
Di tengah perbincangan keluarga yang baru bertemu, Dokter Iren datang untuk melihat perkembangan sudah sejauh mana. Kalau memungkinkan untuk kondisi pasien jauh lebih baik, kemungkinan akan diperbolehkan pulang hari ini. Dan tidak lupa Anatasya akan dipindahkan ke kamar inap VVIP agar lebih kondusif, melakukan perawatan yang terbaik atas permintaan Tuan Anggara demi orang terkasih, tersayang.
“Permisi... Maaf mengganggu kalian sedang bicara. Ibu Anatasya mau diperiksa ulang,” ucap Dokter iren yang sudah berada di depan pintu mengenakan jubah putih kedokteran beserta alat periksa teleskop yang berada di lehernya.
“Silahkan Dok... kami izin keluar sebentar,” seru Tuan Anggara mengajak kedua putrinya Anita dan Nasha keluar dari kamar dan menunggu dibangku depan kamar tersebut.
Di dalam Kamar Inap
Dokter memeriksa detak jantung menggunakan stestoskop, mata menggunakan senter khusus serta mulut menggunakan senter untuk mengetahui kondisi pasien bernama Anatasya.
“Ibu kondisi sudah membaik namun belum stabil karena mesti melakukan pengecekan di laboratorium untuk mengetahui di dalam tubuh,” saran Dokter iren ramah dan tersenyum melihat Anatasya.
“Terima kasih Dok,” ucap Anatasya.
"sama-sama. istirahat ya bu, dalam beberapa hari setelah kondisi stabil. ibu akan diizinkan untuk pulang," ucap Dokter iren menepuk tangan pasiennya bernama Anatasya agar istirahat cukup agar kondisi membaik.
Tuan Anggara yang melihat Dokter Iren pergi keluar segera mengajak Nasha dan Anita untuk masuk kembali, menemani Anatasya agar tidak bosan di rumah sakit.
"Gimana sayang, apa yang dikatakan dokter tadi ?" tanya Tuan Anggara yang belum sempat menanyakan kondisi orang yang disayang karena dokter iren sudah menjauh.
"Aku harus di rumah sakit untuk beberapa hari lagi memeriksa tubuh bagian dalam sampai kondisi stabil," jawab Anatasya tersenyum dengan wajah pucat, bibir ungu, dan mata yang sayu.
"Ibu istirahat aja sekarang, kita semua ada disini," ucap Nasha memegang lembut tangan ibunya yang lemah.
"Terima kasih ya semua," kata Anatasya bersyukur mempunyai suami yang dulu sangat di sayangin, anak seperti Anita dan Nasha.
Tuan Anggara, Anita dan Nasha menjawabnya dengan sebuah senyuman tulus untuk menguatkan hati Anatasya agar bisa segera sembuh, dan berkumpul dengan mereka seperti dulu sebelum mertuanya mengusir mereka berdua.
Di Kantor Kenz
Kenz yang masih memikirkan gambar yang dikirim oleh Haikal, banyak pertanyaan yang ada dalam benaknya terutama sosok Nasha secara tidak sengaja mengisi kekosongan hatinya yang sempat hilang.
Dan sekarang yang dirasakan ketika Nasha tidak masuk. membuatnya semakin tidak tenang, gelisah apa yang sedang dilakukan karyawannya itu, dan sebenarnya yang terjadi. Kini Kenz hanya bisa menunggu Nasha masuk kerja dan bertanya langsung apa yang ada dipikirannya.
'Sha... kenapa kalau kamu nggak ada hatiku sepi, sunyi, dan tidak tenang seperti ini dan kamu sebenarnya siapa ?' guman Kenz dalam hati, melihat tempat kerja Nasha dari jendela ruangannya.
Nasha yang berada di rumah sakit tidak mengetahui bahwa atasannya secara langsung menaruh perasaan padanya, Nasha hanya tawu perhatian Kenz terhadapnya hanya sebagai bentuk peduli atasan dengan bawahan bukan seorang pria dengan wanita yang disayangin.
Nasha karena melihat kondisi ibunya membaik, segera menghubungin atasannya agar diperbolehkan kerja kembali walaupun Tuan Anggara tidak tahu bahwa anaknya itu kerja di tempat Kenz.
