
Bunda Tika dan Shandy masih menunggu diluar kampus untuk menemui Sheila nanti, kini Sheila terlihat keluar dari kampus bersama dengan Risa.
Risa kembali pulang bersama Sheila karena supir Risa tidak dapat menjemputnya.
" Ya udah bareng lagi aja ", Sheila menawarkan tumpangan kepada Risa kembali.
Risa pun senang, kini mereka sama-sama sudah masuk kedalam mobil Sheila.
Adrian sedari tadi masih menatap ke arah Sheila,
" Oh jadi itu bodyguard baru kamu She ", Gumam Adrian dalam hatinya,
Adrian sudah tidak perduli lagi siapa bodyguard Sheila, yang penting ia akan mendapat hati Sheila lagi.
Saat ini Rendy tak dapat berkonsentrasi lagi, pikiran nya tertuju pada Sheila, Mungkin sudah terjadi ikatan batin antara Rendy dan Sheila.
Dijalan Sheila meminta berhenti kepada Jody, ia melihat kedai ice cream baru dan ia sangat ingin mencicipi nya.
" Jod kita berhenti disana, aku mau beli ice cream seperti nya itu kedai baru ", Jody pun mengerti dan menepikan mobilnya.
Sheila dan Risa keluar dari dalam mobil, dan mereka menuju kedai ice cream tersebut.
Di tempat lain yang tak jauh dari mobil Sheila, Sandy dan bunda Tika juga sedang berhenti disana,
" Sand ayo kita kesana, bunda ingin melihat Sheila lebih dekat ", bunda Tika sudah tidak dapat membendung kerinduannya dengan Sheila putri yang tak bisa ia peluk selama ini.
Sandy pun mengangguk, ia menuruti semua keinginan bundanya termasuk untuk hal ini, walaupun ia tak terlalu suka tapi untuk membahagiakan bundanya ia pun harus menuruti.
Mereka keluar dari dalam mobil dan menuju ke gerai tersebut, Sandy dan bunda Tika memilih tempat duduk yang tak jauh dari Sheila, membuat bunda Tika bisa menatap wajah putrinya dari dekat.
Sheila terlihat sedang berbicara dengan Risa, kedua wanita itu entah membicarakan apa, yang terlihat mereka kini sedang tertawa bersama.
Bunda Tika sama sekali tidak menyentuh ice cream yang sudah ia pesan, matanya masih tertuju kepada gadis cantik yang ada di depannya,
" Bunda rindu kepadamu nak, bunda ingin memeluk mu ", Bunda Tika kini tak dapat menahan air matanya Nyang jatuh tanpa ia tahan.
Sandy yang melihat bundanya menangis hanya bisa memeluknya,
" Kenapa bunda menangis, bukannya bunda sudah melihat Sheila ", Sandy pun semakin mempererat pelukannya.
" Bunda bahagia bisa melihat adik mu sand, Tapi bunda sedih tidak dapat memeluknya ", Bunda Tika semakin sedih dengan itu.
" Sudah lah bunda, akan tiba saatnya bunda dapat memeluk dan berkumpul lagi dengan Sheila, dan bunda harus tetap sabar ",
Bunda Tika pun mengangguk, Sheila kemudian menoleh ke arah belakang, terlihat ia sedang memperhatikan wanita paruh baya tersebut dengan anak lelakinya.
Mata Sandy juga melihat ke arah Sheila, mata mereka saling bertemu dan keduanya terlihat saling melempar senyum.
Sheila kemudian mengarahkan pandangannya menuju ke arah wanita paruh baya tersebut, ada rasa sedih ketika melihat wanita Tersebut menangis, ingin rasanya Sheila menghampiri mereka.
Sheila pun berdiri, entah apa yang membuat hati Sheila tergerak dan menghampiri meja Shandy dan Bundanya.
Risa yang melihat Sheila berdiri hanya melihat pergerakan Sheila tanpa berbicara apapun.
" Permisi, boleh saya duduk disini ??",
akhirnya Sheila sendiri yang menghampiri mereka berdua.
Sandy pun mengangguk, dan Sheila kemudian segera duduk tepat di hadapan bunda Tika.
" Maaf, kenapa ibu menangis???", Sheila pun penasaran dengan wanita paruh baya ini.
