MARRIED BY MISTAKE

MARRIED BY MISTAKE
35



Malam hari, seorang wanita tengah duduk nyaman di pangkuan suaminya dengan kepala bersandar di bahu kokoh pria itu. Sesekali telunjuknya bermain di dada bidang suaminya


"Kenapa? Aku perhatiin dari tadi kamu ngelamun" Tanya Revan memerhatikan wajah Selena, wanita itu menghela nafasnya. "Ntahlah, rasanya aku ingin seperti ini terus" Jawab Selena


"Memangnya siapa yang mau duduk disini selain dirimu, hm. Tempat ini hanya milikmu" Lanjut Revan mencium kening istrinya, "Bukan itu, Revan. Aku hanya takut" Ucap Selena


"Jangan terlalu di pikirkan, akibatnya akan buruk kepada anak kita nanti" Kata Revan diangguki Selena.


Pagi hari, Tiara dan Selena sudah berada di dapur menyiapkan sarapan lagi bersama beberapa pelayan. Tiara sudah melarang Selena untuk tidak beraktivitas dulu, tetapi bukan Selena kalau tidak bisa mewujudkan apa yang dia inginkan


"Lena, mending kamu bangunin Revan aja. Ini udah selesai, tinggal di taro di meja" Ujar Tiara, "Iya, Mah. Kalau begitu, Lena ke kamar dulu" Panit Selena sebelum kembali ke kamar


Wanita itu masuk ke kamar dan melihat suaminya masih nyaman tidur di balik selimut tebalnya, ia mendekat dan menoel hidung lelaki itu


"Eunghh.."


"Ayo bangun, ini udah pagi" Ucap Selena, lalu masuk ke walk in closed untuk menyiapkan baju kerja suaminya


"Revan"


Karna tidak ada pergerakan, ia merangkak di atas kasur dan duduk di perut suaminya. Lelaki itu mulai membuka matanya ketika merasa ada sesuatu yang berat di perutnya


"Lena, apa yang kau lakukan" Tanya Revan mengalihkan tubuh Selena berbaring di sebelah nya, "Tidak, ternyata wajah suamiku kalau di lihat dari atas sangat tampan" Ujar Selena


"Baru sadar? Kemana aja kamu selama ini, hm" Kata Revan, "Ish..buruan mandi, yang lain udah nunggu di meja makan" Kesal Selena karna lupa tujuannya kembali masuk kamar


"Morning kiss"


Cup


Satu ciuman mendarat di pipi kiri Revan


"Kok cuma pipi?" Protes Revan, "Sisanya nanti, sekarang buruan mandi" Balas Selena, pria itu tidak bergeming dan kembali menutupi tubuhnya menggunakan selimut


Tangan Selena mengulur menyibak selimut tersebut, karna tidak ingin berlama-lama ia langsung mendaratkan ciuman dibibir suaminya


Seketika senyum terbit di wajah Revan. "Tengyu, istriku"


Selena hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah suaminya yang kadang seperti anak kecil.


"Pagi"


"Pagi"


"Vira masuk sekolah?" Tanya Selena ketika melihat adik ipar nya sudah rapi dengan seragam abu-abunya


"Heem, bosen" Padahal baru dua hari di rumah setelah pulang dari rumah sakit


"Ayo kita sarapan" Ajak Evan, mereka pun sarapan lagi dengan tenang.


"Semuanya sudah selesai sesuai dengan yang anda katakan, Tuan" Ucapnya, "Pergilah, dan awasi mereka terus" Orang itu mengangguk kemudian pergi


"Tak kusangka, ternyata kau bukan orang biasa. Tapi itu yang membuatku ingin menarikmu keluar" Ucap lelaki itu menyunggingkan senyumnya.


***


"Revan, aku laper" Rengek Selena menatap Revan yang sibuk membaca berkas-berkas yang menumpuk di meja pria itu. Karna tidak ingin di tinggal, Revan jadi harus membawa Selena ke kantor


"Bentar, aku pesenin makanan dulu" Kata Revan, "No! Aku mau ke kantin aja, enakan makan di sana" Tolak Selena, "Sendiri? Tidak, tunggu sampai pekerjaan ku selesai" Larang Revan tak ingin terjadi apa-apa dengan wanitanya


"Tapi aku udah laper, nanti kamu bisa nyusul" Ujar Selena, "Biar Shiv yang mengantarmu" Tambah Revan


"Okey."


Sekarang Selena dan Shiv sudah berada di kantin, tetapi mereka menempati meja yang berbeda.


"Nona, ini pesanan anda" Ucap Shiv, "Terimakasih" Ucap Selena, Shiv hanya mengangguk kecil


"Kok cuma satu, kamu mana?" Tanya Selena, "Ini masih jam kerja, Nona. Jadi saya makan nanti" Jawab Shiv, "Maaf, Revan menganggu pekerjaan mu. Kau bisa kembali, aku akan baik-baik saja disini" Ujar Selena


"Tidak, saya akan menemani anda disini. Pekerjaan saya itu urusan belakang" Balas Shiv, "Jangan pernah tunda pekerjaan, pergilah" Shiv akhirnya mengangguk pasrah menuruti ucapan istri atasannya


Selena memakan semangkuk bakso dengan tenang sampai jam istirahat tiba, kantin yang awalnya sepi sekarang menjadi ramai saat para karyawan mulai berdatangan


"Permisi, Nona. Apa kita boleh gabung, semua meja sudah penuh" Pintanya hati-hati, Selena mendongakkan kepalanya lalu tersenyum. "Silahkan, duduk saja. Lagian ini masih muat" Jawab Selena


"Terimakasih"


"Nona—"


"Panggil Selena aja, tak perlu sungkan" Potong Selena


"Tapi anda—"


"Lena" Selena tersenyum melihat Revan berjalan menghampiri mejanya


"Kenapa tadi kamu nyuruh Shiv pergi" Tanya Revan duduk di sebelah istrinya, "Masih jam kerja, kasian kerjaannya numpuk" Jawab Selena, "Nggak makan?"


"Shiv lagi mesen" Jawab Revan, Selena mengangguk


"Maaf, kami akan mencari meja lain" Ucap karyawan tadi, "Eh, nggak perlu. Tetep disini aja nggak papa" Cegah Selena


"Tapi—"


"Tetap disini" Tegas Revan, dua karyawan tadi mengangguk lalu melanjutkan makan siang mereka.