
Setelah keluar dari bioskop, Sheila terdiam tak bersuara sama sekali, bayangan apa yang ia lihat tadi masih terus berputar-putar dalam kepalanya, Begitu juga dengan Rendy, Rendy tak menyangka juga dirinya dan Sheila akan menonton adegan yang membuat ia sampai bisa kehilangan konsentrasi nya.
Sesekali Rendy melirik Sheila, Rendy sangat penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Sheila.
Sheila masih memasang wajah seperti biasa, walau dalam benaknya masih mengingat itu semua, tapi sebisa mungkin Sheila harus bersikap seperti biasa dan tak membuat Rendy curiga kepadanya.
Mereka berjalan keluar, sejujurnya mereka berdua lapar, tapi mereka sudah melupakan urusan perut mereka, mereka berdua ingin segera pulang karena tak mau terlalu larut dalam pemandangan yang ia lihat tadi.
Sheila masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Rendy, keduanya kini sudah siap untuk pulang kerumah mereka masing-masing, rasa kesal Sheila kepada kakaknya seketika hilang, pikirannya sudah terkontaminasi oleh adegan iya-iya yang ia lihat tadi.
Mobil berjalan membelah jalanan kota Jakarta yang sudah hampir sore, Kedua orang yang sedang berada di dalam mobil sama-sama terdiam, mereka bingung harus membicarakan apa, dan Sheila sama sekali tidak menemukan bahan untuk dibicarakan.
Mereka pun masih terdiam sampai akhirnya Rendy pun membuka suaranya.
"Film nya tadi bagus kan??", tanya Rendy yang tiba-tiba saja membuka suaranya.
Sheila pun menoleh, menatap laki-laki yang ada di sampingnya tersebut.
Pandangan Rendy masih menatap lurusnya jalan didepan, dan sama sekali tidak menoleh ke arah Sheila.
"Iya, Bagus, Kamu suka??", Tanya Sheila kepada Rendy, Rendy pun terdiam, ia masih memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Sheila, Bagus, tentu sangat bagus, apalagi dengan adegan iya-iya yang ada di dalam film tersebut membuat para penonton nya pasti berkata jika film tersebut sangat lah bagus.
"Suka pastinya", Jawab Rendy dengan percaya dirinya membuat Sheila ingin menanyakan hal yang lebih dari ini.
"Suka bagian yang mana??", Tanya Sheila lagi, dan lagi-lagi Rendy harus menanggapi pertanyaan Sheila yang menurut nya sangat membuat ia sedikit bingung untuk menjawabnya.
"Kalau kamu suka bagian yang mana??", Sekarang Rendy yang berbalik bertanya kepada Sheila, Rendy ingin tahu apa jawaban Sheila saat ia tanya hal seperti itu.
Sheila pun kembali menolehkan kepalanya, dan ia kini kembali menatap Rendy yang masih menatap lurus ke depan.
"Ditanya malah balik nanya, gimana sih kamu sayang??", Tanya Sheila.
Rendy pun tersenyum, kemudian tangannya seketika memegang tangan Sheila yang ada di sampingnya.
"Aku suka adegan ciumannya", Dengan masih menatap lurus kedepan, ia tak mampu menatap mata Sheila, Rendy takut jika Sheila dapat melihat rona wajahnya yang sedikit memerah.
Sheila pun mendelik, mengapa Rendy begitu jujur sehingga membuat Sheila menjadi malu sendiri.
Sheila kemudian memukul lengan Rendy, Sheila seketika cemberut, dan itu membuat Rendy semakin ingin mencium bibir kekasihnya.
"Kenapa bibirmu seperti itu, atau mungkin kamu ingin merasakan ciuman dariku??", tanya Rendy
Wajah Sheila seketika bersemu merah, tak menyangka jika Rendy akan berkata seperti itu.
Mobil Rendy pun sudah sampai di pelataran rumah Sheila, gadis itu pun segera turun, "Kamu gak mampir dulu??", Sheila menawarkan Rendy untuk masuk terlebih dahulu, tapi dengan halusnya Rendy menolak.
