MARRIED BY MISTAKE

MARRIED BY MISTAKE
14



"Sayang, ada apa?" Tanya Evan mengatur nafasnya, ia terburu-buru karna tadi Tiara memintanya untuk pulang cepat-cepat


"Kak, lihat ini" Ucap Tiara memperlihatkan sebuah kalender kecil yang biasanya di taruh di atas nakas, "Lalu? Kau memintaku pulang hanya untuk melihat kalender?" Tanya Evan dengan nada kesal, "Bukan begitu, ih! Lihat, aku udah telat tiga minggu lebih" Kata Tiara


"Bicara jangan setengah-setengah, Sayang. Lebih jelas lagi" Desak Evan yang masih tak mengerti


Padahal sudah punya anak dua, tapi masih nggak ngerti. Dengus Tiara dalam hati


"Kalau aku hamil gimana?" Ucap Tiara to the poin agar suaminya mengerti, Evan menepuk jidatnya. "Kenapa kamu bingung, Sayang. Kamu punya suami, jangan khawatir" Jawab Evan duduk santai di sofa


"Kok gitu? Seharusnya kita punya cucu bukan anak lagi, lagian kita udah tua" Rengut Tiara ikut duduk di sebelah Evan


"Udah di test?" Tiara menggeleng


"Langsung periksa aja."


Sekarang Tiara tengah berbaring di atas brangkar sembari menunggu hasil dari test yang baru saja ia lakukan di temani oleh Evan


Cukup lama akhirnya seorang wanita berjas putih masuk ke ruangan tersebut


"Selamat siang, Tuan/Nyonya" Sapanya ramah


"Siang"


"Saya kesini ingin memberitahukan hasil test yang tadi Nyonya lakukan" Ujarnya tersebut, "Bagaimana, Dok. Apa pemikiran kami benar" Tanya Evan menatap serius Dokter tersebut


"Bukan, Tuan. Yang di alami Nyonya adalah masa menopause, masa di mana wanita sudah tidak lagi mengalami menstruasi. Berhentinya menstruasi disebabkan karena sel telur telah habis sehingga peristiwa ovulasi juga tidak lagi terjadi" Jelasnya


"Kesimpulannya adalah bahwa Nyonya tidak hamil, melainkan apa yang saya jelaskan tadi" Sambungnya.


"Ayah sama Mama dari mana?" Tanya Vira yang baru saja pulang dari sekolah, "Rumah sakit, kamu kapan pulang" Kata Evan


"Baru aja, tapi siapa yang sakit? Ayah atau Mama?" Tanya Vira lagi, "Nggak ada yang sakit, Sayang. Tadi Ayah sama Mama kerumah sakit cuma periksa sebentar" Jawab Tiara tersenyum


"Sekarang kamu bersih-bersih, bau badanmu sangat menyengat" Lanjut Tiara menutup hidungnya.


"Ra, gimana tadi?" Tanya Olivia, "Masa menopause, makanya gue nggak dapet" Jawab Tiara


"Sekarang kita bertiga samaan, udah masa menopause" Tambah Catrin, "Gue ada ide bagus, dan pastinya menguntungkan semuanya" Tutur Olivia tersenyum miring


"Nggak udah aneh-aneh deh lo" Balas Tiara kurang yakin, "Dibilangin ngeyel, makanya dengerin dulu" Olivia meminta dua wanita tersebut lebih dekat dengannya


"Nggak ah, gue nggak tega" Tentang Tiara, "Lo mau cepet kaga? Kalo iya, kita jalanin rencana gue" Ujar Olivia


"Gimana?" Catrin mengangguk.


"Mama? Mama kenapa, kok bisa ada disini? Gimana kata dokter tadi" Tanya Revan khawatir, ia langsung pergi ke rumah sakit bersama Selena setelah mendengar sang Ibu masuk rumah sakit


"Mama nggak papa, siapa yang ngasih tau kalau Mama disini?" Tanya balik Tiara, "Vira, denger Mama disini aku sama Lena langsung kesini" Jawab Revan


"Mama nggak sakit, cuma periksa aja. Lihat, Mama nggak diinfus" Ujar Tiara


"Sama aja masuk rumah sakit" Tambah Revan


Seorang wanita berjas putih masuk ke ruangan tersebut, dokter wanita itu adalah dokter yang tadi siang memeriksa Tiara


"Malam, Tuan/Nyonya"


"Malam"


"Langsung jelasin aja, kenapa Mama saya" Selamat Revan datar tak suka basa-basi kalau sudah menyangkut keluarganya


"Baiklah, yang di alami Nyonya sekarang adalah masa menopause, masa di mana wanita sudah tidak lagi mengalami menstruasi. Berhentinya menstruasi disebabkan karena sel telur telah habis sehingga peristiwa ovulasi juga tidak lagi terjadi" Jelasnya


"Jadi sahabat saya nggak hamil, Dok" Tanya Catrin dengan raut wajah sedih begitupun juga dengan Tiara, Olivia, Evan, Zafran, dan Vira


"Tidak, Nyonya. Kebanyakan wanita yang mengalami menopause, kadar LH dan FSH tetap tinggi namun kadar estrogen dan progesteron tetap rendah. Ketidakseimbangan hormon ini membuat ovarium tidak melepaskan sel telur. Akibatnya, menstruasi berhenti total dan tidak dapat hamil lagi" Jelasnya


Mendengar penjelasan dokter, Selena menjadi merasa bersalah. Ia tadi melihat wajah ibu mertuanya yang penuh harap tetapi sekarang hancur


Revan yang menyadari hal itu, langsung merangkul pundak istrinya.


...»»——⍟——««...