
Di dalam kamar, Selena memandang bahagia foto USG yang berada di tangan nya. Wanita itu menempel foto tersebut di sebuah buku lalu menyimpannya di dalam laci
Revan masuk ke kamar dan melihat Selena duduk di atas kasur.
"Lena"
"Heem, ya"
Revan duduk di sebelah sang istri. "Kayaknya lagi seneng? Ada apa" Tanya Revan
Selena kembali mengambil buku tadi dan memperlihatkan isinya. "Aku menempelkan nya disini buat kenang-kenangan nanti" Ucap Selena tersenyum
"Dia masih kecil sekali" Ucap Revan, "Baru sembilan minggu, Revan. Tapi aku udah nggak sabar liat dia di pangkuan ku" Kata Selena.
Morning sickness selalu terjadi, termasuk yang terjadi pada Selena sekarang. Wanita itu sudah terkulai lemas karna terlalu lama di dalam kamar mandi
"Lena, apa kamu di dalam" Tanya Revan mengetuk pintu kamar mandi
"Ya!" Dengan sisa tenaga yang ada, Selena berdiri dan berjalan ke arah pintu
"L–Lena?" Revan menangkap tubuh Selena yang hampir saja jatuh, pemuda itu menggendong bridal Selena dan membawa ke atas kasur
"Aku akan segera kembali" Belum sempat Revan beranjak pergi, Selena langsung memeluk pria itu
"Tetap disini dan jangan kemana-mana" Pinta Selena
"Hanya sebentar" Selena menggeleng
Revan kembali merebahkan tubuh nya dan membiarkan Selena memeluk dirinya. "Kita sarapan dulu yuk"
"Nggak mau"
"Kasian nanti baby nya kelaperan kalo kamu nggak makan" Ujar Revan, "Nggak mau, Revan. Jangan maksa" Rengut Selena
"Yaudah, kalau kamu nggak mau makan. Tapi kamu harus minum susu" Ucap Revan, "Kamu yang buat tapi kamu tetep disini, nggak boleh kemana-mana" Tambah Selena
Dahi Revan mengerut. "Gimana caranya aku bikin susu untukmu sedangkan kamu nyuruh aku tetap disini" Balas Revan
Tangan Revan mengulur mengambil benda pipihnya, ia menghubungi pelayan untuk membawakan gelas, sendok, susu, dan juga air panas ke kamarnya
Tak lama, pelayan masuk setelah Revan memberikan ijin. Selena melepaskan pelukan nya, dan membiarkan Revan membuat susu
"Ayo diminum dulu" Ucap Revan memberikan segelas susu kepada Selena
"Heem."
Selena berjalan menuruni tangga setelah keluar dari kamar Vira yang meminta nya datang untuk memberi pendapat tentang baju yang akan ia gunakan nanti malam pergi bersama teman-teman
Tanpa sepengetahuan Selena, dalam pijakan ketiga anak tangga ia tergelincir dan jatuh dari tangga
Mendengar pekikan Selena, semua orang menghentikan kegiatan mereka dan memeriksa wanita itu
"Lena!!"
Dokter keluar dari dalam ruangan di mana Selena di periksa.
"Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya" Tanya Revan khawatir, "Nona baik-baik saja. Tapi maaf, Tuan. Karna benturan keras yang terjadi, janin yang berada di dalam rahim nona tidak bisa kami selamatkan. Nona sekarang dalam pengaruh obat bius karna kami harus melakukan kuret untuk membersihkan jaringan yang tersisa dalam rahim, permisi" Jelasnya
"Mah, gimana aku memberitahu kabar buruk ini kepada Lena? Harapannya tadi malam sudah hancur sekarang" Isak Revan
"Stuttt...kita bicara sama Lena pelan-pelan. Basuh wajahmu sekarang, atau Lena akan tambah sedih melihatmu seperti ini" Ujar Tiara mengelap air mata putranya.
Sebelum menemui Selena di dalam ruangan, Revan mengurus pemakaman untuk anaknya sekaligus mempersiapkan diri menghadapi Selena nanti
"Apa Selena udah bangun" Tanya Revan kepada Tere yang berada di depan ruang rawat Selena bersama Gibran, "Belum, mungkin sebentar lagi" Jawab Tere
"Minum dulu, gue tau lo sedih. Tapi jangan perlihatkan kesedihan lo di depan Lena" Pesan Gibran menepuk pundak kokoh sahabatnya
"Thanks."
...»»——⍟——««...