Bunda Tika pun langsung saja mendongakkan kepalanya, ia melihat putrinya yang duduk berhadapan dengannya.
" Tidak apa-apa nak, Bunda hanya ingat dengan putri bunda, mungkin usianya sudah seumuran denganmu", Bunda Tika pun menghapus sisa air mata yang ada diwajahnya.
Sheila pun hanya mengangguk, entah kenapa melihat Wanita paruh baya ini menangis hatinya mendadak juga merasa sedih.
" Siapa namamu nak ??", Tanya bunda Tika yang sudah bisa mengontrol emosinya.
Hati bunda Tika rasanya berdesir ketika bersentuhan dengan bibir putrinya.
Hatinya kembali terenyuh dan dia sudah tidak dapat membendung air matanya lagi.
Bunda Tika kembali mengusap air matanya, ia kemudian mencoba tersenyum, " Nama bunda, Tika!, kamu panggil saya bunda saja ", Ujar bunda Tika.
" Iya bunda ", Jawabnya dengan tersenyum.
" Dan ini putra bunda Sandy ", Ujar bunda Tika memperkenalkan Sandy dengan Sheila.
" Ayo Sand, ini Sheila ", Tangan Sandy pun seketika terulur dan dengan senang hati Sheila menyambutnya.
" Kamu bisa panggil aku kak Sandy", Ujar Sandy.
" Iya kak ", Jawab Sheila.
Bunda Tika pun terlihat bahagia, Sandy dapat melihat dari pancaran wajah bundanya.
"Boleh bunda meminta nomer ponselmu sayang, biar kita bisa bertemu lagi ", Tatapan bunda Tika kini sedang memohon kepada Sheila, berharap Sheila mau memberikan nomor ponselnya.
Sheila pun tersenyum, Tidak apa-apa pikirnya, menurut Sheila Bu Tika terlihat seperti orang baik dan anaknya juga.
" Boleh Bunda, dengan senang hati ", Bunda Tika kemudian menyerahkan ponselnya dan dengan senang hati Sheila memberikan nomornya.
Risa sedari tadi hanya menyaksikan interaksi antara Sheila dan ibu itu, Risa sudah menunggu lama tapi Sheila sama sekali tak menyudahi obrolan mereka.
Tak lama kemudian Jody pun datang menghampiri Risa dan tak melihat Sheila disana.
" Nona, Dimana Nona Sheila??", Tanya Jody yang tak melihat Risa bersama Sheila.
Risa pun mengarahkan pandangannya ke arah meja yang ada didepannya.
Jody pun mengikuti arah mata Risa memandang, terlihat Sheila sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya dan seorang laki-laki.
Jody kemudian menghampiri Sheila.
" Nona !!", Panggil Jody yang sudah berada di belakang Sheila.
Semua pun mendongak, termasuk Sheila.
" Iya Jod, ada apa ??", Tanya Sheila.
" Maaf Nona, ayah anda sudah menelfon, sebaiknya kita segera pulang ",
Sheila pun mengangguk,
" Sebentar ", Ucap Sheila.
" Bunda Sheila pergi dulu ya, Sheila harap Sheila bisa bertemu bunda lagi ", ujar Sheila.
" Iya sayang, jika bunda kangen sama kamu boleh bunda menghubungi mu ??", Tanya bunda Tika.
Sheila pun mengangguk " Dengan senang hati bunda ", Jawab Sheila.
Sheila kemudian meraih tangan bunda Tika dan mencium kembali tangannya.
" Sheila pamit ya bunda, Assalamualaikum ", Sheila kemudian pergi meninggalkan bunda Tika dan Sandy.
" Waalaikum salam ", Jawab bunda Tika dan Sandy.
Sheila merasa ada yang aneh dengan dirinya saat berdekatan dengan bunda Tika, ada rasa damai dan tenang, tapi Sheila tak mau memikirkan nya.
Sheila dan Risa pun segera menuju ke mobilnya, dan mereka pun meninggalkan kedai ice cream tersebut.
Bunda Tika merasa sangat senang, ia tak menyangka jika hari ini ia bisa memeluk putrinya.
Kini ia sudah mendapat nomor ponsel putrinya dan itu bisa membuat ia semakin dekat dengan Sheila.