
Melihat ibu dan Anita sedih, Nasha tidak ingin membuatnya
semakin sakit tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nasha mencoba
memberanikan diri mengetuk pintu pelan-pelan agar ibu tidak kaget melihat aku
datang tiba-tiba. Nasha berkecamuk pikirannya dan yang harus menyelesaikan ini
semua harus ada yang berkorban. Akhirnya Nasha mencoba mencari solusi nantinya
dan semoga apa yang didapat ibu bisa setuju dengannya.
Tok… tok…
Ketukan pintu terdengar dari dalam kamar, ibu yang
memperhatikan Anita tertidur menoleh ke arah pintu itu. Ibupun menghampiri
Nasha di depan pintu untuk mengajak masuk ke dalam dan menanyakannya.
“Nak… kamu dari mana saja, ibu cari kamu disini malah ada
Anita ?” tanya ibu kembali ke tempat tidur rumah sakit, mencoba berbaring.
“Nasha dari kantin bu, tadi kak Anita pas datang, katanya laper. Ya sudah
sekalian aja Nasha ke kantin untuk makan. Kak Anita tidur ya bu (Nasha
berpura-pura tidak mengetahui kalau dirinya melihat ibu dan Kakaknya tadi).” Jawab
Nasha meletakkan makanan itu di meja dekat kasur.
“Iya pas ibu lagi cari kamu, ibu lihat Anita tidur mungkin
dia lelah tunggu kamu datang bawa makanan.” Ledek ibu melirik Nasha yang baru
datang dari kantin karena ibu tidak mengetahui bahwa Nasha dari tadi
memperhatikannya.
“Ibu lagi sakit sempat saja meledek Nasha.” Gerutu Nasha
memonyongkan bibirnya itu ke depan karena ibu meledeknya.
“Hehehehe… sudah sudah ibu minta maaf bukan maksud mau
meledek kamu.” Ucap ibu tertawa melihat sikap Nasha seperti anak kecil.
“Ibu kayaknya Nasha pulang dulu ya… mau bereskan apartemen
yang belum sempat dirapikan. Tidak apa-apakan bu ?” tanya Nasha yang mencoba
menyelesaikan permasalahannya itu dengan alasan membersihkan rumahnya agar
terlihat rapi.
“Iya sudah… tapi nanti kamu ke sini gentian jaganya sama
Anita.” Jawab ibu lembut membelai rambut anaknya yang terlihat rapi.
“Baiklah ibu… makasih ya. Anita bangunin aja, sekalian Nasha
mau pamit takut dia cariin Nasha kayak ibu tadi.” Saran Nasha berkemas untuk
pulang ke rumah dan membawa pakaian yang dibawa oleh Anita tadi pagi.
“Banguninnya pelan-pelan jangan kasar nanti yang ada Anita
dibangunin malah kaget.” Jawab ibu memperhatikan Nasha.
Nasha mengikuti saran ibu untuk membangungkannya pelan-pelan
agar tidak mengagetkan Anita yang sedang tertidur lelap dengan mengusap pundak
kakaknya itu. “Kaka Anita bangun… kak Anita bangun….” Panggil Nasha
membangunkan Anita dengan suaranya yang lembut.
Anita yang tidur dengan nyenyak karena kelelahan terbangun
dimana nyawa setengahnya masih terbang kea lam mimpin dan mencoba membuka mata
secara perlahan sambil menguceknya. Anita melebarkan tangannya ke atas karena
badannya terasa pegal sehabis tidur di sofa.
“Kamu Sha… kenapa, oh iya makanan yang aku pesan mana ?” tanya
Anita merapikan rambutnya yang berantakan sehabis tidur dan perutnya yang
terasa laper karena belum memakan apa-apa dari pagi. Dan melihat ada satu buah
selimut di diriya.
“Itu kak, ada di meja dekat kasur, Nasha pamit pulang mau
beres-beres apartemen sudah ditinggal beberapa hari sama mau ambil pakaian ibu.”
Pinta Nasha menunjuk meja di samping kasur dan menggunakan tasnya untuk pulang.
Anita kaget mendengar bahwa Nasha akan pulang sekarang karena
dari pagi Nasha tidak bilang padanya kalau mau pulang sekarang. Anita tersadar
sesuatu, “apa Nasha pulang karena dirinya atau ada sesuatu ya. Kok tiba-tiba
mau pulang sekarang,” pikir Anita melihat Nasha sudah bersiap\=siap pulang.
“Ya sudah hati-hati. Atau mau aku anter ke apartemen,” tawar
Anita ingin mengantarkan adeknya ke apartemen dengan selamat dan ada yang mau
dibicarakan kepadanya.
“Ngga usah kak. Aku bisa kok sendiri naik kendaraan umum,
kakak jaga ibu dulu sementara. Besok aku ke sini kok gentian jaga lagi.” Tolak Nasha
tidak mau merepotkan Anita dan ingin kakaknya menjaga ibu saja.
“Hati-hati kamu Sha di jalan.” Ucap ibu melihat Nasha pergi
keluar kamar setelah berpamitan kepada Anita dan ibunya tersebut.
Nasha memesan Gray bike untuk pulang ke apartemen agar
segera cepat sampai di sana karena lelah badan dan batinnya setelah kejadian
yang dia dengar. Beberapa menit kemudian kendaraan yang dipesan dari aplikasi
online tersebut datang untuk menjemput, dalam perjalanan Nasha mencari solusi
yang tepat untuk semuanya sampai teringat dengan teman kuliahnya itu.
