku juga tak bisa melakukan semuanya dengan hanya menuruti keinginan pribadiku semata.
Bibi Agatha juga punya hak atas kehidupan yang ia inginkan, dan dengan cara yang ia mau.
Aku melepas kepergian Bibi Agatha dengan senyum palsu, Bibi mengatakan jika saat aku tak bisa menangani masalah apapun itu nantinya, datanglah padanya. Ia akan menerimaku kapan saja, ia juga akan memelukku semalaman.
Aku membendung mataku dengan kuat saat itu, setelah mengantar Bibi Agatha pergi aku menangis sejadinya di dalam Apartement.
Bertahanlah Emma, hari esok pasti lebih baik lagi. Badai tidak datang setiap hari, dan selepas badai pergi akan ada langit yang indah.
****
Aku terbangun saat berulangkali bel Apartementku berbunyi, rasanya mataku masih enggan untuk terbuka tapi aku juga tak tahan mendengar suara bel yang tak kunjung berhenti itu.
Aku tertidur cukup lama dari sore setelah mengantarkan kepulangan Bibi Agatha tadi, dan sekarang jam dinding menunjukan tepat pukul setengah sembilan malam.
Aku melangkah cepat seraya mengikat rambutku yang lumayan acak. Bastian? Pria itu yang terlihat di layar kamera pintu rumahku.
Aku membuka pintu dan sontak saja pria ini memelukku sangat erat. Tentu saja aku sangat terkejut.
"Kalau semenit saja lagi kau tidak membukakan pintu, aku akan memanggil petugas keamanan gedung ini untuk membuka paksa."
Raut wajah Bastian terlihat tak baik-baik saja, dia terlihat sangat panik dan kacau.
"Ada apa dengan mu Bastian? Mengapa kau datang dan tiba-tiba marah."
Aku bingung dan sama sekali tak mengerti.
"Aku menelfonmu dari jam 4 tadi, apakau tak melihat ponselmu? Sudah puluhan kali aku menghubungi mu Emma, aku kira kau mungkin ikut Bibimu tapi Bibimu mengatakan tidak. Kau juga tak membukakan pintu saat aku datang jam 5,6 dan 7 tadi. Setengah jam aku menekan bel kau juga tak kunjung membukakan pintu!!"
"Kau tak tau betapa takutnya aku, aku tak berhenti memikirkan yang tidak-tidak. Apakah kau pingsan, sakit, atau terjatuh di dalam. Kau sedang tidak dalam kondisi emosi yang stabil, bagaimana bisa kau tidak mengangkat ponselmu Emma!"
"Maaf aku mematikan suara hpku tadi."
"Bagaimana kau bisa melakukan hal bodoh itu, ponselmu harus tetap bersuara dan tetap menyala kau tau!!"
"Aku tertidur setelah mengantar Bibi Agatha saat akan pulang tadi Bastian, aku kelelahan dan tertidur sampai suara bel apartement ini berbunyi.."
Bastian melepas nafas kasarnya, rautnya berubah seperti ada beban berat yang telah ia buang. Ia meremas rambutnya dan berkacak pinggang membelakangiku.
"Bastian? Apa kau baik-baik saja? Ayo kita masuk dulu. Aku akan membuatkan teh chamomile agar kau tenang, okey?"
Aku tak tau sejak kapan aku punya kebiasaan buruk seperti itu. Tidur sampai seperti orang mati.
Perlahan ku letakkan teh hangat itu di meja, aku mencoba mendekati Bastian duduk di sebelahnya dengan perlahan.
"Ayolah, jangan marah lagi aku minta maaf." Bujukku.
Bastian masih bergeming seperti tak mendengar perkataanku. Tangannya terlipat sempurna di atas dada.
"Boss, apakah pekerjaan di kantor lancar? Bagaimana sekretaris barumu, apakah kinerjanya lebih baik dari pada ku."
Mata Bastian kini menyipitkan matanya menatapku, dan aku juga membalas tatapan matanya.
"Apakah kau masih kesal?" Tanyaku lagi.
Bastian membuang nafas ringan dan menggeleng.
"Kau ingat terakhir kali aku tertidur di rumahmu, aku tak menyadari apapun sampai terbangun sudah berada di kamarmu saat itu. Tadi aku juga tak berniat tertidur selama itu, tapi aku tak bisa menggontrolnya. Maafkan aku kalau membuatmu cemas."
Bastian mengusap rambutku dan membelai pipiku dengan lembut.
"Aku juga bersalah sudah meninggikan suara tadi, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Aku tau." Aku mencoba tersenyum sembari menatap Bastian.
Bastian akhirnya tersenyum.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk pelan.
"Kau masih sedih?" Tanyanya lagi.
"Sedikit.. Sebenarnya dari pada sedih aku hanya masih terkejut karna Paman Anthony tidak bisa bertahan seperti apa yang di perkirakan dokter."
Bastian mengusap rambutku lagi.
"Bukan kesedihan yang membuat kita terpuruk saat kehilangan orang yang penting, tapi rasa tak kuasa karna tak akan pernah bisa melihatnya lagi."
Aku menggigit bibir menahan air mata yang sedikit lagi akan mengalir, ucapan Bastian menusuk hatiku.
"Aku tak punya kenangan spesial ataupun indah saat bersama Paman Anthony. Karna kondisi Paman yang semakin melemah. Aku hanya sedikit menyesal, mengapa aku tak pernah memperlakukannya lebih baik lagi. Aku berandai-andai jika waktu bisa di putar kembali, tapi itu tidak akan pernah terjadi."
"Jangan menyakiti dirimu sendiri atas sesuatu yang bukan kuasamu Emma. Dunia berjalan seperti itu, dan akan selalu seperti itu. Saat kita pikir orang-orang yang kita sayangi akan selamanya bersama kita, kita pikir hidup akan selamanya seperti bahagia. Saat semua tidak berjalan dengan apa yang kita pikirkan, kita merasa gagal."
"Beritahu aku, apa kau mulai bertanya-tanya apakah semua bentuk kebahagian memang akan berakhir seperti itu? Kau mulai menyesali banyak hal.. Dan semakin membuatmu terpuruk. Kau mulai lupa, ada kebahagian lain yang sedang menunggumu."
"Jangan terus terpuruk Emma, cobalah berdamai dengan pikiranmu. Apa kau pikir Paman Anthony akan senang saat melihatmu begini? Atau orang tuamu yang telah mendahuluinya, saat kau sedih bagaimana Paman Anthony akan menceritakan tentang dirimu pada orang tuamu Emma. Paman Anthony pasti kehilangan muka.. Saat hidup ia tak punya kesempatan menjagamu, jangan biarkan saat ia pergi juga membuatmu menderita."
Aku semakin menunduk, memikirkan semua ucapan Bastian yang mulai meresap dalam hatiku.
.
.
.
Yuk Like n komen, berikan kritik terbaikmu ya😘