"Sudah malam, gak enak dilihat tetangga, lain kali aja", Sheila mengangguk mengerti, ini juga sudah malam jadi tak masalah buat Sheila.
"Ya udah, hati-hati dijalan, gak usah ngebut-ngebut", Rendy kemudian kembali melajukan mobilnya dan meninggalkan Sheila yang masih menatap ke arahnya, dan setelah mobil tersebut hilang dari pandangan nya Sheila kemudian masuk kedalam rumahnya.
Sheila masuk dan mendapati ayahnya yang tengah menunggu dirinya kembali, ayahnya penasaran dengan bagaimana pertemuan Rendy dengan bunda dan Shandy.
"Sayang, kesini sebentar, ayah mau bicara", Sheila kemudian berhenti melangkah dan berbalik berjalan menghampiri sang ayah, sebenarnya Sheila sengaja tidak menyapa ayahnya, ia sedang malas untuk membahas bagaimana tadi di apartemen bundanya.
Sheila duduk tepat di samping Ayahnya, dan ia kini juga sedaNg memperhatikan ayahnya yang masih menatap lembaran demi lembaran yang sedang ayahnya pegang saat ini.
Pak Farhan kemudian meletakkan beberapa lembar dokumen yang ia baca, ia kemudian menatap putrinya yang baru saja datang.
"Bagaimana tadi She, bagaimana reaksi bundamu??", Tanya pak Farhan kepada putrinya, Sheila pun mendengus sebal, mengingat apa yang dilakukan oleh kakaknya membuat Sheila kesal kepada kakak laki-laki nya itu.
Pak Farhan melihat wajah putrinya yang berubah, "She, kenapa kamu??", Tanya ayahnya, Sheila hanya diam saja, wajahnya sedikit cemberut mengingat kejadian tadi.
"Semua tidak berjalan sesuai dengan rencana yah, aku masih belum mendapat restu dari kak sand, kak sand terlalu mempersulit hubungan kami", Ucap Sheila.
Pak Farhan pun tidak mengerti maksud dari Sheila, ia ingin mendengar penjelasan secara rinci dari Putranya.
"Maksud kamu apa she??, Ayah sama sekali tidak mengerti",
Sheila masih saja terdiam, nafasnya menderu-deru mengingat kejadian tadi, mengapa kakaknya begitu tega kepadanya dengan melakukan hal seperti ini, mempersulit hubungan antara dirinya dan Rendy.
"Kak sand mengajukan syarat kepada Rendy yah, dia harus melakukan syarat yang akan diajukan kak sand kepada Rendy besok", Wajah Sheila masih terlihat murung membuat ayahnya merasa iba dengan Putrinya.
Pak Farhan kemudian memeluk putrinya, Pak Farhan tahu jika Sandy melakukan itu semua demi kebaikan Sheila, Sandy tak mau jika Sheila salah dalam memilih calon suami.
"She, kamu tidak perlu khawatir, yakin dengan Rendy, pasti Rendy bisa melakukan syarat dari kakakmu, ayah yakin, dan ayah percaya dengan Rendy", ujar Pak Farhan, Sheila kemudian melepas pelukannya, dan dia merasa tenang dengan apa yang sudah dikatakan oleh ayahnya.
"Sudah kamu gak perlu khawatir sayang, Rendy pasti bisa, kamu tahu kan seperti apa Rendy??", Sheila pun mengangguk, dan dia kini merasa yakin jika Rendy akan berhasil melakukan syarat yang diajukan oleh kakaknya besok.
Rendy sampai dirumahnya, ia memarkirkan mobil hasil kerja nya itu di halaman rumahnya, ia kemudian keluar dari dalam mobilnya, langkah kakinya sangat pelan, ia sedikit melamun, memikirkan apa yang akan terjadi besok, kira-kira apa yang akan dilakukan kakak Sheila kepada dirinya.
Pintu ia buka dengan pelan, ia kemudian masuk kedalam rumah dan langsung memasuki kamarnya, ia banting tubuhnya dengan keras dan matanya kini menatap langit-langit kamarnya.
Maaf baru up ya, aku up sedikit aja, semoga kalian suka