
Suara tembakan terdengar begitu nyaring di salah satu ruangan yang di gunakan Davira untuk mengasah kembali kemampuannya.
Tang
Sebuah peluru terpantul saat tembakan terakhir Davira meleset di sebuah logam. Dan tanpa persiapan, peluru tersebut pun mengenai lengannya.
"Shhh.." Davira berjalan keluar dari sana dan bergegas mencari Chris.
"Chris!!"
Mendengar teriakan dari Davira, Chris yang sedang bermain dengan samsaknya segera menghampiri sang istri.
"Ira? Astaga, kenapa bisa kena. Ayo kita ambil pelurunya dulu" Chris menuntun Davira ke sofa, lalu memanggil Zlie, dokter pribadi yang Davira tunjuk untuk selalu stay di sana.
Zlie datang dengan membawa peralatan yang biasa yang gunakan untuk mengambil peluru di tubuh ketua dan para anggota markas tersebut.
Sebelum melakukan tindakan, Zlie menyuntikkan obat bius kepada Davira. Chris tetap duduk di sebelah Davira dan membiarkan Zlie melakukan tugasnya, tak ada reaksi apapun dari wajah Chris karena ia sudah terbiasa melihat ini.
"Sudah, Nona akan sadar sebentar lagi. Pastikan jahitan nya tidak kena air" Ucap Zlie, Chris hanya mengangguk dan meminta Zlie pergi.
30 menit kemudian...
"Astaga, Ira. Sudah ku katakan, istirahat lah sebentar. Kenapa sudah bermain lagi" Tegur Chris saat melihat sang istri kembali memegang senjata tajam, "Entahlah, Chris. Rasanya aku tidak ingin pulang, aku ingin tidur dengan senjata-senjata ini" Balas Vira menembakkan pisau kecil ke sebuah apel yang bergerak
"Sudah, biarkan luka mu sembuh dulu" Sambung Chris, "Ayolah, Chris. Minta ijin dari mama itu susah sekali, aku mau gunain kesempatan ini sebaik mungkin, jadi jangan menghalangi ku" Protes Vira
"Iya, tapi kamu juga harus merhatiin kesehatan kamu. Lebih baik kita pulang sekarang, ini sudah mau malam" Ajak Chris
Mau tak mau ia menuruti ucapan Chris, sebenarnya ia juga merasa sakit di bagian bekas tembakan tadi, tetapi entah kenapa ia merasa terus ingin bermain dengan benda kesayangan nya itu.
Chris dan Davira masuk ke dalam rumah bersama-sama, seorang anak laki-laki berlari menghampiri Davira dan memeluknya.
"Aunty dari mana saja? Dari tadi Adek nyariin Aunty" Tanya Devan, Davira mensejajarkan tubuhnya dengan Devan. "Tadi Aunty ada kerjaan di luar, Baby. Emangnya Adek mau ngapain nyariin Aunty?"
"Mau minta ajarin matematika, Adek maunya Aunty yang ajarin" Kata Devan
☂︎
"Sayang, apa kau pesan ini tadi" Tanya Tiara menenteng sebuah kantong plastik, menghampiri putrinya.
"Ah ya, aku tadi pesan tahu susu, terimakasih" Balas Vira, "Tahu susu? Bukannya kamu nggak suka tahu?" Lanjut Tiara heran
"Ntah, tadi temenku ngasih tau makanan ini, katanya enak, jadi Vira beli" Jelas Vira memasukkan tahu susu tersebut ke dalam mulutnya, "Mama mau?"
"Kamu aja yang makan, Mama masih kenyang. Tapi..kamu nggak papa kan?"
Dahi Davira mengerut mendengar pertanyaan dari sang ibu. "Nggak papa gimana? Vira biasa aja kok"
"Ya..Mama ngerasa aneh aja gitu liat kamu tiba-tiba makan tahu"
"Mama, Vira cuma nyoba apa yang temen Vira bilang, jadi nggak ada yang aneh" Kata Vira
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam. Tumben udah pulang jam segini" Ucap Tiara saat melihat Revan masuk ke rumah, "Udah nggak ada kerjaan, Mah. Jadi Revan pulang. Wihh! Makan apaan nih" Seru Revan duduk di sebelah sang adik
"Jangan di abisin ya, awas kalo sampe di abisin" Ancam Vira
"Siapa juga yang mau minta, tapi ini beneran kamu makan tahu?"
"Beneran lah, enak loh ternyata" Jawab Vira senang, "Dari dulu tahu emang enak, kamu nya aja yang nggak mau pernah nyoba" Imbuh Revan sewot
"Kok sewot sih?"
"Biarin"
"Bisa nggak sehari aja kalian nggak berantem? Mama pusing liatnya" Kesal Tiara, "Kalo kita akur sehari ntar Mama kangen" Ledek Vira diakhiri dengan kekehan
"Kamu ini kalau di bilangin" Dengan gemas Tiara menarik pipi anak perempuannya.