Me And Mr Perfect

Me And Mr Perfect
Bertemu Kembali



Anita yang merasa dihukum oleh papanya mengirimkan oesan kepada bagas untuk memberi kabar tentang kondisi ibunya yang sedang dirawat.


'Aku harus tahu kabar mama. Bagas bisa menolongku untuk memberitahu kondisi mama saat ini,' guman Anita dalam Hati dan segera mengirim pesan kepada Bagas.


To Bagas


Bagas aku nggak bisa keluar rumah jadi tolong kamu jenguk mamaku di rumah sakit kamar v.i.p ya dan kabarin ke aku.


Send ? Yes.


From Anita


Kalau ada maunya aja baru kirim pesan tapi kalau nggak, boro-boro kirim pesan apalagi balas pesan.


Replay ? Yes.


To Bagas


Please mau ya.


Send ? Yes.


From Bagas


Iya... iyaa


Replay ? Yes.


Bagas mengambil jacket kulit warna coklat dan helm untuk mengendarai motor pergi ke rumah sakit atas permintaan sahabatnya itu, walaupun dirinya baru mengetahui bahwa Anita mempunyai seorang ibu.


"Baru tahu ternyata Nita punya ibu. Kenapa pula jadi mikirin itu yang membuat pusing kepala aja,' guman Bagas dalam hati tidak ingin mengambil pusing tentang apa yang dalam pikirannya.


Di rumah sakit.


Seseorang laki-laki dengan gagah dan berjalan menghampiri ketiga anak muda di kamar Anatasya dan memeluk Nasha erat.


"Kamu kemana saja sayang ?" tanyanya kepada Nasha dengan perasaan rindunya.


"Ka... mu... Ngapain ke sini," jawab Nasha kaget melihat seseorang yang sangat di kenalnya tiba-tiba memeluknya.


"Aku kangen sama kamu." ucap Bagas hatinya bahagia bertemu dengan gadis yang mengisi kekosongan hatinya sewaktu sekolah.


"Haikal kenalin ini Bagas dia teman aku waktu sekolah dulu," jawab Nasha memperkenalkan laki-laki dihadapannya.


"Haikal," ucap Haikal memperkenalkan diri dan memberi tangan untuk berjabat tangan dengan Bagas.


"Bagas, ada hubungan apa dengan Nasha ?" tanya Bagas melihat ada Haikal di dekat Nasha.


"Jawab pertanyaan aku dulu, kamu ngapain kesini ?" tanya Nasha kembali kepada Bagas disebelahnya.


"Aku dimintai tolong sama Anita," jawab Bagas merangkul pundak Nasha karena tidak ingin menjauh lagi.


"APA ANITAAAAA !!!" kaget Nasha dan Haikal bersamaan membuat Bagas bingung, kenapa ketika menyebut nama Anita reaksinya terkejut.


"Kamu kenal Sha dengan Anita ?" tanya Bagas kepada Nasha yang kaget mendengar Anita.


"Dia kakak kandungku yang tidak pernah ketemu dan aku mohon jangan bilang kepada Anita kalau aku menjenguk ibu," jawab Nasha memberi kode kepada Haikal dan Andini untuk segera pergi.


"Kenapa aku nggak boleh memberitahu Anita ?" tanya Bagas tidak mengerti kenapa Nasha melarang memberi tahu kepada Anita.


"Ibu... Nasha masih hidup dan tidak diculik jadi cepatlah sembuh setelah itu kita kumpul bersama kembali," bisik Nasha di telinga Anatasya dan mencium keningnya.


"Sha... tolong jelasin sebenarnya ada apa ?" tanya Bagas belum mendapat penjelasan dari Nasha.


"Tidak penting untuk kamu tahu. Aku pamit," jawab Nasha berlalu meninggalkan Bagas dalam kebingungan.


"Sha tunggu... " panggil Andini pergi menyusul Nasha yang sudah jauh dihadapannya.


"Haikal kamu bisa kasih tahu apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya Bagas kepada Haikal yang mengerti sikap Nasha begitu.


"Anita itu adalah kakak kandung Nasha dan baru saja bertemu tapi karena keegoisan ingin memiliki seutuhnya laki-laki yang dicintai dan kasih sayang ibunya membuatnya mencelakai Nasha adek kandungnya sendiri," jelas Haikal dengan sangat detai menjelaskan penyebab dan akibatnya itu sampai Bagas mengerti.


"Tapi aku masih Nggak percaya Anita begitu," ucap Bagas tidak percaya dengan penjelasan Haikal tentang sahabatnya.


"Maka dari itu Karena Nasha tahu kamu. Dia bilang itu tidak penting untuk kamu tahu," ucap Haikal sekarang tahu kenapa Nasha bersikap kepada Bagas dengan sinis.


Haikal pergi meninggalkan Bagas di ruangan Anatasya di rawat agar bisa Bagas memikirkan dan mencari tahu kebenarannya sendiri.


Seseorang perempuan yang umurnya sangat tua melihat ruangan itu dan menatap Anatasya dengan pandangan hina.


"Setelah kamu sadar sebaiknya jangan pernah dekati cucu kesayanganku lagi. Aku tetap tidak ridho kamu bersatu kembali," ucap perempuan itu dengan angkuh dan meninggalkan kamar itu dari jauh.