
Nasha yang baru selesai makan dengan lahap tanpa sisa, Karena ketidak sabaran Nasha pun langsung meminta informasi yang sempat mau diberitahu oleh Anita sewaktu papanya menelponnya.
“Nita... tadi Tuan Anggara kasih kabar apa pas telpon lo?” tanya Nasha bersemangat dan menggebu-gebu.
“Kata papa... i... tu Mama lo... “ ucap Anita sengaja dipanjangkan dan dibuat penasaran agar Nasha makin tambah tidak sabar.
“Itu apa Nita ? jangan di lama-lamain ceritanya,” umpat Nasha yang kesal mendengar Anita bercerita di dramatisir.
“ok... ok. Mama kamu sudah sadar sekarang. Ayoo buruan ke sana pasti Mama kamu merasa senang melihat anaknya,” ucap Anita yang tertawa melihat sikap Nasha seperti anak kecil ketika dirinya sengaja membuat Nasha semakin penasaran seperti anak kecil yang meminta permainan.
“Nita yang benar... ibu sudah sadar. Lo ngga lagi bercandakan atau bohongin gue karena sekarang bukan bulan april,” kata Nasha tidak percaya mendengar apa yang diucap oleh Anita bahwa ibunya telah melewati massa kritisnya dan telah sadar.
“Serius gue ngga bohong. Kalau ngga percaya kita buktikan setelah sudah ada di kamar inap sana,” tantang Anita yang mendengar bahwa Nasha tidak mempercayai dirinya.
“Egh... ok ok gue percaya. Ya wdah sekarang lebih baik ke kamar sudah ngga sabar pengen cerita ke ibu,” jawab Nasha yang mencoba mencairkan suasana agar Anita tidak marah kepadanya.
Nasha dan Anita langsung berjalan keluar kantin untuk pergi ke kamar inap Anatasya karena mendapat kabar bahwa ibunya sudah sadar. Sedangkan di kamar inap Anatasya dan Anggara berdiskusi untuk memberi tahu sebuah rahasia yang disembunyiin atas permintaan kedua orang tua dari Anatasya dan Anggara demi pendidikan, dan psikis anak-anak sehingga menunggu mereka tumbuh dewasa.
Anita yang sewaktu bertemu dengan Nasha merasakan sesuatu kenyamanan yang dirasakan sewaktu kecil dulu. Namun, karena Ibu dari Anggara tidak setuju dengan pernikahan Anaknya dan Anatasya membuat cucunya berpikir bahwa Anita adalah anak semata wayang. Pertemuan tidak sengaja membuat Anita mengingat memori sewaktu kecil kembali.
Berapa menit kemudian ....
“IBU.... TUAN ANGGARA, kalian sedang apa ? kenapa memegang tangan ?” tanya Nasha yang tidak bisa menerima kejadian tersebut dengan pikiran yang jernih dan Shock.
“Papa ada apa ini ?” timpal Anita yang sama begitu terkejut melihat kejadian ini.
Tuan Anggara sudah memberikan kode kepada Anatasya agar berbicara jujur kepada kedua putrinya tersebut. Dan bisa hidup bersama setelah puluhan tahun dipisahkan oleh mertua Anatasya atau ibu dari Anggara.
“Nasha... sebenarnya Tuan Anggara ini...” ucap Anatasya yang tidak bisa melanjutkan menjelaskan semua ini karena begitu menyakitkan kenangan di masa lalunya, di mana ibu dan anak dipisahkan oleh mertuanya sendiri.
“Anita dan Nasha sebenarnya kami berdua adalah orang tua kalian dan kalian berdua bersaudara,” ucap Tuan Anggara membantu menjelaskan kepada kedua putrinya tersebut.
“Itu nggak mungkin kan bu, Ayah itu kan yang meninggal karena kecelakaan,” seru Nasha tidak bisa menerima jawaban dari Tuan Anggara.
“Papa jawab yang jujur, kata eyang putri Mama itu meninggal sewaktu Anita masih kecil,” kata Anita sama yang tidak bisa menerima pernyataan dari papanya.
“Ibu ngga bohong... dulu kamu bayi di kampung. Dan nenekmu menyuruh ibu mencari papa anggara, karena nenek nggak bisa menafkahi ibu dan kamu,” jawab Anatasya mengeluarkan air matanya yang sudah tidak dibendung lagi.
“Iya sayang... Mama kamu belum meninggal, mama kamu Tante Anatasya. Eyang putri kenapa bilang begitu karena ngga suka sama Mama Anatasya yang berasal dari kampung dan tidak modern,” ucap Tuan Anggara mencoba meyakinkan Nasha dan Anita.
Nasha dan Anita mendengar penjelasan dari kedua orang tua tersebut langsung berlari untuk memeluk. Anita berlari memeluk Anatasya dan menangis histeris ternyata selama ini ibu dari Nasha yang lembut, perhatian adalah Mamanya selama ini. Begitu pula dengan Nasha memeluk Tuan Anggara, dengan perasaan haru dan bahagia. Moment ini tidak pernah terbayang selama ini.