
Sepulang kuliah Sheila yang sedang bersama dengan Risa berjalan menuju ke arah Rendy yang tengah menunggu Sheila sedari tadi.
" Eh, Abang ganteng lagi nungguin kita ya ", Tanya Risa.
" Nona, apa anda sudah selesai ", Tanya Rendy.
" Iya Rend, aku udah selesai, Ayo kita berangkat ", Ajak Sheila.
" Ris, kita duluan ya ", Ucap Sheila.
" Lho She, kamu mau kemana ??", Tanya Risa.
" Kita lagi ada urusan penting, iya kan Rend??", Ucap Sheila yang langsung di angguki oleh Rendy.
" Kita permisi dulu Nona ", Ucap Rendy kepada Risa.
Risa yang melihat keakraban Sheila dan Rendy menjadi curiga.
" Kenapa Sheila terlihat senang sekali, bukannya dia benci ya sama Rendy ", Ucap Risa.
" Besok aku harus tanya sama Sheila ", Ucap Risa yang langsung pergi dan menuju ke arah mobilnya.
Di perjalanan Rendy dan Sheila sedang asyiknya mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan sampai - sampai mereka tak menyadari bahwa mereka sudah hampir sampai.
" Rend, stop !!", Ucap Sheila yang membuat Rendy mengerem dengan mendadak.
" Kenapa Nona ??", Tanya Rendy.
" Rend, aku belum membelikan buah tangan untuk ayahmu ", Ucap Sheila.
" Nona, anda membuat saya jantungan, ternyata cuma persoalan kecil ", Ucap Rendy sambil menggelengkan kepalanya.
" Ayo Rend, kita cari sekarang, aku malu nantinya jika aku tidak membawa apa-apa ", Ucap Sheila.
" Ya sudah ", Ucap Rendy yang menyalakan mobilnya kembali dan mencari letak supermarket terdekat.
Setelah apa yang dicari Sheila sudah ia dapatkan, mereka melanjutkan perjalanan mereka, tak sampai setengah jam mereka sudah sampai didepan rumah Rendy.
Rendy kemudian turun dan segera membukakan pintu samping untuk Sheila turun.
" Ayo Nona ", Ajak Rendy.
Rendy kini tengah membuka pintu gerbang rumahnya, dan ia segera membawa Sheila masuk dengan menggandeng tangannya.
Sheila yang menyadari tangannya di gandeng oleh Rendy merasa sangat senang sekali.
Saat Rendy akan tiba di depan pintu dan akan mengetuknya, baru ia sadar bahwa ia dari tadi memegang tangan Sheila dengan erat.
" Maaf Nona ", Ucap Rendy yang kemudian segera melepas genggaman tangannya.
Kemudian Rendy mengetuk pintu rumahnya dengan pelan, Tak lama kemudian pintu rumah Rendy pun terbuka dan saat ini yang membukakan pintu adalah Feli.
Feli langsung saja menghambur ke pelukan kakaknya, dan ia juga merasa sangat senang.
" Kak, Feli udah kangen banget sama kakak, baru aja seminggu kakak gak dirumah", Ucap Feli.
Rendy pun hanya tersenyum mendengar celotehan adiknya tersebut.
Saat Feli masih fokus terhadap sang kakak, tiba-tiba netra mata Feli seketika memandang kearah samping kakaknya.
" Kak, ini siapa ??", Tanya Feli yang melihat seorang wanita cantik berdiri tepat. disamping kakak nya.
" Oh iya sampai lupa, perkenalkan ini Nona Sheila, dia anak majikan kakak ", Ucap Rendy memperkenalkan Sheila kepada Feli.
Feli seketika langsung mengulurkan tangannya kepada Sheila, dan tak perlu banyak berfikir Sheila dengan senang hati menyambut uluran tangan dari Feli.
" Hai kak, namaku Feli ", Ucap Feli.
" Hai juga Fel, nama kakak Sheila", Ucap Sheila dengan tersenyum.
" Kamu cantik sekali Fel ", Puji Sheila kepada Feli yang membuat Feli seketika tersenyum.
" Terimakasih kak, Kakak juga sangat cantik ", Ucap Feli yang memuji balik Sheila.
Setelah acara perkenalan Feli dan Sheila , Rendy segera mempersilahkan Sheila untuk memasuki rumahnya.
" Ayo Nona, silahkan masuk ", Ajak Rendy kepada Sheila.