To Andini
Dini bisa ke apartemen gue ngga sekarang. Gue butuh lho.
Send? Yes
Beberapa menit kemudian
From Andini
Tumben lo Sha, sms gue. Jam berapa ke sana ?
Sekarang juga. Gue butuh teman sharing ni. Gue lagi
ada masalahhh
Send ? YesFrom Andini
YA…. Gue otw kesana mumpung habis pulang kuliah. Sekalian
gue bawa matkul yang gue catat buat lo.
Replay ? Yes‘Andini memang sahabat terbaikkk… sudah catatin matkul yang
tertinggal buat gue. Beruntungnya gue punya lo Dini. Karena asyik kerja dan
masalah sampai lupa gue harus kuliah,” pikir Nasha di perjalanan pulangnya.
Nasha yang sebentar lagi sampai di apartementnya, akhirnya
bisa bernafas dengan lega karena ada sahabatnya yang selalu ada disaat
dibutuhkan. Sedangkan Andini dari kampus mengendarai motor metiknya pergi ke
apaartemen Nasha atas permintaan sahabatnya itu yang tadi mengirim pesan.
Sepuluh menit kemudian, Nasha sampai di apartemennya dan
memberikan uang kepada pengemudi tersebut untuk membayarnya dengan total yang
sudah ditentukan dari aplikaasi tersebut. Nasha membuka pintu dan menyalakan
lampu agar terang lalu meletakkan barangnya di kamar untuk bisa mulai merapikan
sebelum Andini datang ke apartemennya.
‘Akhirnya selesai juga kerjaan rumah sekarang tinggal mandi
biar harum karena di rumah sakit belum sempat untuk mandi, habis itu baru masak
sambil tunggu Andini datang.’ Pikir Nasha menyiapkan baju ganti.
Beberapa jam kemudian, bunyi bel apartemen Nasha terdengar.
Nasha yang sudah menyiapkan makan segera membuka pintu dan melihat siapa yang
datang. Andini sudah datang dengan membawa barang yang berada di plastic dari supermarket
tersebut.
“Kebetulan lo sudah datang. Gue sudah masak buat kita makan. Lo
bakal nginepkan ?” tanya Nasha langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Sha… gue baru datang setidaknya kasih minum dan duduk dulu
sebelum lo tanya.” Jawab Andini meletekkan barang belanjaannya di meja ruang
tamu.
“Oh iya gue lupa, heheheh.” Ucap Nasha tertawa lupa
menawarkan Andini minum terlebih dahulu dan langsung bertanya apakah dia mau
menginap atau tidak.
Nasha menuangkan sirup untuk Andini yang baru sampai ke
apartemennya, dan menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya secara detail
sampai pada masalahnya sekarang yang dihadapi. Andini mendengar dan bisa
menyimpulkan bahwa yang terjadi dengan Nasha adalah cinta segitiga antara
Nasha, Kenz dan Anita.
“Sha… gue sih dukung lo. Karena gue yakin lo pasti punya
pilihan yang terbaik dan lo juga baru ketemu dengan keluarga lo yang utuh
setelah bertahun-tahun.” Saran Andini menepuk pundak Nasha yang duduk di
sebelahnya.
“Gue rencana mau resign dari kantor Kenz untuk menghindarinya
tapi gue nggak tahun mau kerja dimana lagi, karena nggak ada jaminan gue bisa
bersama kakak dan Ayah gue Dini.” Ucap Nasha mengingat nenek dari ayahnya
sangat membenci ibunya yang berpenampilan kampungan.
“Lo bisa kok. Nanti gue bilang bokap gue untuk masukin lo di
tempat kerjanya.” Saran Andini karena tahu bahwa Nasha lebih susah menghadapi
orang yang dicintai dan disayangi setiap hari untuk menghilangkan perasaannya.
“Thanks Friend. You are the best.” Ucap Nasha
menggunakan bahasa inggrisnya itu dan sekarang Nasha bisa tenang untuk
berpikir.
Andini bercerita tentang kejadian di kuliah sampai tidak
sadar waktu sudah menunjukkan malam, sebelum mereka berdua tidur untuk
beristirahat. Mereka merapikan kembali ruang tamu dan ruang makan agar bisa
tenang beristirahat tanpa mikirin berantakan.
Besok Harinya.
Andini dan Nasha membagi tugas sebelum berangkat ke tujuan
masing-masing, Nasha memasak untuk sarapan sedangkan Andini merapikan ruangan
dalam dan kamar karena hanya ada mereka berdua disana. Setelah mereka selesai, Nasha
dan Andini sarapan apa yang telah di masak oleh Nasha lalu berangkat.
Andini kembali ke kuliah karena ada jadwal pagi sedangkan
Nasha ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Kenz dan
berpura-pura tidak tahu apa-apa serta memberi alasan bahwa dirinya sudah harus
kuliah kembali dan juga magang di tempat kerja yang ditentukan oleh pihak
kuliah.
‘Ini yang terbaik buat semua dengan begitu tidak ada yang
tersakiti dan tanpa ibu dan Anita tahu bahwa aku sudah pindah kerja di tempat
lain.” Pikir Nasha mencoba untuk tenang.
Setelah Nasha sampai di kantor, Nasha menyerahkan surat
pengunduran diri kepada asisten Kenz untuk diserahkan karena Nasha tidak ingin
bertemu dengan atasannya tersebut. Dari sana Nasha langsung pergi ke rumah
sakit dan membeli buahan untuk ibunya agar segera sembuh.