
Sheila masih tidak dapat melupakan wajah bunda Tika, wajah yang tak asing menurut nya, apalagi saat melihat wajah Sandy putra dari bunda Tika, Sheila semakin menjadi penasaran.
Ayahnya yang melihat Sheila melamun kemudian menghampirinya, " Kenapa sayang, lagi Mikirin Rendy ??", Pak Farhan tiba-tiba saja mengeluarkan kata-kata itu.
Sheila pun mendongak dan kemudian tersenyum.
" Apaan sih ayah, Sheila gak lagi mikirin Rendy ", Ujar Sheila.
" Terus mikirin apa??, Jangan bilang kamu punya laki-laki lain yang kamu suka ", Ujar pak Farhan curiga.
Pak Farhan sudah menyukai Rendy, kegigihan nya menjaga Sheila membuat ia yakin jika Rendy kelak bisa menjadi suami Sheila yang mampu menjaga Sheila.
" Ayah ngomong apa sih, Nggak mungkin Sheila berpaling dari Rendy, Sheila sudah cinta dan sayang sama Rendy, Sheila gak akan pernah ninggalin Rendy yah ", ujar Sheila.
Pak Farhan kemudian mengelus rambut putrinya,
" Kamu memang sudah siap menikah sama Rendy ??", Tanya pak Farhan.
Sheila pun semakin terkejut, Ada apa ayahnya membicarakan pernikahan saat ini kepadanya.
" Sheila masih kuliah yah, dan Rendy juga masih melanjutkan S2 nya, jadi sepertinya masih jauh deh yah ", Jawan Sheila.
Sejujurnya Sheila mau saja dinikahkan dengan Rendy secepatnya, tapi Sheila tak mau harus membebani Rendy, apalagi saat ini dirinya dengan Rendy kuliah di universitas yang berbeda dan di kota yang berbeda, jadi Sheila tak mau sampai nantinya setelah menikah harus terpisah Kemabli dengan Rendy.
" Tapi kalau tunangan dulu bagaimana ??", Tanya pak Farhan.
Sheila pun terdiam, ia masih memikirkan tawaran ayahnya,
" Nanti kita bicarakan dengan Rendy saja yah, jika dia mau Sheila juga mau, Sheila tidak mau membebani Rendy yah ", Ujar Sheila jujur.
" Baiklah, kita tunggu Rendy pulang ", Jawab pak Farhan dan kemudian meninggalkan putrinya sendirian.
Sheila kini masih berada di kamarnya dan kini mulai membuka bukunya, Sheila kini sudah semakin rajin dalam belajarnya, Setelah menjalin hubungan dengan Rendy Sheila terlihat sangat bersemangat ia ingin tahun ini ia bisa lulus dan membanggakan ayahnya dan juga Rendy.
Tak lama kemudian ponsel Sheila yang berada di atas meja nakasnya berbunyi, Sheila pun mendongak, ia kemudian mencari benda pilihnya yang sedang berbunyi tersebut.
Sheila kemudian meraihnya, terlihat nama Rendy yang ada di layar ponselnya tersebut, Rendy baru menghubunginya setelah terakhir kali siang tadi Rendy menghubungi Sheila.
Sheila segera menggeser layar ponselnya dan suara laki-laki yang ia cintai telah terdengar di telinga Sheila.
" Sayang, kamu dimana ??", Suara Rendy pun terlihat menghawatirkan Sheila.
" Aku dirumah sayang, kamu kenapa ??", Tanya Sheila yang merasa Rendy sangat aneh hari ini.
" Aku menghawatirkan mu, maaf baru menghubungimu, jadwal kuliah ku hari ini sangat padat sekali ", Ujar Rendy.
Sheila pun tersenyum lega, Ternyata keanehan Rendy karena menghawatirkan dirinya sedari tadi.
" Iya tidak apa-apa sayang, kamu tidak perlu menghawatirkan ku, bukannya sudah ada Jody yang kamu percaya ", ujar Sheila.
Rendy pun tertawa, " Maafkan aku yang terlalu berlebihan, tapi aku tadi mendengar ada suara laki-laki saat aku menelfonku tadi siang ", ujar Rendy.
Sheila kemudian mengingat, siapa laki-laki tersebut,
Mata Sheila kemudian membulat, ia sudah ingat, siang tadi saat Rendy menelfonnya Sheila sedang didatangi oleh Adrian, mantan kekasihnya.
