
Rendy dan Shandy sudah berada di arena balap motor, perlengkapan mereka juga sudah lengkap tinggal melepaskan gas nya saja dan mereka berdua akan benar-benar balapan kali ini.
Rendy sudah menghadap lurus ke arah jalanan di depan, memperhatikan bagaimana sirkuit yang akan ia lewati, dan kini di tengah-tengah mereka sudah ada seseorang, seseorang yang nanti akan memberikan aba-aba jika pertandingan akan dimulai.
Sandy menatap Rendy dengan Sinis, Sandy yakin jika dirinya nanti akan menang, dan pastinya akan menang menghadapai Rendy tentunya, dengan mengandalkan pengalaman nya di sirkuit, Sandy yakin pasti akan menang dan bisa mengalahkan Rendy yang ia tahu pasti tidak terlalu mahir dengan dunia balap.
"Sudah siap ???", tanya salah seorang yang kini berada di antara mereka berdua,
Sandy dan Rendy mengangguk, dan kemudian pertandingan pun dimulai.
Kedua Motor melaju dengan sangat cepat, Sandy yang kini berada di depan jauh dari Rendy terlihat menampakkan tawa bangganya, ia tak mungkin kalah, dan Sandy percaya itu.
Rendy yang berada di belakang jauh, tapi ia mencoba tenang, mencoba mengatur strategi agar ia bisa mengalahkan Sandy.
Rendy sedikit mengatur laju motor nya, tapi Rendy tak bermaksud menyalip, ia akan menunggu sampai Sandy lengah terlebih dahulu, dan barulah Rendy akan mengatur strategi nya dan kemudian mendahului Sandy.
Sandy sedikit memelankan laju motornya, ia senang karena Rendy tak terlihat di belakangnya, Sandy kemudian sedikit mengurangi kecepatan nya, Sandy sedikit santai, lagi pula ia bisa dipastikan akan menang.
Ponsel Sandy tiba-tiba berbunyi, Sandy kemudian berhenti, ia bermaksud untuk menerima dan mencari tahu siapa yang tengah menelfonnya, apakah bundanya atau mungkin Sheila, tapi ternyata itu semua diluar dugaan, Bella lah yang saat ini sedang menelfonnya.
Sebenarnya Sandy sedikit malas, tapi Sandy kemudian menggesek latar ponselnya dan menerima panggilan itu.
"Hai sand, kamu kok gak pernah telfon aku??", Tanpa salam dan tanpa apapun Bella langsung saja menanyakan apa yang sedang ia rasakan.
"Hmm... Maaf, tapi aku sangat sibuk", Sudah biasa Bella akan seperti ini, kadang membuat Sandy ingin sekali membuang ponselnya jika mendengar suara Bella.
"Sand, Aku punya berita penting untuk mu", Sejujurnya Sandy penasaran, tapi ia terlalu gengsi.
"Itu gak penting, berita apa??, aku tidak terlalu tertarik", Jawab Sandy.
Tapi rasanya Sandy tidak perlu memperlihatkan rasa penasaran, toh gadis itu pastinya akan memberitahu apa yang ia ingin katakan.
"Kalau sudah tidak ada lagi, tutup saja telfonnya, aku sibuk", Ucap Sandy tapi Bella menghentikan nya.
"Tunggu sand, aku belum selesai", Ucap Bella, dan Sandy pun tersenyum, pastinya Bella akan mengatakan hal itu.
Tapi di belakang Sandy seperti nya Rendy sudah mendekat, dan tak lama setelah itu Rendy pun berhasil mendahului Sandy yang tengah menerima telfon itu, Sandy pun terperangah saat melihat Rendy mendahului dirinya dengan senyum yang ditujukan kepadanya.
"Sial!!", ucap Sandy spontan, dan Bella yang masih mendengar Sandy mengumpat kini sedang bingung di buatnya.
"Sand,Kamu mengatai aku??", tanya Bella, Sandy pun kaget, dan ia baru sadar jika ia masih melakukan panggilan dengan Bella.
"Oh, tidak bel, Maaf, itu hanya ada kucing lewat sembarangan", ucap Sandy bohong.
