
"Apa nggak bisa kamu aja, Shiv" Tanya Revan gusar setelah mendengar kabar kalau perusahaan cabang sedang bermasalah, dan itu membuatnya harus turun tangan karna masalahnya sangat serius. Tentu saja membutuhkan waktu yang lama
"Tidak bisa, Tuan. Masalah ini sudah di luar kemampuan saya, dan hanya anda yang bisa menangani nya"
"Baiklah, urus keberangkatan kita kesana. Kau bisa pergi" Shiv mengangguk lalu pamit dari ruangan Revan
Sepeninggalan Shiv, Revan pun kembali mengerjakan pekerjaan nya yang sempat tertunda.
"Assalamu'alaikum, Lena" Ucap Revan masuk ke dalam rumah, "Waalaikumsalam, tumben udah pulang?" Balas Selena menghampiri sang suami
"He'em, ada yang mau aku omongin sama kamu. Makanya aku pulang agak cepet" Ujar Revan menggiring Selena duduk di sofa, "Mau ngomongin apa?" Tagih Selena
"Besok aku harus berangkat ke luar kota, perusahaan di sana sedang ada masalah serius" Jelas Revan
"Berapa lama?"
"Mungkin satu sampai dua minggu, tapi aku usahakan secepatnya" Jawab Revan, "Dan selama aku pergi, kamu nginep di rumah papa atau ayah. Dari pada kamu sendirian"
Selena menggeleng. "Aku mau disini aja"
"Yakin? Disini kamu nggak ada temennya loh atau kamu ikut aku aja" Kata Revan, "Tidak, nanti aku bisa minta Vira atau Rere datang kesini" Jawab Selena
"Baiklah, terserah kau saja. Yang penting kamu nyaman."
Sekarang Selena sedang berkutat dengan alat dapur di bantu para pelayan yang di bawa Revan dari rumah utama (Rumah Kenzo dan Ishita).
Kegiatannya terhenti ketika ada sepasang tangan melingkar di perutnya, tanpa menoleh Selena sudah tau pelakunya
"Kenapa?"
"Nggak, lagi pengen aja" Jawab Revan menaruh kepalanya di sela leher istrinya, "Nggak malu apa di liatin Bibi?" Tambah Selena
"Ngapain malu? Sama istri sendiri juga" Balas Revan, "Mending kamu duduk biar masakannya cepet selesai, kamu nggak laper apa?" Ujar Selena
"Iya"
Setelah semuanya matang, Selena segera menyajikan nya di meja makan
"Revan"
"Hm" Dehem Revan sambil mengunyah makanan, "Kamu ngerasa ada yang aneh nggak asih sama Vira?" Tanya Selena
"Aneh gimana? Dia biasa-biasa aja" Balas Revan tak mengerti, "Aku juga nggak tau, aku cuma ngerasa ada yang aneh aja sama dia. Atau mungkin hanya perasaan ku saja" Tambah Selena
"Hanya perasaan mu saja, jangan di fikirkan."
"Bisakah kau diam, Chris!" Sentak Vira menatap tajam pria di depannya, "Aku tidak akan diam sebelum kau makan, lihat wajahmu sangat pucat" Balas Chris tegas
"Tidak ada masalah apapun" Vira beranjak pergi masuk ke dalam salah satu ruangan untuk beristirahat
"Dasar keras kepala" Umpat Chris dengan tanpa memasukkan makanan kedalam mulutnya yang seharusnya untuk Davira.
***
"Ini apa lagi yang mau di bawa" Tanya Selena tengah sibuk memasukkan keperluan Revan besok ke dalam koper, "Nggak usah banyak-banyak, nanti aku bisa beli di sana" Jawab Revan merebahkan tubuhnya di kasur
Setelah di rasa cukup, Selena ikut merebahkan dirinya di samping Revan dengan meletakkan kepalanya di dada bidang Revan
"Kenapa? Berubah pikiran mau ikut" Selena menggeleng
"Cepet pulang" Ucap Selena pelan tetapi masih bisa di dengar Revan, "Iya, setelah semuanya selesai aku langsung balik" Balas Revan mengusap lembut surai istrinya
"Nggak nakal di sana" Peringat Selena, "Do'akan saja iman suamimu kuat" Kata Revan, "Kau tau sendiri kalau wajah suamimu sangat bisa mengundang wanita di luaran sana"
Selena melepas pelukan nya dan bersandar di kepala ranjang. "Terserah" Ucap Selena tanpa melihat kearah Revan
"Kau cemburu, Sayang?"
"Tidak, untuk apa"
"Beneran? Baiklah, aku akan membangun asrama wanita di ponselku. Lumayan buat cuci mata" Kata Revan mengutak-atik ponselnya
Selena merebut cepat ponsel Revan, dan menatap tajam laki-laki itu. Tetapi tak lama dari itu, matanya mulai berkaca-kaca
"Hey, aku hanya bercanda. Kenapa nangis" Ucap Revan menangkan sang istri, "Apa aku kurang sampai kamu mau buat asrama wanita?" Lirih Selena yang berada di dekapan Revan
"Aku udah bilang kalau tadi aku cuma bercanda, udah jangan nangis" Kata Revan. Melihat Selena masih belum tenang, Revan berinisiatif bertanya. "Kamu mau apa?"
"Seblak level terakhir" Jawab Selena dengan mata berbinar, "Nggak, nanti perut kamu sakit kalau makan pedes" Tolak Revan
"Tadi nawarin, giliran di jawab nggak di bolehin" Gerutunya
***
Sehabis mengantar Revan ke bandara, Selena langsung meluncur ke perusahaan. Pekerjaan nya sudah menunggunya dari kemarin karna tidak masuk.
"Mbak Lena, kok masih kerja aja. Kan Mbak Lena istrinya pak Revan, tinggal di rumah kan enak" Ucap salah satu karyawan kepada Selena yang hendak masuk ke ruangan, "Belajar mandiri, sebagai wanita nggak boleh bergantung terus sama pria. Lagian saya di rumah juga nggak ada kerjaan" Jawab Selena tersenyum ramah
"Saya permisi."
...»»——⍟——««...