
Anita yang menyamar menjadi Nasha berangkat ke kantor Kenz menggunakan angkutan umum, dimana penumpang yang menaiki kendaraan tersebut harus terima berdesak-desakkan karena jam masuk sekolah.
setelah Anita sampai di kantor, Kenz yang menantikan hari ini berencana untuk melampiaskan kekesalan karena ada dua kesalahan yang dilakukan sekretaris barunya itu.
"Selamat pagi... " Sapa Anita dengan senyum termanisnya.
"Pagi .... " Sapa mereka yang di sapa oleh Anita.
belum sampai Anita ke tempat sekretaris, asisten Kenz sudah introgasi Anita dengan gayanya seperti detektif.
"Nasha, seharusnya kamu kemarin sudah masuk kerja," Bentak Asisten Kenz dengan nadanya yang tajam.
"Gue ngga terima di bentak. Posisinya aja Asisten laganya udah kayak bos segala," pikir Anita, dengan tenang Anita menjawab "emang iya Pak."
"Lalu kenapa kamu ngga masuk ?" bentak Asisten Kenz tersebut sambil menunjuk-nunjuk.
"Maafkan saya pak." jawab Anita dengan giginya di tekan karena menahan emosi.
"Ya sudah sana ke tempatmu," perintah Asisten Kenz dengan sombongnya.
"Cihhh... lihat saja nanti. ngga ada orang yang berani bentak gue," pikir Anita dengan emosi sambil berjalan menuju tempat sekretaris.
Asisten tadi mengirim pesan kepada atasan untuk memberi tahu bahwa Nasha sudah ada di kantor.
From : Asisten Kenz
Sekretaris bernama Nasha sudah masuk kerja pak, dan sudah saya suruh ke ruangannya.
Replay ? yes
Setelah mengirim pesan tersebut, Asisten Kenz mulai bekerja seperti biasa.
To : Asisten Kenz
Terima kasih infonya. kembali bekerja.
send ? Yes
Kenz yang dapat pesan tersebut mulai memikirkan caranya untuk membalas semua perbuatan Nasha yang sudah membuat api amarah Kenz menyala dan membakar.
Kenz sambil berpikir dengan muter-muter di bangku kebesarannya itu, m3ndapat sebuah ide yang membuat dirinya puas sekali apa yang terjadi dengan sekretaris barunya itu.
di Ruangan Sekretaris
"Akh... leganya coba buka pesan dulu." ucap Anita takut ada pesan dari Nasha. namun sebelum membuka pesan telpon kantor berbunyi.
kring... Kring...
"Siapa lagi sih." pikir Anita dengan males mengangkat telpon yang berada di mejanya.
"Nasha tolong buatkan saya kopi ya!" perintah Kenz dari dalam ruangan.
"Tapi tuan saya... " Ucap Anita kaget.
"Ngga ada tapi-tapian apa kamu mau di pecat dan ganti rugi," sela Kenz dengan nada intimidasi dan ancaman.
"Jangan tuan, baik saya buatkan." Ucap Anita pasrah karena kasihan dengan Nasha kalau sampai di pecat.
"Jangan lama-lama," perintah Kenz lagi. Kenz yang berada di ruangannya menelpon dengan menahan tawa agar tidak ketahuan bahwa dia mengerjainya.
setelah beberapa menit, Anita membawakan kopi yang diminta oleh Kenz sebagai atasannya di kantor.
"Ini tuan, saya izin kembali ke ruangan saya." ucap Anita yang geram dengan Kenz.
"Siapa yang izinin kamu untuk ke luar dari sini, kamu tulis dokumen penting itu dan jadwal saya meeting dengan menggunakan tulis tangan" teriak Kenz dengan suara lantangnya sambil menunjuk ke arah meja yang terdapat 50 lembar dokumen.
"Segitu Tuan," keluh Anita yang melihat setumoukan dokumen di meja.
"Keberatan, kalau gitu tambah jadi 100 dokumen harus selesai sebelum pulang," Perintah Kenz dengan nada meninggi.
di kantor Anggara
sedangkan di kantor keluarga Anita tempat Nasha berada. sejumlah karyawan memberi hormat kepada Nasha yang menjadi Anita dan Tuan Anggara tentu saja ayah dari Anita.
kecuali satu orang dengan blazer berwarna putih dan rambut yang di gerai untuk mengoda Tuan Anggara.
