Me And Mr Perfect

Me And Mr Perfect
Bab 22 Ungkapan Hati



Anatasya yang tengah ngobrol hangat dengan mantan suaminya


itu membicarakan sesuatu hal yang sangat penting, di luar kamar inap Anita dan


Nasna yang baru saja sampai dari arah toilet melihat pemandangan yang indah


karena kedua orang tuanya saling tersenyum satu sama lain membuat Anita ingin


meledeknya.


Berbeda dengan Nasha yang sudah ambil sikap untuk mencegah


Anita untuk membuat kedua orang tuanya itu jadi kaku dengan kehadiran mereka


berdua. Nasha membisikkan sesuatu kepada kakanya untuk memasuki kamar tanpa


diketahui agar bisa melihat senyuman dari orang yang tersayang itu.


“ Kakak… jalan ke kamar pelan-pelan aja, jangan sampai


suasana ini beku dan kaku karena kita datang. Apalagi mereka berdua sudah


terpisahkan puluhan tahun.” Bisik Nasha dengan nada suara yang amat sangat


pelan agar kehadirannya tidak membuat orang yang di dalam kamar menyadarinya.


“Iya, kaka setuju saran kamu. Apalagi papa selama ini belum


pernah tersenyum seperti itu karena kesibukkan kerjaanya.” Jawab Anita dengan


anggukan kepalanya menandakan dirinya sangat menyukai apa yang diucapkan oleh


Nasha.


Mereka berduapun melepas sepatu dan memilih untuk berjalan


tanpa menggunakan alas kaki agar langkah mereka berdua Nasha, Anita tidak


didengar oleh orang tuanya. Anita yang sudah hamper mendekati kasur rumah sakit


berjalan dengan sangat pelan dan sangat berhati-hati sedangkan Nasha menutup


pintu dengan sangat lembut, perlahan agar tidak terdengar baru selesai dari


sana memilih berdiri di dekat jendela kamar.


“Ekheumm…” Anita berpura-pura batuk di dekat ibu, papanya


agar tidak menyueki Nasha dan dirinya yang sudah berada di dalam, serta tidak


memperlihatkan keromantisan orang tuanya yang sudah berpisah sangat lama.


Tuan Anggara tersenyum kecil melihat bahwa anaknya itu


memperhatikan keromantisan dan keharmonisan antara dirinya bersama mantan


istrinya itu, berbeda dengan Anatasya yang malu melihat Nasha, dan Anita sudah


berada di dalam berusaha menjawab dengan sedikit gugup.


“Ka… Ka li an sudah lama ada di dalam, kok ibu nggak


mendengar ada ketukan pintu.” Gugup Anatasya dengan tatapan tersipu malu


melihat anaknya sudah ada di dalam tanpa di sadari.


“Sudah bu… lanjut saja mesranya, kami sangat paham dan


mengerti kok.” Ucap Nasha dengan santai dan tersenyum melihat raut wajah milik


ibunya tersebut.


Tiba-tiba Nasha teringat apa yang dibicarakan tadi oleh


atasannya tersebut, segera menghampiri Anita untuk membisikkan apa yang sedang


dipikirkannya karena Nasha mengetahui bahwa Anita pasti akan membantunya dengan


senang. “Kak Anita, Nasha minta tolong boleh nggak ?”


Anita yang melihat gerak-gerik Nasha daritadi sudah paham


arah tujuannya pasti meminta bantuan untuk menggantikan besok kerja di tempatnya


menghindari pembicaraan besok antara atasan dengan Nasha. Dan benar saja


adeknya membisikkan meminta bantuan karena sudah mengetahui maksudnya, Anitapun


langsung membalas permintaan dari Nasha.


“Baiklah gue bantu gantiin besok Lo kerja.” Jawab Anita


dengan suara yang sangat pelan namun terdengar sedikit oleh Tuan Anggara lalu


melirik kedua anaknya itu dengan tatapan yang tajam.


Anita yang merasakan lirikan tajam dari papanya membuat mati


kutu tidak berani untuk berbicara banyak, apalagi kalau mengetahui bahwa putri


keduanya bekerja di perusahaan partner bisnisnya yang masih terbilang muda.


Anitapun berpikir “maafkan gue Nasha papa sepertinya mendengar apa yang tadi


gue bilang ke lo.”