Sheila pun masuk dan diikuti oleh Feli dan Rendy.
" Sebentar kak, Feli tinggal dulu ", Ucap Feli sambil melangkahkan kakinya ke dapur.
Tak lama kemudian Bu Ani keluar dari pintu kamar pak Dayat dan melihat Rendy pulang bersama seorang wanita.
" Rend, kamu pulang?? ", Tanya Bu Ani kepada Rendy.
" Iya Bu, Rendy pulang hanya sebentar ", Ucap Rendy.
" Dan ini kenalkan Bu, Ini Nona Sheila, Putri Pak Farhan ", Ucap Rendy.
Bu Ani pun kaget karena tidak menyangka jika putri Pak Farhan yang datang kemari, segera Bu Ani menghampiri Sheila.
" Selamat datang Nona ", Ucap Bu Ani.
Sheila pun tersenyum, kemudian ia raih tangan Bu Ani dan mencium tangannya.
Rendy yang melihat Sheila langsung saja terkejut,
" Perkenalkan Bu saya Sheila ", Ucap Sheila kepada Bu Ani.
Sheila kemudian mengambil bingkisan yang ia bawa dan menyerahkan kepada Bu Ani.
" Ini, Bu saya bawakan sedikit olehn- oleh ", Ucap Sheila.
Bu Ani pun menerima nya dengan senang hati.
" Terimakasih Nona Sheila ", Ucap Bu Ani.
Tak lama kemudian Feli sudah datang dengan membawa 4 gelas minuman dingin dan beberapa camilan.
" Silahkan kak", Ucap Feli.
" Terimakasih ya Fel ", Ucap Sheila ramah.
Sheila kemudian berdiri dan ingin bertemu pak Dayat.
" Rend, aku ingin bertemu Pak Dayat, apakah boleh , Tanya Sheila.
" Tentu saja Boleh Nona ", Ucap Rendy.
Rendy kemudian segera mengantar Sheila bertemu dengan bapaknya.
Sheila nampak sangat Antusias berbincang - bimbang sedari tadi dengan orang tua Rendy.
Tak terasa waktu sudah sore hari, kini Rendy dan Sheila sudah akan berpamitan kepada Bu Ani dan Feli, Sedangkan Pak Dayat kembali istirahat di kamarnya.
" Bu, kami pamit dulu ", Ucap Rendy sambil mencium tangan Bu Ani dan diikuti oleh Sheila.
Merekapun kembali melajukan mobil untuk kembali ke rumah Sheila, Rendy nampak gelisah karena ia sedari tadi masih memikirkan apa yang ia akan katakan kepada Pak Farhan karena telah membawa Sheila kerumahnya.
Setelah satu jam mereka sudah kembali kerumah Sheila, mereka masuk secara beriringan, " Selamat sore Yah???", Ucap Sheila kepada Ayahnya.
Ayahnya yang melihat kedatangan putrinya yang diikuti oleh Rendy dari belakang seketika tersenyum.
" Selamat sore juga sayang, Bagaimana harimu, apa sangat menyenangkan ???", Tanya Pak Farhan.
" Seperti yang ayah lihat, hari ini aku sangat senang sekali ", Ucap Sheila.
" Ya sudah Yah, aku mau ke kamar, mau mandi ", Ucap Sheila yang berlaku dari hadapan sang Ayah.
Setelah Sheila pergi, Rendy kemudian menemui pak Farhan yang ada diruang tengah, " Maaf Pak, saya hari ini membawa Nona kerumah saya tanpa izin dari Bapak ", Ucap Rendy.
Pak Farhan hanya tersenyum mendengar kejujuran Rendy,
" Aku sudah tau Rend, aku senang jika Sheila bersama mu dan masih dalam pengawasanku ", Ucap Pak Farhan.
" Jadi Bapak tidak marah ", Tanya Rendy.
" Untuk apa saya marah, toh kamu masih tetap mengawasi Sheila", Ucap Pak Farhan.
Rendy pun sekarang bisa bernafas lega karena Pak Farhan tidak memarahinya.
" Terimakasih atas kepercayaan Bapak, kalau begitu saya pamit dulu ", Ucap Rendy yang akan menuju kamarnya.
Pak Farhan hanya menggelengkan kepalanya karena melihat ekspresi Rendy.
"Bagaimana saya bisa memarahiku jika Sheila sekarang sudah nyaman bersama mu Rend ", Gumam Pak Farhan.