
Kenz yang berada di ruang kerja di rumahnya, mendapat sebuah pesan dari Haikal dan betapa kagetnya melihat ada dua orang yang hampir mirip. namun Kenz tidak bisa membedakan yang mana Nasha dari kedua orang itu.
'APA.... jadi selama ini dia itu siapa,' kaget Kenz membaca pesan dari kawannya tersebut.
'Nasha... kamu sebenarnya siapa, dan apa hubungan kamu dengan Tuan Anggara,' kesal Kenz yang tidak mengerti dengan semua yang terjadi.
Kenz yang sedang di rumahnya mencoba mencari waktu yang tepat untuk menanyakan yang ada dalam benaknya. karena saat ini pikirannya sedang kacau dan rumit dari berbagai pihak.
Sebulan Kemudian.
Sedangkan di rumah sakit. Natasya ibu dari Nasha sudah sadar dari komanya, walaupun kondisinya masih sangat lemah. mencoba untuk membuka mata secara perlahan untuk memperjelas pandangannya yang buram.
"Natasya kamu sudah sadar ?" tanya Tuan Anggara memegang tangan Natasya yang mencoba bergerak sedikit untuk merespons.
Tuan Anggara keluar dan memanggil dokter untuk mengecek kembali perkembangan yang baik karena Natasya merespons ucapan orang, "Dokter... dokter..." panggil Tuan Anggara berulang kali agar ada dokter yang menghampiri kamar inap Natasya.
Seseorang yang mengenakan jas berwarna putih dengan mengalungi teleskop itu pun datang menghampiri Tuan Anggara dengan segera. " Ada apa Tuan memanggil saya," ucap dokter tersebut di luar kamar inap Natasya.
"Pasien bernama Natasya tangannya bergerak dok. tolong periksa lagi," sahut Tuan Anggara dengan matanya yang bersinar dan hati yang senang, tidak hanya itu Tuan Anggara juga menghubungi Anita untuk memberitahu kepada Nasha tentang ibunya itu.
**To Anita
Sayang kamu lagi sama Nasha nggak ?
Send ? Yes
From Anita
Iya papa. Nasha lagi makan di kantin sama aku. ada apa ya papa ?
Replay ? Yes
To Anita
Tante Anatasya sudah ada kemajuan, kamu nanti sehabis dari kantin langsung ke kamar inap ya.
Send ? Yes
From Anita
Yang bener Pa... Syukurlah nanti Anita kasih tahu sama Nasha berita ini. ☺☺☺
To Anita
Baiklah... Terima kasih sayang 👌
Send ? Yes**
Anita yang membaca pesan itu dengan perasaan terharu dan mata yang berkaca-kaca menunggu Nasha selesai makan dengan sabar untuk memberitahu kabar yang mengembirakan ini.
Nasha yang makan secara perlahan melihat ke arah Anita itu dengan perasaan heran, ada apa dengan orang yang disebelahnya itu sampai melihat ke dirinya dengan tatapan yang begitu dalam dan sebuah senyuman.
"Anita... Lo kenapa ?" tanya Nasha menghabiskan makanannya dan meminum teh hangat yang disediakan oleh pedagang tersebut.
"Heummm... Lo habisin makanan dan minuman nanti baru gue kasih tawu ada apanya ? Ya," Ucap Anita dengan sebuah senyuman yang membuat penasaran.
"ok," Jawab Nasha dan menghabiskan makanan yang masih tersisa di piring melamin tersebut dengan di temanin segelas teh hangat agar badan terasa santai.
di kamar inap.
Tuan Anggara menatap iba Anatasya yang sudah sadar, mencoba berbicara perlahan tentang yang dialami olehnya.
"Anatasya... kamu masih ingat dengan saya ?" tanya Tuan Anggara iba.
"Anggara... itukah kamu... " jawab Anatasya pelan dengan nada yang lemah dan posisi Anatasya berbaring.
"Iya ini aku Anggara..." ucap Tuan Anggara dengan mata yang berbinar - binar. memegang erat tangan Anatasya.
"Mas... kamu kemana aja ?" tanya Anatasya dengan suara yang lemah disertai tangisan.
"Aku ngga kemana-mana. kamu kenapa jadi gini Anatasya," jawab Tuan Anggara, mencoba menahan kesedihannya.
"Mas sejak... kamu tinggalin aku. ibu menyuruh aku mencari mas sampai aku dan Nasha tidur di emperan toko. karena tidak tahu harus kemana. Untung ada laki-laki yang merawat aku dengan telaten sampai menikahi aku tidak mau terjadi fitnah. suamiku sekarang kecelakaan saat berangkat dinas keluar kota. aku dan Nasha kerja mengumpulkan uang demi kelanjutan hidup, biaya pendidikan Nasha." jelas Anatasya panjang lebar memberi tahu satu persatu yang dialaminya sampai bisa tinggal di apartemen sederhana itu.
"Nasha tawu ayahnya itu aku Anatasya ?" tanya Tuan Anggara ketika mendengar penjelasan dari Anatasya.
"Aku nggak berani memberi tahu. yang dia tawu ayahnya yang kecelakaan bukan kamu. karena saat itu Nasha masih kecil, suamiku sekarang sangat sayang dengannya," jawab Anatasya dengan perasaan yang sedih dan hancur mengingat itu semua.
"Ketika Anita dan Nasha datang. sebaiknya kita memberi tahu kebenaran ini jangan lagi ada rahasia dari kita. cepat atau lambat mereka harus tawu semuanya," Saran Tuan Anggara mengelus rambut Anatasya dengan lembut dan kasih sayang.