Tuan Anggarapun mencoba untuk tidak bertanya lebih jauh demi


kenyaman Nasha karena pertemuan pertama setelah mengetahui bahwa Nasha adalah


anak keduanya tersebut, untuk sekarang Nasha dan Anita bisa merasa tenang


karena terhindar dari protektif sang papanya.


Anita meminta izin kepada papanya untuk main ke rumah


temannya untuk membicarakan hal yang penting walaupun sebenarnya hanya sebuah alasan


agar diperbolehkan untuk keluar sehari demi Nasha yang tidak mau bertemu dengan


Kenz karena ada yang ingin dibicarakan.


“Papa… Anita izin yam au ke tempat Siska, boleh ya ?” bujuk


Anita memohon kepada papanya dengan wajahnya yang memelas.


“Kamu kan bisa temenin Nasha di rumah sakit kepada harus ke


rumah temanmu sih.” Tegas Tuan Anggara yang meminta Anita menemani saudaranya


merawat istrinya dibadingkan main ke rumah temannya.


“Ayolah papa, boleh ya?” bujuk Anita tidak menyerah sampai


papanya membolehkan dirinya untuk keluar yang dia mau.


“Ya sudah… tapi sore kamu gentian rawat ibu. Kasihan Nasha


yang kelelahan hampir 2 minggu merawat ibu.” Jawab Tuan Anggara memperbolehkan


dengan satu syarat untuk Anita.


“Baiklah Anita mau. Terima kasih pa.” Ucap Anita memeluk


papanya karena memperbolehkan dirinya keluar dan melanjutkan renacanya untuk


menggantikan Nasha kerja.


Anitapun berangkat ke apartemen untuk membawa pakaian Nasha


dan membawakan ke rumah sakit serta memakainya di sana karena tidak mungkin


Anita memakai pakaian bermerek ke kantor Kenz yang ada malah curiga pada Anita


yang sedang menggantikan Nasha kerja. Sedangkan Nasha yang berada di rumah


sakit berharap Ayahnya memberikan izin kepada kakaknya untuk keluar agar bisa


membantunya. “Semoga Ayah bolehin Anita keluar dengan bebas tanpa introgasi


terlebih dahulu.”


Anita mengambil beberapa helai pakaian dan segera bergegas


agar tidak terlambat untuk berangkat ke kantor kenz karena harus berganti


pakaian di rumah sakit untuk memberikan kepada Nasha. Di dalam mobil Anita yang


juga ingin mengetahui apa yang dibicarakan oleh Kenz kepada Nasha terus


membuatnya penasaran.


Dua jam kemudian, Anita bergegas ke kamar inap VIP untuk


berganti pakaian dan pamit kepada ibunya yang sedang istirahat agar tidak


memakan waktu lama. Setelah rapi berpakaian Anita mencium kening sang ibu dan


membisikkan kepada Nasha yang sedang duduk sambil meminum teh melati.


“Doain ya semoga sekarang ngga akan ketahuan bahwa lo itu gue


disana.” Bisik Anita pelan.


“iya.” Jawab Nasha cepat dan singkat karena tahu bahwa Anita


sudah dikejar waktu untuk masuk kerja.


Anita pun berangkat menggunakan gray bike untuk segera sampai


di kantor tempat Nasha bekerja sebelum Kenz sampai agar bisa sempat untuk


sarapan terlebih dahulu di pantry. Tidak memakan waktu lama untuk sarapan,


Anita yang menggantikan Nasha langsung pergi meja Nasha untuk menyambut Kenz


yang sebentar lagi akan sampai kantor.


Di Luar Kantor


Kenz yang mengendarai mobil ario berwarna putih keluar dengan


gagah dan menyuruh petugas untuk memarkirkan mobilnya. Staff yang berada


di dalam begitu melihat Kenz langsung berdiri dan menunduk menghormati pemilik


kantor datang begitupun dengan Anita yang sedang menggantikan posisi Nasha.


Kenz yang melihat ke arah Anita menyuruhnya untuk ikut masuk


ke dalam ruangannya karena ada yang ingin di sampaikan dengan serius yang


berkaitan dengan fhoto yang dikirim oleh Haikal. Begitu melihat wajah Anita,


pertanyaan itu diurungkan malah mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam.


“ Sha.. I just want to say, I love you.” Ungkap Kenz


yang malu, gugup jika menggunakan bahasa Indonesia karena mengungkapkan


perasaan kepada Nasha adalah gengsi yang sangat amat besar mengenai dirinya


yang pernah membuat jebakan untuk Nasha demi balas dendam pada waktu tidak


sengaja bertemu.