
Kabar gembira datang dari keluarga kecil Revano, pagi-pagi sekali, lelaki itu mengumumkan tentang kehamilan kedua Selena, sang istri. Tentu saja hal itu di sambut meriah oleh anggota keluarga lainnya.
Chris, ia menggenggam erat tangan sang istri. Ia tau apa yang ada di pikiran wanitanya itu. Davira yang mendapat genggaman hangat itu hanya mampu tersenyum.
Pernikahan Chris dan Davira sudah berjalan hampir 4 tahun, tetapi keduanya belum juga di percaya Tuhan untuk menjaga seorang anak. Keduanya juga sudah konsultasi ke beberapa dokter dan semuanya mengatakan tidak ada masalah dari keduanya.
Mungkin Tuhan masih menginginkan kita menghabiskan waktu berdua, Ira. Jangan pernah berkecil hati, kita pasti bisa mewujudkan impian kita untuk memiliki anak. Ucap Chris dalam hati, matanya terus menatap Davira yang tengah asik mengobrol dengan Selena dan para orang tua.
Siang harinya, setelah makan siang, Davira bergegas langsung ke atap rumah. Hari ini suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, ia tidak ingin orang-orang di sekitarnya menjadi lampiasan suasana hati nya yang sedang buruk.
Lamunannya terpecah ketika sepasang tangan melingkar di perutnya, tanpa menoleh pun ia tau siapa pelakunya.
"Kau memikirkan nya lagi?" Tanya Chris, "Bagaimana aku tidak memikirkan nya, Chris. Ini lebih menyakitkan dari pada luka tembak yang sering kita alami" Balas Vira menahan tangisnya
"Aku tau, aku tau apa yang kamu rasakan. Mungkin ini cara Tuhan untuk menguji kita, menguji kesabaran kita yang nantinya akan berbuah manis. Aku selalu di sampingmu" Kata Chris mengecup pipi kiri Davira
"Tapi jika nanti tidak membuahkan hasil, aku akan mengijinkan mu untuk menikah lagi" Lanjut Davira menahan sesak di dadanya, Chris mengatupkan kedua matanya. "Aku benci dengan perkataan mu yang ini, Sayang. Dan aku tidak ingin mendengar kalimat buruk itu lagi keluar dari bibir manismu"
"Apa kau akan tetap di samping wanita tak sempurna seperti ku, Chris?"
"Kau sempurna, bahkan sangat sempurna. Mendapatkan mu adalah anugerah yang paling indah, aku menunggumu bertahun-tahun dan tidak mungkin aku melepaskan mu hanya karna satu kekurangan. Kita bersatu untuk saling melengkapi, jadi jangan pernah berfikir kalau aku akan pergi meninggalkan mu sendiri. Kita akan selalu bersama, walaupun tanpa adanya seorang anak" Sekuat tenaga Chris menahan gejolak di hatinya, dan tetap memberikan pelukan hangat untuk Davira.
"Rasanya sangat tidak adil, kau dengan sabar menungguku selama bertahun-tahun tapi tidak mendapatkan hasil apapun" Sambung Vira
"Perlu kamu ketahui, bertahun-tahun aku menunggumu dan sekarang aku berhasil mendapatkan mu, aku sama sekali tidak pernah mengharapkan apapun. Cukup kamu di sampingku. Dan perihal anak, bukankah itu bonus?" Sahut Chris
"Chris"
"Hem?"
Chris tertawa mendengar rengekan sang istri, padahal tadi suasananya masih melow. Cowok itu duduk di sebuah kursi lalu menarik Davira duduk di pangkuannya.
"Sudah?" Davira mengangguk, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami.
"Aku ingin ke markas nanti sore, tanganku sudah lama tidak memegang senjata" Ucap Vira tiba-tiba, "Tapi, bukankah mama sudah melarang mu ke sana? Bagaimana kalau mama tau dan memarahi mu" Balas Chris bertanya
"Tanganku rasanya sudah sangat gatal ingin memegang nya, Chris. Aku akan berusaha membujuk mama untuk mengijinkan ku pergi" Kata Vira.
Davira dengan pakaian serba hitamnya melangkah ke ruang keluarga menghampiri sang Ibu yang tengah mengobrol dengan ayahnya.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Evan dan Tiara mengalihkan pandangan mereka ke asal suara. Tanpa Davira bertanya, Tiara paham hanya dengan melihat pakaian yang di pakai putrinya itu.
Davira menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat tatapan sang Ibu. "Mah, mm...Vira mau ke markas, bolehkan?"
"Janji hanya sebentar, Vira sudah lama tidak memegang senjata, rasanya begitu gatal ingin memegang nya" Lanjut nya duduk di sebelah Tiara
"Kau ingin membunuh orang lagi?" Davira menggeleng kuat.
"Hanya bermain dengan senjata saja, tidak sampai membunuh" Balas Vira, "Kalau nggak khilaf" Lanjut nya pelan, tetapi pendengaran Tiara bisa menangkapnya dan matanya langsung menatap tajam sang anak.
"Mama, boleh ya..."
Tiara menghembuskan nafasnya perlahan sebelum memberikan jawaban. "Ya, untuk kali ini Mama mengijinkan mu pergi. Tapi tidak dengan lain hari"
"Uu...Mama baik deh, makasih. Bye!" Sebelum pergi, Davira menyempatkan diri untuk memeluk sekilas kedua orang tuanya.