MARRIED BY MISTAKE

MARRIED BY MISTAKE
38



Pagi hari, Selena mulai membuka matanya. Menghela nafasnya mengingat apa yang sudah terjadi, kekosongan dihati begitu terasa dalam dirinya. Ia menghapus cepat cairan kristal yang tiba-tiba turun, lalu masuk ke kamar mandi.


Selesai menyegarkan diri, Selena keluar dari kamar menuju meja makan.


"Pagi"


"Pagi, ayo kita sarapan" Ajak Zafran, dan Selena mengangguk


"Kamu mau makan apa?" Tanya Olivia, "Aku bisa mengambilnya sendiri, Mama nggak perlu repot-repot" Kata Selena.


Usai sarapan pagi, Selena melangkah menuju taman belakang rumah untuk mencari udara segar. Tak sengaja matanya melihat cincin yang masih melingkar di jarinya, cincin itu adalah cincin pernikahannya dengan Revan satu tahun lalu


"Apa aku harus melepasnya juga, Revan" Gumam Selena


Terimakasih, terimakasih karna sudah mengisi hari-hariku selama ini dengan kenangan yang indah. Walau ragamu pergi, tetapi aku yakin kalau hatimu akan selalu dekat dengan hatiku. Terimakasih untuk satu tahun waktu yang kamu berikan untukku. Aku akan selalu mencintaimu, Revan. Ucap Selena dalam hati.


"Ra, ayo makan dulu. Kamu belum makan apapun daritadi pagi" Ucap Evan terus berusaha membujuk Tiara yang tak ingin makan, "Aku akan makan kalau aku lapar, Kakak bisa bawa makanan itu pergi" Balas Tiara tak berniat menatap suaminya


"Sayang"


"Jangan membujuk ku dengan panggilan itu, Kak" Tungkas Tiara, "Baiklah. Kalau kamu nggak mau makan, aku juga nggak akan makan. Kita akan sama-sama lapar" Ujar Evan


"Kak"


"Apa?"


Tiara menghembuskan nafasnya pasrah. "Baiklah, aku akan makan."


Selena kini sudah bersiap untuk pergi ke pemakaman, ia akan lebih sering kesana sebelum waktu persalinan tiba


"Lena, kamu mau kemana" Tanya Olivia, "Aku mau bertemu dengan Revan, Mah. Waktuku akan tersita banyak setelah melahirkan nanti. Jadi sekarang aku akan sering kesana menemuinya" Urai Selena


"Perlu Mama temani" Tawar Olivia, "Nggak, Mah. Lena kesana bawa supir, jadi Mama nggak perlu khawatir" Tolak Selena


"Baiklah, hati-hati."


Kaki kanan Selena menjuntai keluar dari dalam mobil, bergantian dengan kaki kiri. Sebelum benar-benar masuk ke area pemakaman, ia mengukir tipis senyuman di bibir nya


Tetapi saat ia hendak melangkah, seseorang yang ia kenali baru saja keluar dari area pemakaman bersama dua orang berbadan besar


Kedua mata mereka salih bertubrukan, senyuman lelaki itu terlihat jelas. Perlahan pria itu mendekati Selena


"Nona, anda disini" Ucapnya, "Ya, kau sedang apa disini. Dan jangan memanggilku dengan sebutan Nona, Ken. Namaku Selena bukan Nona" Jelas Selena


"Baiklah, saya baru saja berziarah ke makam tuan Revan. Saya turun berduka cita dan Maaf, saya baru bisa datang kesini" Ucap Kendrick, "Tidak masalah, saya tau anda sibuk. Maaf, saya harus pergi" Pamit Selena diangguki Kendrick.


"Assalamu'alaikum, Revan" Ucap Selena tersenyum kecil, "Kau tau kalau aku tidak akan bisa tidur nyenyak tanpamu, itu yang aku alami tadi malam. Anak kita terus menendang, Revan. Dan itu membuat perutku rasanya sangat nyeri, biasanya dia akan tenang kalau kamu menyentuh nya. Tadi malam aku sudah berusaha untuk menenangkan nya, tapi tidak berhasil"


"Aku berdoa kalau semuanya ini hanya mimpi, dan saat aku bangun kamu ada di sampingku. Tapi itu hanya harapan, Revan. Dulu saat anak kita pergi, aku masih bisa mengikhlaskannya karna kamu masih bersamaku. Tapi sekarang tidak ada lagi"


"Rasa takutku selama ini terbukti, Revan. Tetapi setidaknya sebelum kamu pergi, aku masih bisa mendengar suaramu untuk terakhir kalinya. Itu sangat berharga untukku, Revan"


"Dan cincin ini? Apa aku harus melepaskannya juga seperti aku melepaskan mu sekarang"


Dari kejauhan, Davira terus memerhatikan kakak iparnya. Tangannya mengepal kuat melihat air mata Selena yang tak kunjung berhenti


"Akan ku habisi orang itu secepatnya. Air mata akan di balas dengan air mata dan nyawa akan di balas dengan nyawa" Ucap Vira masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan sekitar pemakaman.