
Pandangan berbeda Selena rasakan di sepanjang ia masuk ke dalam kantor. Tak ingin ambil pusing, wanita itu memilih segera ke ruangannya
Sesampainya di sana, Selena tak sengaja menemukan secarik kertas di atas mejanya. Karna rasa penasaran, ia pun membacanya
'Murahan'
"A–apa maksudnya ini, dan—"
"Lena" Melihat Revan masuk ke ruangan, Selena langsung menyembunyikan kertas tersebut
"Ya" Selena menampilkan senyumnya
Revan mengerutkan dahinya. "Apa kau baik-baik saja, Lena?" Tanya Revan, "Heem, ya. Aku baik-baik saja, kamu kesini mau ngapain" Kata Selena
"Itu, tolong nanti laporan keuangan bulan ini sama bulan kemarin taro di mejaku. Soalnya nanti mama mau ngecek kesini" Ucap Revan, "Ya, baiklah. Nanti aku akan menaruhnya di mejamu" Jawab Selena
Selena duduk setelah Revan pergi dari sana, ia merogoh sakunya dan mengambil kertas tadi
"Apa maksudnya ini? Siapa yang menaruhnya dan mengatakan hal tak pantas seperti ini" Gumamnya.
Selena masuk ke ruangan yang biasa ibu mertuanya gunakan untuk mengurus perusahaan, ia melihat suami dan ibu mertuanya sedang berbincang di meja kerja
"Permisi"
"Lena, masuklah" Ucap Tiara tersenyum, Selena mendekat. "Ini laporan yang kamu minta tadi" Kata Selena meletakkan berkas tersebut di atas meja
"Aku permisi dulu, masih ada pekerjaan yang masih belum selesai" Pamit Selena, "Ya, baiklah. Hati-hati" Balas Revan
Selena keluar dari ruangan tersebut, matanya menatap para karyawan yang menatap sinis dirinya tapi ia tak memperdulikan hal tersebut walaupun sedikit terganggu. Di dalam ruangan, Selena tidak bisa fokus dengan pekerjaan
"Selena, kamu kenapa? Kayak gelisah gitu" Tanya Riska, "Bukan apa-apa, aku hanya sedikit pusing" Kata Selena mengukir senyum
"Pulanglah kalau kamu memang sakit, jangan di paksain" Usul Riska, "Ini hanya sakit ringan, nanti bisa sembuh sendiri" Balas Selena.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Selena termenung menatap ke arah luar. Taksi yang ia tumpangi berhenti di sebuah rumah bercat putih
Ia turun dan melangkah masuk ke dalam.
"Waalaikumsalam"
"Lena, kok kamu nggak pulang sama Revan? Apa dia masih ada pekerjaan" Tanya Tiara menghampiri Selena, "Lena kurang tau, Mah. Kepala Lena tadi agak pusing, jadi Lena pulang duluan" Jawab Selena
Tiara mengangguk. "Yasudah, lebih baik kamu istirahat. Nanti Mama akan mengantarkan makanan untukmu"
"Nggak perlu, Mah. Lena nanti bisa ambil sendiri, Mama nggak perlu repot-repot" Kata Selena, "Nggak repot. Udah gih, sekarang kamu istirahat" Tambah Tiara mengusap pipi kanan menantunya
Malam hari, Revan merasa ada yang aneh dengan sikap Selena. Wanita itu jika di tanya selalu melamun atau menjawabnya dengan ketus
Bahkan tadi sampai terkena air panas karna melamun saat membuat susu
"Lena, kau baik-baik saja. Aku perhatikan dari tadi kam—"
"Sudah berapa kali kamu bertanya seperti itu padaku, Revan. Aku baik-baik saja, tenanglah" Potong Selena, "Kau sedang ada masalah? Bicaralah, kita selesaikan masalah mu bersama. Sekarang kamu nggak sendiri, ada anak kita di dalam perutmu dan kamu jangan sampai terlalu banyak fikiran karna itu tidak baik untuknya" Ujar Revan menggenggam tangan istri nya
"Tidak ada. Kalaupun ada, aku akan bicara" Ia ingin menyelesaikan tentang kertas tadi sebisanya, kalau pun usahanya tak berhasil. Ia akan meminta bantuan
Selena menatap ragu suaminya. "Revan"
Revan yang hendak merebahkan dirinya pun mengurungkan niat nya. "Iya, kamu pengen sesuatu?"
"Mm..ini...mm..kalo nggak keberatan sih"
"Katakan saja, aku akan memenuhinya" Kata Revan tersenyum, "Dia pengen di elus sama ayahnya, apa kau keberatan" Tanya Selena ragu
Tawa Revan pecah. "Kenapa nggak bilang dari tadi, hm? Aku akan melakukannya" Ucap Revan mulai meredakan tawanya
Tangan Revan mengulur mengusap lembut perut rata Selena, sesekali ia mengajak bicara malaikat kecilnya. Revan terus mengajak bicara sampai tak sadar kalau Selena sudah terlelap
"Le—" Revan tersenyum melihat wajah damai istrinya.
...»»——⍟——««...