
“ Sha… I just want to say, I
Love You.” Ucap Kenz mengulang ungkapannya itu dengan tatapan lembut yang
membuat semua wanita begitu melihat mata tersebut langsung terbius suasana yang
penuh cinta.
Anita yang saat itu hanya
menggantikan Nasha, tidak bisa berkata – kata mendengar atasan adeknya itu
mengungkapkan perasaannya karena sesuatu yang sangat lama dipendam ketika Anita
dan Kenz sewaktu masa kuliah bersama. Anita sangat mengagumi Kenz yang
berwibawa ketika menjadi ketua mahasiswa di kampusnya.
Anita belum bisa menjawab
ungkapan hati Kenz karena perasaannya bukan untuk dirinya melainkan untuk Nasha
adeknya. Hatinya sakit, hancur dan kecewa yang begitu besar kenapa mesti Nasha
lah yang mendapatkan hati Kenz, batinnya tidak terima, Anita selama ini
menunggu Kenz menerimanya bahkan Anita mau bertukar peran dengan Nasha hanya
ingin lebih dekat dengannya.
“Sha… jawaban kamu apa ?” tanya
Kenz menanti jawaban pernyataan dirinya yang sudah terlalu menahan gengsinya
untuk mengungkapkan perasaanya itu.
“Ekh… maaf pak, saya belum bisa
menjawabnya. Saya permisi dulu.” Ucap Anita meninggalkan ruangan Kenz dan berlari ke toilet untuk
menahan tangisannya yang tidak bisa dibendung kalau berlama-lama dekat dengan
KEnz.
Kenz yang tidak tahu bahwa itu
bukan gadis yang dicintainya itu berjalan pergi meninggalkan ruangan itu tidak
bisa mengerjainya karena sudah berlari menjauh. Kenz hanya bisa melihatnya
dengan tatapan sedih dan bingung kenapa Nasha malah meninggalkan membuat
pertanyaan pada dirinya.
“Sha… apa aku salah menyatakan
perasaan kepada kamu kalau aku sayang dan cinta sama kamu, sehingga kamu
ninggalin aku tanpa penjelasan. Itu hanya membuatku semakin sedih.” Pikir Kenz
yang bingun tidak tahu harus berbuat apa.
Anita yang berlari ke toilet,
tidak bisa berdiam diri di kantor tersebut karena hatinya yang hancur,
tiba-tiba Anita mendapat pesan dari Nasha menanyakan apa yang ingin dibicarakan
oleh atasan kepadanya.
To Anita
Nita, kamu lagi ngapain ?
Send ? Yes
Nasha yang menunggu balesan dari
Anita merasa was – was sambil tiduran di sofa karena merasa lelah semalaman
karena menjaga ibu. Dengan rasa berat hati Anita membalasnya dan membohonginya.
From Anita
Lagi merias diri di kamar
mandi habis sarapan tadi takut ada yang berantakan.
Replay ? YesDalam batinnya
Anita terus meminta maaf membohongin Nasha karena takut menanyakan apa yang
To Anita
Gimana,
Tadi Kenz bicara apa sama kamu ?
Send ? Yes
From Anita
Tadi dia
bicara, dia bersyukur kamu bisa masuk lagi karena sudah banyak jadwal yang
harus di atur untuk pertemuan selanjutnya.
Replay ? YesSekarang malah
Anita mengarang cerita tentang apa yang dibicarakan Kenz kepadanya agar Nasha
tidak mengetahui bahwa atasannya tersebut sudah menyatakan dan menaroh
perasaannya kepadanya.
To Anita
Terima
kasih ya kak, sudah mau menggantikan aku di sana.
Send ? YesNasha yang
tidak mengetahui bahwa Anita sedang mengarang cerita, ada perasaan lega di
hatinya kalau atasannya bicara tentang kerjaanya di kantor bukan tentang
pemecatan dirinya yang takut ada kesalahan sewaktu melakukan rescedul jadwal
pertemuan dengan rekannya.
Anita mencoba
menenangkan pikirannya dan berpikir jernih untuk memberanikan diri meminta izin
pulang cepat karena hatinya yang sakit. Namun lagi-lagi Anita menutupi matanya
yang membengkak akibat nangis dengan oleskan bedak. Dan berusaha menyembunyikan
perasaannya yang kacau hari ini yang telah terjadi.
Dalam berjalan
ke ruangan direktur, Anita berulang kali membuang nafas perlahan sambil
memikirkan alasan yang akan ia pakai untuk izin kerja setengah hari. “Tenang…
Nita, Tenanglah jangan sampai ada yang mencurigakan atau Kenz mengetahui bahwa
kamu bukanlah Nasha,” pikir Anita berulang kali mengucapkan dalam hatinya.
“Pak, saya
mohon izin pulang cepat karena tidak enak badan. Nanti kerjaan akan saya
rapikan setibanya di apartemen,” ucap Anita bohong menutupi hatinya yang terasa
sangat sakit ketika melihat wajah laki-laki yang ia kagumin.
“Baiklah Sha…
dikira aku kamu marah atas kejadian tadi.” Kata Kenz tidak enak hati melihatnya
menutupi dirinya.
“Terima kasih
pak.” Ucap Anita berjalan keluar ruangan dan menempati meja kerjanya dengan
pikiran yang tidak tenang.
Anita tidak
tahu harus berapa lama menyembunyikan semua ini dari Nasha, karena suatu saat
pasti akan terbongkar semuanya dan yang ditakuti Nasha membenci dirinya yang
telah mencoba membohonginya.