Me And Mr Perfect

Me And Mr Perfect
Penangkapan Lilis



"Untuk apa kamu datang ke sini ?" tanya Anita kepada perempuan jahat yang sudah menjual informasi pribadi perusahaan untuk orang luar.


"Saya ingin, tante Diana menikahkan saya dengan Pak Anggara. atau kalau tidak --," jawab Lilis dengan mencari sesuatu untuk mengancam keluarga yang sedang berbahagia itu.


Diam-diam Nasha yang tidak jauh jarak dengan Lilis, mencoba untuk menghubungin pihak polisi dengan berpura-pura izin ke toilet karena tindakannya sangat membahayakan orang-orang.


"Saya izin dulu toilet," ucap Nasha meminta izin kepada orang yang berada di kamar demi menyelamatkan mereka semua.


"Kalian, tidak ada yang boleh keluar dari sini," ujar Liris semakin nekat mencari untuk mengancam Diana.


"Saya mau ke toilet, nggak mungkin kalau di sini," ucap Nasha meyakinkan Lilis yang sedang emosi.


"Sana, awas saja kalau lama. salah satu keluarga kamu tidak akan selamat," ujar Lilis karena, tidak mungkin membiarkan buang air kecil di ruang inap.


Nasha pun mencoba berjalan tenang, agar gerak-geriknya tidak ketahuan oleh Lilis yang ingin menghubungi pihak polisi untuk melaporkannya. Toilet yang jaraknya, tidak jauh dari ruang inap. Nasha mencoba menelpon dengan suara sangat pelan sekali. Karena, kalau sampai ketahuan itu akan sangat berbahaya.


Nasha : Hallo ini kantor polisi


Polisi : Iya, ada yang bisa kami bantu.


Nasha : Pak ... di rumah sakit ada seseorang yang mencoba membunuh dan mengancam kami.


Polisi : Ceritakan detailnya.


Nasha : mencoba menceritakan detail kejadian dari Lilis datang sampai mengancam orang.


Polisi : Baiklah kami akan segera ke sana.


Setelah Nasha mencoba menghubungin pihak kepolisian, kini ia membasahkan tangan dan muka agar Lilis tidak mencurigainya sehabis dari kamar mandi rumah sakit. Dan berjalan ke kamar inap orang tua, dengan pelan dan tenang untuk mengkelabui Lilis yang penuh dengan emosi.


"Sana kamu. di dekat orang tua kamu !" ucap Liris mendorong Nasha ke arah Anatasya dan Diana.


"Oma ... sekarang coba sandiwara untuk mengikuti kemauan perempuan itu. karena, Nasha sudah menghubungin polisi. untuk menangkapnya," ujar Nasha membisikkan kepada Diana untuk mengikuti saran darinya. agar Lilis, tidak bisa kabur setelah polisi datang.


"Baiklah kalau kamu maunya begitu. Saya akan menuruti keinginanmu," ucap Diana mengedipkan mata kepada Nasha. karena, sudah mengikuti sandiwara yang telah dibuat oleh Nasha.


"Berarti sekalian saja dinikahkan di sini. mumpung ada penghulu," ujar Lilis tersenyum penuh kemenangan karena, Diana mengikuti keinginannya.


"Tante Lilis nikahnya nanti aja. Kan perlu persiapan yang matang," ucap Nasha mencoba untuk tenang. Walaupun dalam hatinya emosi bergejolak untuk membalas sikap Lilis.


"Baiklah ... sekarang saya pulang dulu," ujar Lilis ingin pergi karena masalah dia selesai setelah mendapat persetujuan dari Diana.


"Tante nggak mau nemanin Ayah kami dulu ?" tanya Anita mendapat kode dari Nasha untuk ikut membantu membujuk Lilis.


Lilis, tidak sadar bahwa Nasha sudah menyusun jebakan untuk penangkapannya dengan polisi. Tinggal menunggu saja, pihak kepolisian datang.


Setelah Lilis sudah masuk jebakan, tinggal Nasha menjelaskan kepada Anita tentang rencana penangkapan Lilis agar tidak ada ke salah pahaman.


"Kak ... ikut Nasha sebentar yuk," ajak Nasha kepada Anita sambil menarik tangan Nasha untuk mengikutinya.


"Tante Lilis ... saya dan Anita belikan minuman dulu ya," ucap Anita kepada Lilis yang melirik mereka berdua aneh.


"Ya silahkan," ujar Lilis dengan terpaksa karena sedang menjaga pencitraan terhadap Diana.


Nasha dan Anita pergi ke sebuah tempat minuman kaleng, sambil menjelaskan apa yang terjadi ketika Nenek mereka menyetujui apa kata Lilis.


"Kak ... tenang aja, ini semua hanya sandiwara. aku sudah hubingin pihak kepolisian untuk menangkap tante Lilis," ucap Nasha menjelaskan dengan detail rencananya.


"Yang benar kamu. kapan kamu hibungin polisi ?" tanya Anita karena dari tadi Nasha tidak memegang handphone.


"Tadi pas Nasha ke kamar mandi," jawab Nasha senyum karena Anita tidak menyadari itu semua.


"Pintar juga kamu," ucap Anita kagum dengan pemikiran Nasha agar bisa menghubungin pihak kepolisian.


"Iya ka, kita ke sana lagi sambil bawa minuman agar tidak di curigai. karena, sebentar lagi polisi akan datang," ujar Nasha kali ini Lilis tidak bisa menghindar dari polisi.


Setelah selesai, Nasha dan Anita kembali ke kamar inap untuk memberikan minuman kaleng kepada Lilis dan yang lainnya. Anita tersenyum penuh arti kepada Nasha berpura-pura memainkan handphone ketika ada polisi yang datang.


beberapa menit kemudian ....


Pihak polisi datang ke kamar Anatasya dan mencari perempuan bernama Lilis untuk membawa ke kantor polisi atas tuduhan mengancam.


"Permisi ... di sini yang mana perempuan bernama Lilis ?" tanya salah satu polisi kepada orang-orang di ruang inap.


"Itu pak yang pakai gaun seksi warna merah," jawab Nasha menunjukkan ke arah dekat Ayahnya.


"Brimop Tio, tangkep perempuan itu! Bawa ke kantor polisi!" ucap Kapten polisi kepada bawahannya.


"Saya tidak bersalah pak," ujar Lilis tidakbterima ditangkap oleh polisi dan dimasukkan penjara.


"Kami dapat laporan dari saudari Nasha. bahwa anda ditangkap karena mencoba bertindak pembunuhan dan mengancam," ucap Kapten polisi menjelaskan alasan menangkap Lilis.


"Nasha ... Kamu --," geram Lilis karena dirinya sudah masuk dalam jebakan Nasha untuk penangkapan polisi.


"Sudahlah, tante itu pantas masuk penjara. karena, sudah mengancam keluarga saya. inilah adalah hukuman untuk tante," Balas Nasha senyum kemenangan dan terbebas dari perempuan yang merusak kebahagiaannya.