Me And Mr Perfect

Me And Mr Perfect
Bab 25 Resign



Melihat ibu dan Anita sedih, Nasha tidak ingin membuatnya


semakin sakit tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Nasha mencoba


memberanikan diri mengetuk pintu pelan-pelan agar ibu tidak kaget melihat aku


datang tiba-tiba. Nasha berkecamuk pikirannya dan yang harus menyelesaikan ini


semua harus ada yang berkorban. Akhirnya Nasha mencoba mencari solusi nantinya


dan semoga apa yang didapat ibu bisa setuju dengannya.


Tok… tok…


Ketukan pintu terdengar dari dalam kamar, ibu yang


memperhatikan Anita tertidur menoleh ke arah pintu itu. Ibupun menghampiri


Nasha di depan pintu untuk mengajak masuk ke dalam dan menanyakannya.


“Nak… kamu dari mana saja, ibu cari kamu disini malah ada


Anita ?” tanya ibu kembali ke tempat tidur rumah sakit, mencoba berbaring.


“Nasha dari kantin bu, tadi kak Anita pas datang, katanya laper. Ya sudah


sekalian aja Nasha ke kantin untuk makan. Kak Anita tidur ya bu (Nasha


berpura-pura tidak mengetahui kalau dirinya melihat ibu dan Kakaknya tadi).” Jawab


Nasha meletakkan makanan itu di meja dekat kasur.


“Iya pas ibu lagi cari kamu, ibu lihat Anita tidur mungkin


dia lelah tunggu kamu datang bawa makanan.” Ledek ibu melirik Nasha yang baru


datang dari kantin karena ibu tidak mengetahui bahwa Nasha dari tadi


memperhatikannya.


“Ibu lagi sakit sempat saja meledek Nasha.” Gerutu Nasha


memonyongkan bibirnya itu ke depan karena ibu meledeknya.


“Hehehehe… sudah sudah ibu minta maaf bukan maksud mau


meledek kamu.” Ucap ibu tertawa melihat sikap Nasha seperti anak kecil.


“Ibu kayaknya Nasha pulang dulu ya… mau bereskan apartemen


yang belum sempat dirapikan. Tidak apa-apakan bu ?” tanya Nasha yang mencoba


menyelesaikan permasalahannya itu dengan alasan membersihkan rumahnya agar


terlihat rapi.


“Iya sudah… tapi nanti kamu ke sini gentian jaganya sama


Anita.” Jawab ibu lembut membelai rambut anaknya yang terlihat rapi.


“Baiklah ibu… makasih ya. Anita bangunin aja, sekalian Nasha


mau pamit takut dia cariin Nasha kayak ibu tadi.” Saran Nasha berkemas untuk


pulang ke rumah dan membawa pakaian yang dibawa oleh Anita tadi pagi.


“Banguninnya pelan-pelan jangan kasar nanti yang ada Anita


dibangunin malah kaget.” Jawab ibu memperhatikan Nasha.


Nasha mengikuti saran ibu untuk membangungkannya pelan-pelan


agar tidak mengagetkan Anita yang sedang tertidur lelap dengan mengusap pundak


kakaknya itu. “Kaka Anita bangun… kak Anita bangun….” Panggil Nasha


membangunkan Anita dengan suaranya yang lembut.


Anita yang tidur dengan nyenyak karena kelelahan terbangun


dimana nyawa setengahnya masih terbang kea lam mimpin dan mencoba membuka mata


secara perlahan sambil menguceknya. Anita melebarkan tangannya ke atas karena


badannya terasa pegal sehabis tidur di sofa.


“Kamu Sha… kenapa, oh iya makanan yang aku pesan mana ?” tanya


Anita merapikan rambutnya yang berantakan sehabis tidur dan perutnya yang


terasa laper karena belum memakan apa-apa dari pagi. Dan melihat ada satu buah


selimut di diriya.


“Itu kak, ada di meja dekat kasur, Nasha pamit pulang mau


beres-beres apartemen sudah ditinggal beberapa hari sama mau ambil pakaian ibu.”


Pinta Nasha menunjuk meja di samping kasur dan menggunakan tasnya untuk pulang.


Anita kaget mendengar bahwa Nasha akan pulang sekarang karena


dari pagi Nasha tidak bilang padanya kalau mau pulang sekarang. Anita tersadar


sesuatu, “apa Nasha pulang karena dirinya atau ada sesuatu ya. Kok tiba-tiba


mau pulang sekarang,” pikir Anita melihat Nasha sudah bersiap\=siap pulang.


“Ya sudah hati-hati. Atau mau aku anter ke apartemen,” tawar


Anita ingin mengantarkan adeknya ke apartemen dengan selamat dan ada yang mau


dibicarakan kepadanya.


“Ngga usah kak. Aku bisa kok sendiri naik kendaraan umum,


kakak jaga ibu dulu sementara. Besok aku ke sini kok gentian jaga lagi.” Tolak Nasha


tidak mau merepotkan Anita dan ingin kakaknya menjaga ibu saja.


“Hati-hati kamu Sha di jalan.” Ucap ibu melihat Nasha pergi


keluar kamar setelah berpamitan kepada Anita dan ibunya tersebut.


Nasha memesan Gray bike untuk pulang ke apartemen agar


segera cepat sampai di sana karena lelah badan dan batinnya setelah kejadian


yang dia dengar. Beberapa menit kemudian kendaraan yang dipesan dari aplikasi


online tersebut datang untuk menjemput, dalam perjalanan Nasha mencari solusi


yang tepat untuk semuanya sampai teringat dengan teman kuliahnya itu.