" Tadi itu Adrian sayang ", Ujar Sheila yang tak mau menutupi semuanya terhadap Rendy.
Rendy pun memicingkan matanya, ia mulai berpikir, seperti pernah mendengar nama itu tapi siapa.
Rendy masih terdiam, ia ingin memutar memori nya dulu, mengingat nama Adrian,
" Apa yang di lakukan kepadamu ??", Tanya Rendy kepada Sheila, sejujurnya Rendy kini sudah dilanda cemburu saat mengetahui siapa Adrian.
" Dia tidak melakukan apapun sayang, kamu jangan berpikir macam-macam ", Mendengar nada suara Rendy Sheila yakin jika Rendy kini tengah kesal dan cemburu, tapi Sheila suka itu, berarti Rendy benar-benar mencintainya.
" Jangan pernah sekalipun menghianati ku, aku tidak suka penghianatan ", Rendy meninggikan suaranya.
" Kamu jangan berpikiran buruk terhadapku, aku tidak melakukan apapun, Adrian hanya datang menyapa tidak lebih ", Sheila pun menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman diantar Rendy dan dirinya.
Rendy pun mulai bisa mengontrol dirinya,
" Maafkan aku, aku percaya kepadamu, tapi kamu harus berjanji kepadamu agar tidak berdekatan dengan Adrian lagi ", Rendy pun mulai melunak.
Deru nafasnya sudah stabil, ia kini memang sudah terbakar api cemburu, tapi sebisa mungkin Rendy akan menahan amarahnya.
" Iya aku berjanji sayang, cepatlah pulang aku merindukanmu ", Sheila kini mulai mengucapkan kata-kata itu lagi, membuat Rendy semakin tak sabar ingin pulang.
" Tunggu sebentar lagi, kamu sama saja dengan Feli, dia terus merengek menanyakan kapan aku pulang ",
Rendy mengingat jika setiap Feli menelfonnya pasti yang ditanyakan kapan kakak pulang.
Sheila pun tertawa, adik dari Randy memang dekat dengan dengan Rendy terkadang mereka seperti dua orang yang sedang berpacaran.
" Kami sudah makan??", Tanya Sheila.
" Sudah, tadi sebelum Andrew pulang, kita makan sama-sama ",
Sheila penasaran akan kelanjutan hubungan Andrew dengan Risa, Risa sama sekali tidak mau menceritakan kisahnya dan Sheila berharap Rendy mengetahuinya dari mulut Andrew secara langsung.
Rendy kemudian melirik jam arlojinya, sudah malam dan tugasnya masih belum selesai,
" Sayang, sudah dulu, aku mau menyeleselesaikan tugasku sebelum libur Minggu depan ",
Rendy akhirnya mengakhiri panggilannya , Sheila kini juga meletakkan kembali ponselnya dan kembali menaruhnya di atas meja nakasnya
Sheila kembali ke mejanya, ia juga mempunyai tugas yang harus cepat diselesaikan.
Besok rencana Sheila adalah mencari Feli, anak semester satu yang satu jurusan dengannya.
"Mudah-mudahan aku bisa bertemu Feli, aku ingin semakin dekat dengan dia ", gumam Sheila.
Tak lam kemudian ponselnya kembali berbunyi, Sheila kira itu adalah Rendy atau Risa, dengan semangat Sheila Kembali berjalan dan mengambil ponselnya, terlihat nama Adrian disana, Sheila pun menatap layar ponselnya,
" Kenapa masih aku simpan nomernya, bukannya sudah aku hapus ",
Sheila kemudian menggeser layar ponselnya yang berwarna merah, ia sudah tak mau berurusan dengan Adrian, ia juga tak mau Rendy tahu dan akhirnya salah paham terhadapnya.
Ponsel Sheila Kembali berbunyi, Adrian mencoba menghubunginya kembali, Sheila kembali menggeser layar berwarna merah itu lagi.
Sheila menganggap Adrian akan menyerah tapi ternyata tidak, ponselnya kembali berbunyi, dengan terpaksa Sheila mengangkatnya, ia ingin Adrian mengetahui jika dirinya tidak mau diganggu olehnya lagi.
" halo She??", Ucap Adrian.
Sheila pun malas mendengar suara itu,
" Iya ada apa !!", tanya Sheila ketus.
Adrian pun tak menyangka jika Sheila akan seketika ini kepadanya, Adrian berharap Sheila akan bersikap manis kepada nya seperti dulu