Me And Mr Perfect

Me And Mr Perfect
Pertanda



Seseorang perempuan dari dalam rumah tersebut menghampiri perempuan yang berada diperkarangannya.


"Nashaaaaa.... " Teriak Andini memanggil sahabatnya tersebut yang duduk lemes di tanah karena perasaannya yang tidak enak.


"Nasha kamu tidak apa-apa ?" tanya Haikal memegang tangan Nasha melihat wajahnya pucat pasi.


"Andini perasaanku tidak enak. aku takut ibu kenapa-kenapa," isak tangis Nasha dengan mulutnya bergetar karena hatinya tidak tenang.


"Sha... kamu duduk dan minum terlebih dahulu baru kamu ceritan ke aku," ucap Andini memberikan segelas air putih.


"De... abang ke kamar dulu. kamu coba tenangin Nasha dulu dan ajak istirahat ke kamarmu," pamit Haikal memberikan Nasha waktu berdua dengan sahabatnya.


"Sha... sementara kamu tinggal di sini dulu jangan cari kontrakan itu tidak aman untuk kamu," saran Andini mengelus rambut Nasha yang sangat berantakan.


Setelah Nasha tenang, ia mencoba menceritakan semuanya "Dini... kakak kandungku tega banget mau mencelakai aku adeknya sendiri. Aku dan dia batu saja bertemu, aku sayang sama kak Anita. Bahkan aku rela mengorbankan perasaanku untuk kebahagiaan kak Anita." Ucap Nasha berhenti untuk mengatur nafas dan melanjutkan kembali "Aku meninggalkan ibu di rumah sakit tanpa memberi kabar, perasaanku tidak enak Din," isak tangis Nasha pecah karema hatinya yang gelisah.


"Sha... aku janji setelah keadaannya aman. Aku akan jenguk dan memberi tahu ibumu bahwa kamu sama aku sekarang," ucap Andini memeluk sahabatnya butuh ketenangan dan menguatkannya.


"Terima kasih Dini," ucap Nasha menghapus sisa air mata yang terjatuh ke pipinya.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya di kamarku dan maaf kalau berantakan karena abang baru memberi tahu kalau kamu tidur bersamaku," gerutu Andini dengan sikap abangnya itu tidak mengkabari bahwa Nasha akan tidur bersamanya.


"Terima kasih sudah memperbolehkan aku tinggal di sini," ucap Nasha menundukkan kepalanya.


"Kamu sama siapa saja. Sesama sahabat tidak perlu berterima kasih Sha. Ya sudah yuk, besok kamu harus kuliah bersamaku dan jangan kerja dulu," saran Andini yang tidak enak mendengar Nasha selalu mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah wajar Andini membantu sahabatnya.


Andini mengajak Nasha ke dalam kamar dan membiarkannya beristirahat sedangkan


dirinya merapikan koper sahabatnya itu ke dalam lemari.


"Bang Haikalll.... " panggil Andini dari luar kamar milik abangnya tersebut.


"Nasha khawatir kondisi ibunya bang. Tolongin Nasha bang Dini mohon," pinta Andini tidak tega melihat kondisi Nasha yang pucat memikirkan ibunya.


"Iya besok abang suruh anak buah mencari tahu. Sudah sana kerjain tugasmu !!" perintah Haikal menyuruh Andini kerjain tugas kuliahnya.


"Iya iyab bawel banget sih," gerutu Andini kupingnya panas mendengar bawelan abangnya itu.


Di kamar Andini.


Nasha yang tidur terus memanggil ibunya dan berteriak.


"Ibu...jangan tinggalin Nasha. ibu... IBUUUUU," teriak Nasha dan terbangun dari tidurnya. Mimpi yang dialami seolah nyata dimana kondisi ibunya menurun drastis.


"Sha... kamu kenapa ?" tanya Andini berlari mwnghampiri Nasha berlinang air mata dan menutuokan wajahnya dengan lutunya.


"Dini aku bermimpi kondisi ibu semakin turun semua orang menangis tapi aku tidak bisa masuk ke dalam kamarnya," isak tangis Nasha langsung memeluk sahabatnya itu.


"Sha.. itu hanya bunga tidur. Aku temanin tidur ya," ucap Andini menemani sahabatnya sampai tertidur dan baru mengerjakan tigas kuliahnya.


'Sabar ya Nasha sahabatku tersayang... semoga mimpi itu tidak menjadi nyata karena aku sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi dengan ibumu tapi aku janji akan mencari tahu semua,' guman Andini dalam hati mengusap butiran air mata dipipi cantik Nasha.


Haikal tidak sengaja mendengar pembicaraan Adeknya dengan gadis itu dan membuatnya semakin kesal dengan perlakuan orang yang dicintai dari dulu. Dan harus bagaimana untuk menyadarkan tanbatan hatinya itu, kalau mimpi itu nyata Haikal tidak bisa memaafkan dirinya.


Di rumah sakit.


seseorang laki-laki dewasa memakai jas hitam, dasi merah, kemeja putih dengan celana hitam, sepatu pantopel memasuki kamar terburu-buru dan memarahi seorang gadis yang tengah menangis.


"APA YANG KAMU LAKUKAN DENGAN SAUDARAMU DAN IBU KANDUNGMU," Teriaknya membentak gadis itu.