To Andini


Dini bisa ke apartemen gue ngga sekarang. Gue butuh lho.


Send?  Yes


Beberapa menit kemudian


From Andini


Tumben lo Sha, sms gue. Jam berapa ke sana ?


Sekarang juga. Gue butuh teman sharing ni. Gue lagi


ada masalahhh


Send ? YesFrom Andini


YA…. Gue otw kesana mumpung habis pulang kuliah. Sekalian


gue bawa matkul yang gue catat buat lo.


Replay ? Yes‘Andini memang sahabat terbaikkk… sudah catatin matkul yang


tertinggal buat gue. Beruntungnya gue punya lo Dini. Karena asyik kerja dan


masalah sampai lupa gue harus kuliah,” pikir Nasha di perjalanan pulangnya.


Nasha yang sebentar lagi sampai di apartementnya, akhirnya


bisa bernafas dengan lega karena ada sahabatnya yang selalu ada disaat


dibutuhkan. Sedangkan Andini dari kampus mengendarai motor metiknya pergi ke


apaartemen Nasha atas permintaan sahabatnya itu yang tadi mengirim pesan.


Sepuluh menit kemudian, Nasha sampai di apartemennya dan


memberikan uang kepada pengemudi tersebut untuk membayarnya dengan total yang


sudah ditentukan dari aplikaasi tersebut. Nasha membuka pintu dan menyalakan


lampu agar terang lalu meletakkan barangnya di kamar untuk bisa mulai merapikan


sebelum Andini datang ke apartemennya.


‘Akhirnya selesai juga kerjaan rumah sekarang tinggal mandi


biar harum karena di rumah sakit belum sempat untuk mandi, habis itu baru masak


sambil tunggu Andini datang.’ Pikir Nasha menyiapkan baju ganti.


Beberapa jam kemudian, bunyi bel apartemen Nasha terdengar.


Nasha yang sudah menyiapkan makan segera membuka pintu dan melihat siapa yang


datang. Andini sudah datang dengan membawa barang yang berada di plastic dari supermarket


tersebut.


“Kebetulan lo sudah datang. Gue sudah masak buat kita makan. Lo


bakal nginepkan ?” tanya Nasha langsung tanpa basa-basi terlebih dahulu.


“Sha… gue baru datang setidaknya kasih minum dan duduk dulu


sebelum lo tanya.” Jawab Andini meletekkan barang belanjaannya di meja ruang


tamu.


“Oh iya gue lupa, heheheh.” Ucap Nasha tertawa lupa


menawarkan Andini minum terlebih dahulu dan langsung bertanya apakah dia mau


menginap atau tidak.


Nasha menuangkan sirup untuk Andini yang baru sampai ke


apartemennya, dan menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya secara detail


sampai pada masalahnya sekarang yang dihadapi. Andini mendengar dan bisa


menyimpulkan bahwa yang terjadi dengan Nasha adalah cinta segitiga antara


Nasha, Kenz dan Anita.


“Sha… gue sih dukung lo. Karena gue yakin lo pasti punya


pilihan yang terbaik dan lo juga baru ketemu dengan keluarga lo yang utuh


setelah bertahun-tahun.” Saran Andini menepuk pundak Nasha yang duduk di


sebelahnya.


“Gue rencana mau resign dari kantor Kenz untuk menghindarinya


tapi gue nggak tahun mau kerja dimana lagi, karena nggak ada jaminan gue bisa


bersama kakak dan Ayah gue Dini.” Ucap Nasha mengingat nenek dari ayahnya


sangat membenci ibunya yang berpenampilan kampungan.


“Lo bisa kok. Nanti gue bilang bokap gue untuk masukin lo di


tempat kerjanya.” Saran Andini karena tahu bahwa Nasha lebih susah menghadapi


orang yang dicintai dan disayangi setiap hari untuk menghilangkan perasaannya.


“Thanks Friend. You are the best.” Ucap Nasha


menggunakan bahasa inggrisnya itu dan sekarang Nasha bisa tenang untuk


berpikir.


Andini bercerita tentang kejadian di kuliah sampai tidak


sadar waktu sudah menunjukkan malam, sebelum mereka berdua tidur untuk


beristirahat. Mereka merapikan kembali ruang tamu dan ruang makan agar bisa


tenang beristirahat tanpa mikirin berantakan.


Besok Harinya.


Andini dan Nasha membagi tugas sebelum berangkat ke tujuan


masing-masing, Nasha memasak untuk sarapan sedangkan Andini merapikan ruangan


dalam dan kamar karena hanya ada mereka berdua disana. Setelah mereka selesai, Nasha


dan Andini sarapan apa yang telah di masak oleh Nasha lalu berangkat.


Andini kembali ke kuliah karena ada jadwal pagi sedangkan


Nasha ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Kenz dan


berpura-pura tidak tahu apa-apa serta memberi alasan bahwa dirinya sudah harus


kuliah kembali dan juga magang di tempat kerja yang ditentukan oleh pihak


kuliah.


‘Ini yang terbaik buat semua dengan begitu tidak ada yang


tersakiti dan tanpa ibu dan Anita tahu bahwa aku sudah pindah kerja di tempat


lain.” Pikir Nasha mencoba untuk tenang.


Setelah Nasha sampai di kantor, Nasha menyerahkan surat


pengunduran diri kepada asisten Kenz untuk diserahkan karena Nasha tidak ingin


bertemu dengan atasannya tersebut. Dari sana Nasha langsung pergi ke rumah


sakit dan membeli buahan untuk ibunya agar segera sembuh.