My Bodyguard Is My Husband

My Bodyguard Is My Husband
30



Di negara lain ada seorang wanita paruh baya dan seorang pria atletis sedang berjalan menuju area penerbangan, mereka berdua akan kembali ketanah air yang pernah ia tinggalkan sekitar 15 Tahun yang lalu.


" Bunda mau Sandy bantu?", tanya Sandy yang menggandeng tangan bunda Tika saat hendak masuk kedalam pesawat.


Wajah Tika terlihat sangat senang sekali akhirnya ia dan putranya bisa kembali ke Indonesia,


Ia ingin segera bertemu putrinya tentunya, putri yang ia tinggalkan karena masalah dengan Farhan bertahun-tahun yang lalu.


" Apakah Bunda bahagia ??", Tanya Sandy.


Sandy tumbuh menjadi laki-laki tampan tubuhnya tegap atletis sehingga ia banyak dikagumi oleh wanita-wanita yang ada di kampusnya tersebut.


Setelah menempuh S2 nya Tika mengajak putra nya untuk kembali ketanah air, awalnya Sandy menolak, tapi karena Tika selalu memohon akhirnya Sandy luluh juga, Sandy sebenarnya tak tega melihat bundanya yang setiap hari menangis karena mengingat Sheila yang ditinggalkan saat di masih umur 5 tahun,


Seperti apa dia sekarang Sandy pun tak tahu, mereka benar-benar tak pernah menghubungi ayahnya sama sekali.


" Iya bunda sangat bahagia sekali tentunya, bunda sudah menantikan ini sejak lama menantikan hari ini, hari dimana kita akan kembali kesini, ketempat asal kita ketempat putri bunda yang sangat amat bunda


rindukan ", Ujar Tika yang sudah berkaca-kaca kembali.


Perjalanan menempuh waktu kurang lebih selama 7 jam dari Sydney, Tak banyak yang di bicarakan oleh ibu dan anak Tersebut, Sandy lebih menyuruh bundanya untuk istirahat di pesawat selama perjalanan.


Setelah menempuh perjalanan selama itu akhirnya pesawat mereka sudah mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta.


Sandy kemudian menyeret kedua koper besar mereka dan segera mencari taxi untuk ia kendarai menuju ke salah satu apartemen terbesar di Jakarta.


Satu Minggu sebelumnya Sandy sudah melakukan pembayaran untuk pembelian apartemen secara online dari agen penjualan di Indonesia.


Taxi pun sudah ia dapatkan segera Sandy membukakan pintu agar bundanya bisa segera duduk, setelah itu Sandy memasukkan kedua kopernya di bagasi taxi tersebut.


Perjalanan yang mereka tempuh satu jam dari bandara menuju apartemen mereka, setelah sampai Sandy segera menurunkan kedua kopernya, bundanya sama sekali tidak diizinkan untuk menyentuh koper tersebut.


Sandy segera membuka pintu apartemen mereka dengan card yang baru saja ia dapatkan dari Resepsionis yang ada di loby utama apartemen tersebut.


" Bund, sebaiknya bunda istirahat dulu, setelah ini aku akan pesankan makanan untuk kita ", Ujar Sandy yang ingin bundanya segera istirahat.


" Iya sand, pinggang bunda juga sudah sakit ", Ujar Tika sambil merebahkan tubuhnya di ranjang apartemen nya.


Setelah memastikan bundanya sudah istirahat, Sandy kemudian segera mendudukkan tubuhnya ke sofa yang ada diruang tamunya, rasa lelah sudah ia rasakan karena panjang nya perjalanan yang mereka tempuh dari Sydney.


Sandy kemudian merogoh sakunya dan segera memesan makanan lewat aplikasi online,


Sambil menunggu makanan nya datang, Sandy kemudian masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan badannya terlebih dahulu.


30 menit kemudian setelah Sandy selesai mandi bel pintu apartemen mereka berbunyi, dengan berjalan santai Sandy segera membuka pintu tersebut dan benar saja apa yang dipikirkan oleh Sandy yang datang adalah petugas pengantar makanan onlinenya.


Setelah membayarnya Sandy segera berjalan kedapur untuk menata makanan tersebut di meja makan, pintu kamar Bunda Tika pun terbuka, bunda Tika juga sudah mandi dan terlihat lebih segar dari sebelumnya.