"Ok, kamu boleh telfon aku lagi, tapi untuk saat ini aku masih sibuk, sudah dulu", Sandy kemudian mematikan ponselnya dan segera menyusul Rendy.
Rendy dapat menunjukan senyum kemenangan nya, dan Sandy pun menerima kekalahan nya, itu salahnya juga menerima telfon disaat pertandingan.
Sandy kemudian turun dan menghampiri Rendy dan menyalaminya.
"Ok, kaku menang, aku mengaku kalah", Jawab Sandy dan Rendy pun membalasnya dengan senyuman.
"Ok, Sebaiknya kita kembali ke apartemen ku",
Rendy dan Sandy kemudian Kemabli ke apartemen Sandy yang disana sudah ada bundanya dan Sheila, Pak Farhan juga ikut, dan itu membuat bunda Tika senang jika pak Farhan mau mendatangi apartemen nya.
Sheila di dalam apartemen tersebut nampak gelisah, ia sedari tadi hanya memikirkan apakah Rendy sanggup mengalahkan kakaknya, Tapi dengan dukungan dari bundanya ia merasa tenang dan yakin jika Rendy mampu.
Tak lama setelah itu pintu apartemen itu pun terbuka, terlihat Sandy dan Rendy masuk, dan sudah terlihat jelas di mata Sheila jika Rendy tampak tak bersemangat, Sheila pun jadi bertambah gelisah, mungkin ke khawatiran nya benar, Rendy kalah dari kakaknya Sandy.
Sheila segera menghampiri Rendy, tak perduli semua mata memandang, tapi yang ia ingin tahu saat ini adalah kepastian dari apa yang Rendy dan kakaknya lakukan.
"Rend, aku mau bicara sama kamu", Sheila kemudian menatap mata Rendy.
"Iya Rend, bagaimana apa kamu menang??", Sahut pak Farhan.
Awalnya Rendy ingin mengerjai Sheila, Dan Sandy pun sudah menyetujui nya, tapi kali ini yang bertanya adalah pak Farhan, tidak mungkin Rendy akan berbohong jika ia kalah dalam permainan ini.
"Alhamdulillah pak, saya menang, iya kan mas??", Tanya Rendy kepada Sandy yang langsung diangguki oleh Sandy.
Sheila pun seketika mengukir senyumannya, pak Farhan dan Bu Tika pun begitu, mereka sangat senang melihat Sheila yang terlihat sangat bahagia.
Sandy pun juga begitu, ia bisa melihat adiknya itu tersenyum,
"Rend, aku tahu kamu adalah laki-laki baik, dan aku mohon jaga adikku, dia adikku satu-satunya yang paling aku sayangi", Ujar Sandy kepada Rendy.
Rendy pun mengangguk,
"Pasti, aku akan menjaga Sheila, mas tidak perlu khawatir", Sandy kemudian menepuk bahu Rendy,
"Terimakasih Rend, kamu bisa diandalkan", Kini mereka semua berkumpul dan makan siang bersama, dan setelah itu terlihat Sandy mengambil foto kebersamaan keluarga besarnya, dan ia juga mengambil foto Sheila saat bersama nya untuk yang pertama kalinya.
Hari ini menurut Sheila adalah hari terbaik nya, ia bisa sangat bahagia sekali dan untuk merayakan nya ia akan menginap di apartemen bundanya, Sheila juga ingin merasakan tidur dengan bundanya, dan Bu Tika yang mendengar ke inginan Sheila pun sangat senang, malam ini ia akan tidur bersama dengan putrinya.
"Aku malam ini nginap sini ya yah, boleh ya??", pinta Sheila dan pak Farhan mengangguk menyetujuinya, tidak apa-apa kalau malam ini ia harus dirumah sendiri, itu ia lakukan semua demi kebahagiaan putrinya.
"Iya nggak apa-apa, kalau gitu ayah pamit dulu", pak Farhan akhirnya meninggalkan apartemen tersebut, sebenarnya pak Farhan merindukan suasana seperti ini, suasana yang sudah lama tak ia rasakan, dan pak Farhan sangat bahagia sekali.
Rendy kini juga berpamitan, dan mungkin besok ia akan kembali kesini untuk menemui Sheila kembali.