
"Kenapa liatin aku kayak gitu? Ada yang salah" Tanya Selena yang kini tengah nyaman bersandar di dada bidang Revan, "Tambah cantik" Balas Revan mengangkat kedua sudut bibirnya membuat lengkungan
"Gombal, pasti ada maunya" Kata Selena, "Pinter banget istri aku ini, boleh?" Tanya Revan, Selena mengetuk dagunya berulang kali lalu mengangguk
"Stop!" Peringat Selena ketika Revan hendak memulai aksinya
"Kenapa?"
Selena tersenyum penuh arti. "Kayaknya kamu harus nunggu sampe minggu depan" Ucap Selena terkekeh, "Kamu nggak bercanda kan?" Tanya Revan memastikan. Jangan di tanya bagaimana keadaan Revan sekarang, sangat tersiksa
Selena mengangguk
Revan menghela nafas berat dan berlalu masuk ke kamar mandi, sedangkan Selena merasa bingung ingin tertawa atau kasian melihat suaminya.
Selena mengalihkan pandangan nya ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat seorang pria dengan wajah lesu baru saja keluar dari sana
"Revan"
"Hmm"
"Ngambek kan" Gumam Selena tetapi masih di dengar oleh Revan yang merebahkan diri di sebelah wanita itu
"Udah malem, buruan tidur" Ujar Revan memejamkan matanya, "Nggak peka banget" Cibir Selena
Revan tak memperdulikan cibiran istrinya. Ia masih kesal karna ulah Selena tadi, membuatnya harus membuang sia-sia benih calon anak-anaknya
"Revan"
"Apa?" Tetapi pria tersebut masih setia memejamkan matanya tanpa berniat membukanya
Melihat Revan tak berniat melihatnya, Selena memilih merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi suaminya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi Selena belum bisa memejamkan matanya
Selama satu tahun lebih dua bulan pernikahannya dengan Revan, ia sudah terbiasa kalau tidur di peluk laki-laki itu. Mungkin itu yang membuatnya tak bisa tidur
Selena membalikkan badannya menghadap Revan yang tertidur, sebenarnya pria itu tidak tidur karna Selena terus bergerak. Ia hanya memejamkan matanya saja dan ingin melihat bagaimana Selena membujuknya
"Revan"
"Revan"
"Revan"
"Revan, aku nggak bisa tidur..." Rengek Selena mengguncang tubuh suaminya
"Mghh..lalu?"
"Nggak jadi" Gengsi ingin mengatakan kalau ia ingin di peluk agar bisa tertidur pulas dan memilih membelakangi suaminya
"Kalau aku ngambek kamu juga ikut ngambek nggak nge-bujuk" Rengut Revan, Selena tertawa pelan. "Maaf udah buat kamu kayak tadi"
"Heem, ayo tidur. Udah malem" Selena menyembunyikan wajahnya di dada bidang Revan dan mulai ke alam mimpi
"Sweet dreams my wife" Kecupan singkat mendarat di kening Selena.
Matahari sudah mulai menampakan sinarnya, seorang wanita masih begitu nyaman berada di pelukan prianya bahkan sampai enggan membuka matanya
Tapi tugasnya sebagai seorang istri yang membuatnya harus bergegas menyiapkan keperluan suaminya
"Revan, ayo bangun. Kamu berangkat kerjan 'kan?" Tanya Selena mengusap rahang kokoh Revan yang masih tertidur pulas, "Hm, ini masih pagi. Biarkan aku tidur sebentar lagi" Balas Revan mengeratkan pelukan nya
"Nanti telat, ayo bangun" Dengan terpaksa Revan bangkit dari tidurnya
"Kamu mandi dulu, aku akan menyiapkan keperluan mu" Titah Selena diangguki Revan yang mulai berjalan ke kamar mandi.
"Kenapa nggak masuk ruangan?" Tanya Revan ketika mereka sudah berada di kantor, "Sepertinya ponselku tertinggal di rumah nenek, aku akan pulang sebentar" Jawab Selena setelah memeriksa tasnya
"Nggak perlu, aku akan menyuruh orang rumah datang kesini. Jadi kamu nggak perlu repot-repot" Tambah Revan
"Baiklah, terimakasih" Selena masuk ke ruangan nya begitupun juga dengan Revan.
Waktu terus berjalan sampai tak sadar kalau sudah waktunya makan siang, Revan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya lalu segera membereskan mejanya
"Makan di kantin aja kali, ya" Gumam nya tersenyum
Dirasa meja sudah rapi, ia segera keluar menghampiri sang istri untuk mengajaknya makan siang
"Lena, ayo kita makan siang. Ini udah jam istirahat" Panggil Revan seraya membuka pintu ruangan istrinya, Selena menatap Revan. "Tunggu sebentar, sedikit lagi selesai" Balas Selena menyelesaikan pekerjaannya
"Okey, ayo."
Sedangkan di sebuah rumah, seorang wanita menatap bingung baju putrinya yang terkena noda darah
"Darah di baju Vira? Tap—"
"Ternyata Mama disini, aku cariin dari tadi nggak ketemu" Ucap Vira menghampiri ibunya, "Apa ini, Sayang? Bisa kamu jelaskan" Selidik Tiara memperlihatkan baju Vira yang tertoreh noda darah
Vira kaget melihat baju yang tadi malam ia pakai untuk mengakhiri hidup Metha, sebisa mungkin ia menetralkan wajahnya. "Nggak sengaja kena, Mah. Tadi malam Vira bantu orang yang abis kecelakaan di jalan"
"Kamu nggak lagi bohong 'kan?" Vira mengangguk pelan sebagai jawaban.
...»»——⍟——««...