" Kok gak bilang kalau makannya sudah datang, kan bunda bisa nyiapin piringnya ", Ujar bunda Tika.


" Nggak apa-apa Bund, Sandy gak mau ngerepotin bunda ", Ujar Sandy.


" Lebih baik kita segera makan Bund, nanti keburu dingin ", Ujar Sandy.


" Besok temani bunda mencari Sheila ya sand, bunda sudah gak sabar buat lihat Sheila ", Ujar Tika.


" Sand, kamu denger gak apa yang bunda bilang ", Ujar bunda Tika.


" Iya bund, Sandy dengar, bunda tenang aja dulu, biar nanti Sandy yang mencari tahu Sheila dulu seperti apa wajahnya sekarang, gak mungkin kan kita langsung saja menemui Sheila ", Ujar Sandy yang tak ingin bundanya berharap lebih.


" Bunda setuju apa katamu ", Ujar Tika.


Tak lama kemudian ponsel Sandy pun berdering, setelah melihatnya nama Bella pun terlihat jelas dilayar ponselnya.


" Wanita ini lagi ", Ujar Sandy yang sepertinya tak suka.


" Siapa sayang ??", Tanya bunda Tika melihat ekspresi putranya yang berubah masam.


" Bella bund, dia selalu saja menerorku ", Ujar Sandy malas.


" Angkat saja sayang, kasihan dia, pasti sekarang dia sedang mencari kita di mansion kita ", Ujar bunda Tika.


Dengan rasa malasnya akhirnya Sandy pun menggeser layar hijaunya pada ponselnya sekarang,


" Hallo bel, ada apa kau menelfon ku??", Tanya Sandy sedikit ketus.


" Send, kenapa kamu gak bilang kalau kamu pulang ke Indonesia ??", Tanya Bella.


" Bukan urusan mu bell ", Ujar Sandy.


" Itu jadi urusanku send, aku merindukanmu ", Ujar Bella kepada Sandy.


" Sudahlah bell, jika hanya itu yang mau kamu katakan, aku capek aku mau istirahat ", Ujar Sandy langsung mematikan ponselnya.


Sandy kemudian beralih menghubungi orang suruhannya, ia ingin orang suruhannya tersebut mencari informasi tentang adiknya tersebut.


" Aku mau secepatnya kami dapatkan informasi beserta fotonya ", Ujar Sandy dari balik telfon.


Sebenarnya Sandy bisa saja datang ke kantor ayahnya, tapi ia tak mau jika nantinya ia akan mendapat informasi kosong, mana mungkin adiknya itu berada di kantor ayahnya, rasanya tak mungkin, setahu Sandy umur Sheila masih 20 tahun, jadi dia pastinya sedang menempuh pendidikannya.


" Tunggu Kakak dan bunda datang She, kakak harap kamu gak kaget dengan kedatangan kakak dan bunda dalam hidup mu ", Ujar Sandy.


****


Sheila saat ini tengah mencari ayahnya di dalam ruang kerjanya, Sheila kemudian masuk dan mencari disekitar ruangan tersebut, Sheila terus saja mencari tapai nyatanya ayahnya tidak ada didalam ruangan kerjanya.


Sheila sendiri bahkan jarang sekali masuk kedalam ruangan kerja ayahnya, banyak yang Sheila tidak tahu tentang ruangan tersebut, banyak juga foto dirinya bersama ayahnya di berbagai acara.


Sheila kemudian duduk di kursi kebesaran ayahnya, terlihat juga foto dirinya yang ada dimeja ayahnya,


Niat Sheila kesini adalah ingin meminjam buku yang berkaitan dengan bisnis , ia mendapat tugas kuliah untuk mencari beberapa referensi tentang bisnis.


Sheila kemudian mencari disekitar meja tersebut, dari banyaknya tumpukan buk disana Sheila sama sekali belum menemukan apa yang ia cari,


tangan Sheila kemudian beralih untuk membuka laci bagian atas kiri tapi tetap saja ia tak menemukannya.


Kemudian ia beralih ke laci berikut nya, ternyata benar banyak buku disana segera Sheila mengambil benda buku tersebut, saat ia hendak membukanya tiba-tiba ada sebuah foto jatuh dari buku tersebut.