
Anatasya yang tengah ngobrol hangat dengan mantan suaminya
itu membicarakan sesuatu hal yang sangat penting, di luar kamar inap Anita dan
Nasna yang baru saja sampai dari arah toilet melihat pemandangan yang indah
karena kedua orang tuanya saling tersenyum satu sama lain membuat Anita ingin
meledeknya.
Berbeda dengan Nasha yang sudah ambil sikap untuk mencegah
Anita untuk membuat kedua orang tuanya itu jadi kaku dengan kehadiran mereka
berdua. Nasha membisikkan sesuatu kepada kakanya untuk memasuki kamar tanpa
diketahui agar bisa melihat senyuman dari orang yang tersayang itu.
“ Kakak… jalan ke kamar pelan-pelan aja, jangan sampai
suasana ini beku dan kaku karena kita datang. Apalagi mereka berdua sudah
terpisahkan puluhan tahun.” Bisik Nasha dengan nada suara yang amat sangat
pelan agar kehadirannya tidak membuat orang yang di dalam kamar menyadarinya.
“Iya, kaka setuju saran kamu. Apalagi papa selama ini belum
pernah tersenyum seperti itu karena kesibukkan kerjaanya.” Jawab Anita dengan
anggukan kepalanya menandakan dirinya sangat menyukai apa yang diucapkan oleh
Nasha.
Mereka berduapun melepas sepatu dan memilih untuk berjalan
tanpa menggunakan alas kaki agar langkah mereka berdua Nasha, Anita tidak
didengar oleh orang tuanya. Anita yang sudah hamper mendekati kasur rumah sakit
berjalan dengan sangat pelan dan sangat berhati-hati sedangkan Nasha menutup
pintu dengan sangat lembut, perlahan agar tidak terdengar baru selesai dari
sana memilih berdiri di dekat jendela kamar.
“Ekheumm…” Anita berpura-pura batuk di dekat ibu, papanya
agar tidak menyueki Nasha dan dirinya yang sudah berada di dalam, serta tidak
memperlihatkan keromantisan orang tuanya yang sudah berpisah sangat lama.
Tuan Anggara tersenyum kecil melihat bahwa anaknya itu
memperhatikan keromantisan dan keharmonisan antara dirinya bersama mantan
istrinya itu, berbeda dengan Anatasya yang malu melihat Nasha, dan Anita sudah
berada di dalam berusaha menjawab dengan sedikit gugup.
“Ka… Ka li an sudah lama ada di dalam, kok ibu nggak
mendengar ada ketukan pintu.” Gugup Anatasya dengan tatapan tersipu malu
melihat anaknya sudah ada di dalam tanpa di sadari.
“Sudah bu… lanjut saja mesranya, kami sangat paham dan
mengerti kok.” Ucap Nasha dengan santai dan tersenyum melihat raut wajah milik
ibunya tersebut.
Tiba-tiba Nasha teringat apa yang dibicarakan tadi oleh
atasannya tersebut, segera menghampiri Anita untuk membisikkan apa yang sedang
dipikirkannya karena Nasha mengetahui bahwa Anita pasti akan membantunya dengan
senang. “Kak Anita, Nasha minta tolong boleh nggak ?”
Anita yang melihat gerak-gerik Nasha daritadi sudah paham
arah tujuannya pasti meminta bantuan untuk menggantikan besok kerja di tempatnya
menghindari pembicaraan besok antara atasan dengan Nasha. Dan benar saja
adeknya membisikkan meminta bantuan karena sudah mengetahui maksudnya, Anitapun
langsung membalas permintaan dari Nasha.
“Baiklah gue bantu gantiin besok Lo kerja.” Jawab Anita
dengan suara yang sangat pelan namun terdengar sedikit oleh Tuan Anggara lalu
melirik kedua anaknya itu dengan tatapan yang tajam.
Anita yang merasakan lirikan tajam dari papanya membuat mati
kutu tidak berani untuk berbicara banyak, apalagi kalau mengetahui bahwa putri
keduanya bekerja di perusahaan partner bisnisnya yang masih terbilang muda.
Anitapun berpikir “maafkan gue Nasha papa sepertinya mendengar apa yang tadi
gue bilang ke lo.”
Tuan Anggarapun mencoba untuk tidak bertanya lebih jauh demi
kenyaman Nasha karena pertemuan pertama setelah mengetahui bahwa Nasha adalah
anak keduanya tersebut, untuk sekarang Nasha dan Anita bisa merasa tenang
karena terhindar dari protektif sang papanya.