To Atasan
Pak, ibu saya sudah membaik. besok saya akan kerja kembali dan terima kasih sudah memberikan cuti untuk merawat ibu.
Send ? Yes.
Tuan Anggara tidak sengaja menangkap basah Nasha mengirim pesan kepada atasannya tersebut.
"Sha... kamu kerja dimana sayang ?" tanya Tuan Anggara penasaran yang melihat pesan Nasha.
"Ada Pa, di sebuah perusahaan," jawab Nasha bingung menjelaskannya.
ditengah suasana yang menegangkan, membingungkan. suara lantunan lagu kesempurnaan cinta terdengar dari handphone milik Nasha tanda seseorang sedang menelponnya
Nasha yang melirik ke arah saudaranya yang baru mengetahui itu, dengan kedipan mata memberikan kode agar dirinya bisa keluar untuk menjawab panggilan telepon dari atasannya itu. mau tidak mau, Anita mencari alasan kepada papanya.
"Papaku sayang... Anita dan Nasha mau ke toilet sebentar ya," izin Anita memegang tangan papanya itu dengan wajas memelas agar tidak dicurigai.
"Iya sudah. dari sana langsung kesini," ucap Papanya karena tidak tega untuk menolak anaknya itu.
Anita dan Nasha langsung pergi keluar ke toilet agar Nasha bisa menjawab panggilan. Anita membisikkan sesuatu kepada Nasha.
"Sha... untung aja, gue bisa cari alasan dengan cepat. sana angkat si manusia tidak punya hati itu," bisik Anita pelan sambil berjalan agar tidak lama keluar.
"Ok... makasih ya kak," ucap Nasha keceplosab memanggil Anita dengan sebutan kakak karena dirinya menerima Anita sebagai kakaknya.
Nasha : Hallo Pak ?
Kenz : Gimana kondisi ibu kamu ?
Nasha : Ibu sudah sadar Pak. sekali lagi saya terima kasih.
Kenz : Saya ikut senang dengarnya. oh iya ada yang saya mau bicarakan.
Nasha : Bicara apa ya pak.
Kenz : Nanti aja di kantor setepah masuk kerja.
Nasha : Baik pak.
Kenz mematikan telpon tersebut, namun tidak dengan Nasha yang masih penasaran dan bingung apa yang mau dibicarakan oleh atasan kepadanya.
Anita yang mengetahui bahwa Nasha bingung setelah menjawab panggilan dari atasan, mencoba bertanya.
"Sha... kenapa ?" tanya Anita menepuk pundak Nasha yang masih diam.
"Dia mau bicara serius sama gue kak. setelah masuk kerja nanti," jawab Nasha mendadak wajahnya pucat karena mempunyai firasat yang nggak enak bakal terjadi besok.
"Sudah ngga ada apa-apa," ucap Anita mencoba menenangkan saudaranya itu.
'Sepertinya gue harus lakuin sesuatu nih. lihat Nasha yang begitu kebingungan, ngga tega juga kalau dia masuk kerja takut dikerjain sama dia lagi," pikir Anita mencoba mencari solusi.
Anita dan Nasha berjalan kembali ke kamar VIP tempat ibu mereka di rawat. namun Nasha yang masih memikirkan ucapan dari Kenz masih bertanya apa yang akan terjadi.
'Apa yang mau dibicarakan sama Kenz, aku harus apa ? apa aku ada salah lagi ? atau kerja aku ngga benar ? sebaiknya nanti aku minta tolong saja sama Anita biar dia yang bantu cari solusi," pikir Nasha yang masih banyak tanda tanya di benaknya.
Ternyata kakak adek ini satu sama lain terhubung dalam pikirannya, Anita yang ingin menolong Nasha adeknya dan Nasha yang meminta bantuan kepada Anita untuk masalah ini.
Sedangkan Kenz di ruangannya setelah mendengar suara dari Nasha. hatinya berbunga dan tidak sadar dirinya terseyum manis.
'Aikhhh... knp hati gue jadi kesenangan gini setelah mendengar suaranya itu,' pikir Kenz yang merasa bukan dirinya.