Me And Mr Perfect

Me And Mr Perfect
Bab 12 Pembuktian



Anita menyetel rekaman untuk di denger oleh Nasha. apakah bener suara ini yang mengancam perusahaan akan bangkrut kalau dia tidak mengundurkan diri dari posisinya.


sedangkan Bagas bingung ada hubungan apa antara Nasha dengan Anita sampai serius itu dan apa yang sedang di omongkan. Bagas tidak mau ambil pusing yang terpenting baginya bisa menemui Nasha sudah sangat cukup.


"Nita ini bener... suara yang pernah mengancam gue dan suaranya sama seperti suara sekretaris bokap lo," ucap Nasha mencoba mengingat ayu pas ketemu.


"Gue duga juga gitu... makanya untuk pastiin. gue kasih tawu lo. lo kan yang ditelpon. kalau emang dia tinggal gue lapor ke bokap," ujar Anita yakin untuk melaporkan tindakan Ayu ke papanya.


"Tapii mesti ada bukti lagikan... biar si Ayu ngga mengelengak lagi. atau bisa aja melacak lokasinya," saran Nasha memikirkan cara membantu Anita.


"Bener itu... gampang gue ada kenalan yang bisa lacak lokasi itu," balas Anita yang tawu siapa yang bisa untuk di minta bantuan.


"ya... kita makan dulu. gue habis ini langsung pulang," ucap Nasha khawatir dengan ibunya.


"Silahkan." ucap Anita memakan steack tenderloin.


Bagas yang melihat Nasha dan Anita makan langsung mengirim pesan ke Anita untuk pamit pergi.


**From Bagas


Nit, gue pergi duluan


Send ? Yes


To Bagas


Lho ko cepat banget.


Replay ? Yes


From Bagas


Gue nggak mau dia tawu kalau gue disini.


Send ? Yes


To Bagas


Ya udah deh, tapi lo makan dulu.


Replay ? Yes


From Anita


okay... jangan bilang Nasha tentang gue dan thanks lo udah buat gue ketemu sama dia.


Send ? Yes**


Bagas pun memesan makanan sedangkan Anita dan Nasha menikmati makanan karena hari sudah menjelang sore. Anita pun bertanya tentang kondisi perusahaan Kenz yang lagi down.


"Gimana kondisi sana ?" tanya Anita penasaran setelah meninggalkan kantor itu.


"Kacau parah... oh iya ini, nomor handphone office girl yang lo minta," jawab Nasha sambil memberi nomor telpon yang diminta Anita.


"Thanks you." ucap Anita singkat.


lagi dan lagi Bagas mengirim pesan kepada Anita di sela-sela pembicaraan.


From Bagas


Nita... gue minta nomor Nasha dong


Send ? Yes


To Bagas


iyaa bawell... lo kesini aja


Replay ? Yes


Anita yang bersama dengan Nasha. sebenarnya ingin membicarakan tentang Bagas, karena Bagas belum memberitahu hubungan tentang kedekatan dengan Nasha. namun saat ini belum tepat waktunya untuk membicarakan.


From Bagas


ga ah, gue masih belum siap ketemu dia. tapi dia tetap cantik kok.


Send ? Yes


Bagas tetap memandang Nasha tanpa berkedip sama sekali.


To Bagas


emang lo ga kangen sama dia apa ?


Replay ? Yes


From Bagas


Kangen tapi gue tahan dulu.


Send ? Yes


To Bagas


terserah lo dehh.. gue cuma kasih saran aja


ini nomornya 0878xxxxxx


Replay ? Yes


Anita menyerah untuk memberi kesempatan kepada Bagas agar menemui Nasha. dan semoga di lain kesempatan Bagas dan Nasha bisa bertemu hanya itu yang Anita harapkan.


From Bagas


Thanks you


Send ? Yes


Bagas merasa bahagia banget sudah mendapatkan nomor Nasha hatinya berbunga-bunga. berkat Anitalah Bagas bisa melihat wajah Nasha yang dulu menghiasi hati-hari selama sekolah.


Nasha pun pamit setelah makan bersama dengan Anita. Bagas melihat Nasha hanya bisa tersenyum dan menutupi dengan buku menu agar tidak ketahuan bahwa dirinya memperhatikan gadis tersebut.


"Gue pamit ya Nita... makasih atas traktirannya," pamit Nasha sambil menepuk pundak Anita.


"Iya hati-hati," ucap Anita tersenyum melihat ke arah Nasha dan Bagas.


setelah Nasha pergi. Anita pergi ke kasir untuk membayar makanan yang di pesan oleh 3 orang. dan pergi menemui papanya untuk membuktikan apa yang di ucapkan oleh Anita.


Bagas dan Anitapun pergi ke rumah masing-masing. sebelum menemui papanya, Anita membersihkan diri terlebih dahulu dan beristirahat. baru setelah lelahnya hilang menemui papanya untuk memberikan bukti yang diinginkan.


namun Papanya tiba-tiba datang ke kamar Anita, dan menanyakan tentang ucapan anaknya untuk membuktikan kebenaran yang akan terungkap. betapa kagetnya Tuan Anggara mendengar suara orang terpecayanya mencoba untuk menghacurkan jerih payahnya selama ini.