
Revan sekarang tengah asik mengusap lembut perut Selena yang makin membuncit, usia kandungan nya sekarang sudah jalan bulan ke-8 hampir memasuki bulan ke-9. Dan itu membuat Revan semakin overprotective terhadap istrinya
Senyuman lelaki itu tak pernah luntur ketika bayi yang masih berada di dalam perut Selena memberikan respon dengan gerakan
"Melihat dia bergerak, membuatku makin nggak sabar menunggunya hadir" Ucap Revan, "Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya" Tanya Selena
"Heem" Revan mendekatkan bibirnya di telinga Selena lalu membisikkan nama yang ia pilih untuk anak mereka nanti
"Bagaimana?"
"Nama yang bagus, aku suka" Balas Selena, "Ini sudah malam, lebih baik kita istirahat" Kata Revan diangguki Selena.
Setelah Revan dan Evan pamit pergi ke kantor, Selena duduk tenang di ruang tengah bersama Tiara
"Mah"
"Ya, kau ingin sesuatu" Tanya Tiara, "Tidak, bukan itu. Aku akhir-akhir ini merasa takut, tapi aku nggak tau apa itu" Ujar Selena menatap Ibu mertuanya
"Itu hanya perasaanmu saja, kau mungkin terlalu khawatir tentang persalinan mu nanti" Kata Tiara, "Ya, mungkin saja itu sebabnya" Balas Selena bergumam
"Apa kalian sudah menyiapkan keperluan untuk anak kalian nanti" Tanya Tiara mengalihkan pembicaraan, "Iya, Mah. Semuanya sudah, tinggal nunggu aja" Jawab Selena
"Semoga semuanya lancar" Ucap Tiara
"Aamiin."
"Mereka sudah bergerak, kalian awasi terus dan jangan sampai kehilangan fokus kalian ke mereka. Satu kesalahan akan berakibat buruk kepada kalian" Tegas seseorang yang duduk di kegelapan ruangan
"Baik" Segerombolan orang tersebut bubar dan kembali mengambil posisi bertugas yang sudah di bagi
"Peringatan ku kemarin ternyata tidak membuatmu mundur, kita lihat siapa yang akan mati di medan perang" Ucapnya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Kalian? Tumben dateng nggak ngabarin" Ucap Tiara menghampiri kedua sahabatnya, "Surprise, mana anak gue" Tanya Olivia
"Gue suruh istirahat di kamar, dari tadi dia nggak diem. Maunya bantu kerjaan rumah" Kata Tiara mengajak mereka berdua duduk di ruang tamu, "Dia memang keras kepala" Tambah Olivia
"Kalian nggak ke kantor" Tanya Tiara, "Pulang duluan, emang udah rencana nyelesein kerjaan lebih awal" Jawab Catrin
"Dasar, mentang-mentang bos jadi seenaknya" Cibir Tiara, "Sekali-kali, nggak sering juga" Kata Olivia
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Terlihat seorang gadis dengan seragam sekolah nya masuk ke dalam rumah
"Mama, Tante, aku ke atas dulu" Pamit Vira, "Eits..abis bersih-bersih langsung makan" Peringat Tiara, "Iya, Vira inget" Balas Vira melangkah pergi
"Kapan kalian datang?" Tanya Selena menyalami punggung tangan Olivia dan Catrin
"Baru aja, bagaimana kabarmu" Tanya Olivia, "Baik, Mama sama Tante nggak ke kantor" Tanya Selena lagi
"Pulang duluan" Jawab Catrin.
***
"Lena, apa Revan lembur hari ini?" Tanya Tiara masuk ke kamar putra dan menantunya
Karna putranya tak kunjung pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, jadi ia bertanya
"Nggak tau, Mah. Revan nggak ngasih tau apa-apa sama Lena, mungkin sebentar lagi dia pulang" Jawab Selena
"Yaudah, mending kita makan malam dulu. Kasian ayah sama adikmu nunggu lama di meja makan" Ajak Tiara
"Iya" Kedua wanita itu keluar dari kamar menuju meja makan.
Revan masuk ke dalam mobil setelah membelikan pizza untuk istrinya sebagai permintaan maaf karna ia telat pulang dan lupa mengabari
Tidak lama dari itu, ia merasa ada yang mengikuti mobilnya. Mungkin satu arah, pikir Revan. