
Sheila pun masih saja dalam mode diamnya, Adrian yang sedari tadi bicara panjang lebar tidak satupun di respon oleh Sheila.
Hati Sheila tiba - tiba di penuhi rasa cemburu terhadap Rendy, betapa tidak, Rendy sengaja absen dari pekerjaan nya hanya khusus untuk menemani seorang wanita untuk pergi bersama dirinya.
Mobil Sheila pun berhenti tiba-tiba, Sheila pun nampak kaget, " kenapa kita berhenti mendadak ?", Tanya Sheila.
Adrian hanya menggeleng kan kepalanya, dia tau sedari tadi Sheila sama sekali tidak fokus, dan sampai ia berhenti di depan rumah Adrian saja Sheila tidak tahu.
" Kita sudah sampai di depan rumahku sayang" Ucap Adrian.
Sheila kemudian memutar bola matanya untuk melihat sekitar tempat itu, memang benar sekarang ia sudah berada di depan gerbang rumah Adrian, Sheila juga merasa sangat aneh terhadap dirinya sendiri, mengapa ia bisa sekesal ini melihat Rendy.
" Ya udah sayang, aku turun dulu ya, kamu hati - hati dijalan ", Ucap Adrian sambil mengelus rambut Sheila.
Ia tidak mau menanyakan kenapa Sheila tiba - tiba menjadi pendiam setelah keluar dari mall tadi, Ia akan beri waktu Sheila agar dia bisa menceritakan masalahnya.
Setelah Adrian turun dari mobil, Sheila akhirnya pindah ke bagian kemudi, ia terus melanjutkan perjalanan pulangnya tanpa berpamitan kepada Adrian.
"Kenapa dia tiba - tiba berubah, baru tadi siang dia sangat ceria, kenapa tiba - tiba jadi pendiam seperti ini", Ucap Adrian sedikit bingung dengan perubahan sikap Sheila kepadanya.
Adrian akhirnya masuk kedalam rumahnya sambil memikirkan Sheila, Mama nya yang sedari tadi menunggunya tidak ia sapa sewaktu ia melewati sofa yang berada di ruang tamu.
Adrian terus berjalan lurus menaiki tangga rumahnya, " Kenapa dengan anak itu, tidak biasanya dia sepertinya itu ", Ucap Mama Nadia.
Setelah berada di kamarnya Adrian langsung merebahkan tubuhnya dengan kasar, Didalam pikirannya masih penuh dengan rasa penasaran terhadap perubahan Sheila.
***
Di Rumah Sheila, Pak Farhan yang sudah kembali dari kantornya langsung diserang oleh berbagai keluh kesal putrinya Sheila.
"Ayah, Kenapa ayah membiarkan Rendy mengambil cuti, bukannya ayah menyuruh nya untuk menjagaku siang dan malam", Ucap Sheila kesal yang ia luapkan begitu saja kepada sang ayah.
Pak Farhan pun mengerutkan keningnya,
" Mengapa Sheila begitu marah kepada nya ??"
" Hei, kamu kenapa sayang, bukannya seharusnya kamu sangat senang jika Rendy tidak terus mengikutimu ", Ucap pak Farhan yang langsung membuat Sheila terdiam.
Sheila masih mencerna perkataan Ayahnya,
" Mengapa ia bisa semarah ini dengan sang Ayah cuma hanya gara - gara Rendy si bodyguard sialanku ",
Sheila pun kini harus mencari jawaban agar tidak terlihat bahwa ia sangat kesal terhadap Rendy .
Sheila nampak salah tingkah, dia masih terus berpikir apa yang akan ia ucap kan kepada Ayahnya.
" Bukan begitu yah, Aku hanya tidak suka jika Rendy memakan gaji buta karena tidak melakukan tugas dari ayah " Ucap Sheila.
Pak Farhan hanya tersenyum, ia bisa melihat dari mata Sheila bahwa sekarang ia tengah berbohong.
Sheila masih menatap sang Ayah, ia takut ayahnya akan bertanya lagi, Dia pun langsung pergi meninggalkan sang Ayah yang masih tetap berdiri di bawah tangga.
Sheila yang sudah berada dikamarnya langsung saja melempar tas nya ke segala arah, ia menatap langit-langit kamarnya, Terlihat bayang - bayang Rendy masih setia berada di pelupuk matanya.
Guyuran air terdengar dari balik pintu, pertanda bahwa Seseorang tengah berada dibawah guyuran shower yang tengah membasahi seluruh tubuhnya.
Guyuran air tersebut masih saja terus mengalir, berharap air yang membasahi tubuhnya akan membawa semua bayangan Rendy yang ada di dalam kepalanya.
***
Dilain tempat, Rendy yang sudah pulang dari area mall bersama Feli adiknya, langsung saja menuju kedalam kamarnya untuk sekedar membuka laptopnya, Ia sekarang tengah mengecek email-email yang masuk, sambil terus melihat beberapa Email mata Rendy langsung tertuju pada salah satu email dari salah satu universitas yang berada di luar kota, Didalamnya bertuliskan bahwa pengajuan beasiswa nya sudah diterima oleh pihak kampus tersebut.
Dengan mata yang berbinar - binar Rendy pun merasa sangat bahagia sampai ia tak sadar jika ia tengah di perhatikan oleh Feli adiknya.
" Mengapa kakak terlihat sangat bahagia sekali", ucap Feli kepada Rendy yang masih saja terus tersenyum bahagia.
Feli yang baru saja sampai di samping Rendy langsung ditarik dan seketika langsung dipeluk oleh Rendy.
Feli yang merasa kaget dengan tingkah kakak nya langsung saja memukul sang kakak karena ia kini tengah susah bernafas karena eratnya pelukan Rendy.
" Kak !! lepasin, aku gak bisa nafas ini ?? Ucap Feli yang meminta Rendy untuk melepaskan pelukannya.
Rendy pun tersadar dan akhirnya melepas pelukan tersebut, tetapi ia masih saja tersenyum, " Hm... lebih baik aku pergi saja dari pada lihat kakak yang terus saja tersenyum kayak orang gila ", Ucap Feli kesal.
Sebelum Feli berhasil kabur dari Rendy, Rendy sudah memegang tangan adiknya dan kemudian berkata dengan sangat keras.
" Dek, kakak diterima kuliah S2 di luar kota ", Ucap Rendy sangat keras kepada Feli.
Feli yang mendengar ucapan sang kakak langsung saja ternganga tidak percaya.
" Yang benar kak, Kakak tidak bohong kan ", Ucap Feli.
Kakak tidak bohong, " lihat saja sendiri ", Tunjuk Rendy kepada Feli yang memperlihatkan layar laptopnya kepada Feli.
Feli pun ikut tersenyum bahagia, ia bangga kepada sang kakak karena berhasil meraih beasiswa S2 nya.
" Selamat ya kak??", Ucap Feli kepada Rendy.
" Terimakasih Fel, kamu selalu mendukung kakak " Ucap Rendy.
" Sekarang apa rencana kakak selanjutnya ", Tanya Feli kepada Rendy.
" Ya kakak akan tetap mengambil beasiswa tersebut, kan sayang Fel, mumpung ada kesempatan " Ujar Rendy kepada Feli.
" Terus pekerjaan kakak bagaimana " Lanjut Feli.
" Ya terpaksa Fel, kakak akan segera berhenti dari pekerjaan kakak dan akan seger mengurus semua persyaratan kakak untuk kuliah lagi ", Ucap Rendy semangat.
Rendy tidak perduli dengan reaksi pak Farhan yang akan mengetahui bahwa ia akan mengundurkan diri menjadi bodyguard putrinya yaitu Sheila.
Rendy akan tetap fokus kepada kuliah S2 nya sekarang Karen itu sudah menjadi cita citanya sedari duku, dan ia juga berharap agar orang tuanya bisa menerima keputusan Rendy yang akan kembali meninggal kan mereka untuk beberapa waktu yang lama.
Rendy kemudian segera mematikan laptop nya kembali dan keluar mencari ibunya tentang niat nya untuk melanjutkan kuliahnya.
Bapaknya pun juga akan diberi tahu Rendy secar pelan-pelan ia tidak mau Bapak nya sakitnya bertambah parah lagi.