Anita meminta izin kepada papanya untuk main ke rumah
temannya untuk membicarakan hal yang penting walaupun sebenarnya hanya sebuah alasan
agar diperbolehkan untuk keluar sehari demi Nasha yang tidak mau bertemu dengan
Kenz karena ada yang ingin dibicarakan.
“Papa… Anita izin yam au ke tempat Siska, boleh ya ?” bujuk
Anita memohon kepada papanya dengan wajahnya yang memelas.
“Kamu kan bisa temenin Nasha di rumah sakit kepada harus ke
rumah temanmu sih.” Tegas Tuan Anggara yang meminta Anita menemani saudaranya
merawat istrinya dibadingkan main ke rumah temannya.
“Ayolah papa, boleh ya?” bujuk Anita tidak menyerah sampai
papanya membolehkan dirinya untuk keluar yang dia mau.
“Ya sudah… tapi sore kamu gentian rawat ibu. Kasihan Nasha
yang kelelahan hampir 2 minggu merawat ibu.” Jawab Tuan Anggara memperbolehkan
dengan satu syarat untuk Anita.
“Baiklah Anita mau. Terima kasih pa.” Ucap Anita memeluk
papanya karena memperbolehkan dirinya keluar dan melanjutkan renacanya untuk
menggantikan Nasha kerja.
Anitapun berangkat ke apartemen untuk membawa pakaian Nasha
dan membawakan ke rumah sakit serta memakainya di sana karena tidak mungkin
Anita memakai pakaian bermerek ke kantor Kenz yang ada malah curiga pada Anita
yang sedang menggantikan Nasha kerja. Sedangkan Nasha yang berada di rumah
sakit berharap Ayahnya memberikan izin kepada kakaknya untuk keluar agar bisa
membantunya. “Semoga Ayah bolehin Anita keluar dengan bebas tanpa introgasi
terlebih dahulu.”
Anita mengambil beberapa helai pakaian dan segera bergegas
agar tidak terlambat untuk berangkat ke kantor kenz karena harus berganti
pakaian di rumah sakit untuk memberikan kepada Nasha. Di dalam mobil Anita yang
juga ingin mengetahui apa yang dibicarakan oleh Kenz kepada Nasha terus
membuatnya penasaran.
Dua jam kemudian, Anita bergegas ke kamar inap VIP untuk
berganti pakaian dan pamit kepada ibunya yang sedang istirahat agar tidak
memakan waktu lama. Setelah rapi berpakaian Anita mencium kening sang ibu dan
membisikkan kepada Nasha yang sedang duduk sambil meminum teh melati.
“Doain ya semoga sekarang ngga akan ketahuan bahwa lo itu gue
disana.” Bisik Anita pelan.
“iya.” Jawab Nasha cepat dan singkat karena tahu bahwa Anita
sudah dikejar waktu untuk masuk kerja.
Anita pun berangkat menggunakan gray bike untuk segera sampai
di kantor tempat Nasha bekerja sebelum Kenz sampai agar bisa sempat untuk
sarapan terlebih dahulu di pantry. Tidak memakan waktu lama untuk sarapan,
Anita yang menggantikan Nasha langsung pergi meja Nasha untuk menyambut Kenz
yang sebentar lagi akan sampai kantor.
Di Luar Kantor
Kenz yang mengendarai mobil ario berwarna putih keluar dengan
gagah dan menyuruh petugas untuk memarkirkan mobilnya. Staff yang berada
di dalam begitu melihat Kenz langsung berdiri dan menunduk menghormati pemilik
kantor datang begitupun dengan Anita yang sedang menggantikan posisi Nasha.
Kenz yang melihat ke arah Anita menyuruhnya untuk ikut masuk
ke dalam ruangannya karena ada yang ingin di sampaikan dengan serius yang
berkaitan dengan fhoto yang dikirim oleh Haikal. Begitu melihat wajah Anita,
pertanyaan itu diurungkan malah mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam.
“ Sha.. I just want to say, I love you.” Ungkap Kenz
yang malu, gugup jika menggunakan bahasa Indonesia karena mengungkapkan
perasaan kepada Nasha adalah gengsi yang sangat amat besar mengenai dirinya
yang pernah membuat jebakan untuk Nasha demi balas dendam pada waktu tidak
sengaja bertemu.