"Selamat pagi Tuan... " sapa salah satu Karyawan Tuan Anggara. ya sebut saja Ayu yang bekerja sebagai Asisten Tuan.
"Pagi... " jawab Tuan Anggara sikat dan dingin.
namun belum saja, Nasha menanyakan perihal perempuan itu. Ayu menoleh dengan tatapan sinisnya pertanda tidak suka.
"Kamu ... Anita ya, anak dari Tuan Anggara." ucap Ayu dengan nada angkuh.
"Iya, sedangkan kamu..... " jawab Nasha terpotong karena Tuan Anggara menjelaskan.
"Dia, Ayu Asisten papa. Sudah saatnya di umumkan sayang." ujar Tuan Anggara sambil memukul gelas pelan oertanda semua karyawan harus berkumpul.
"Baik pa... "Jawabku sambil senyum menyela ke arah Ayu.
"Mohon Perhatiannya... saya di sini mau mengumumkan bahwa anak saya yang bernama Anita akan menjadi presiden direktur PT. AR dan mohon kerja sama kalian." jelas Tuan Anggara merangkul Nasha.
"Sial ... kenapa dia yang jadi direktur, anak bocah yang tidak tahu apa-apa tentang manajemen bisnis," gerutu Ayu tidak terima dengan penyerahan posisi tertinggi di perusahaan ini.
"Mohon kerja sama kalian." ucap Nasha dengan sopan dan anggun khalayaknya orang yang terpandang.
"Mohon bimbingannya," jawab karyawan serentak kecuali Ayu yang masih gerutu dan kesal.
setelah pengumuman tersebut Nasha dan Tuan Anggara ke tempat direktur utama dimana Nasha akan kerja di ruangan tersebut. namun Ayu terus mengikuti.
"Berikan yang terbaik untuk papa dan perusahaan ini. dan di sini sudah papa siapin kebutuhanmu untuk menjalankan perusahaan ini." ucap Tuan Anggara dengan lembut.
"Baik pa." jawab Nasha mengerti.
namun Ayu berusaha untuk menggagu ketika Nasha mencoba untuk memahami, karena Ayu merasa Nasha adalah saingannya dimana ketika ia berusaha belajar memahami. Nasha akan semakin maju dan membuat bangga Tuan Anggara.
"Ini itu gini... " jelas Ayu sok pintar mengajari Nasha walaupun Nasha tidak butuh bantuannya.
"Maaf saya tidak butuh bantuan Anda," tegas Nasha dengan nada meninggi.
"Saya hanya ingin membantu." ucap Ayu berbohong karena ingin mendapat perhatian Tuan Anggara agar dapat posisi Direktur.
"Saya tawu rencanamu..." ancam Nasha dengan nada semakin tinggi.
"Sial kenapa dia tahu," pikir Ayu yang gugup untuk menjawab perkataan Nasha.
"Be... beneran ko... sa... saya hanya membantu," gugup Anita berkeringat.
"Kalau membantu sebaiknya kamu kembali ke ruangan saja," usir Nasha yang tidak suka dengan sikap ke sok pintarannya.
Tiba-tiba Tuan Anggara yang sedari tadi di sofa ruang direktur terus memerhatikan sampai menghampiri Nasha yang sedang emosi karena tingkah Ayu.
"Ada apa ini ?" tanya tuan Anggara melihat perdebatan ini.
"Tidak apa-apa pa... iya kan," jawab Nasha menoleh ke arah Ayu dengan menekankan giginya.
"Bener ko tuan. tidak ada apa-apa," ucap Ayu yang melihat Nasha dengan mengancam.
"Ya sudah kalau tidak apa-apa. Papa pulang ya," pamit papa ke Nasha yang sedang membaca.
"Hati-hati Pa," kata Nasha tersenyum.
"Kalau ada apa-apa Sms papa aja," pinta Tuan Anggara sambil keluar ruang direktur.
"Baik pa." jawab Nasha agar bisa Tuan Anggara tenang.
"Sekarang juga kamu keluar," usir Nasha keras.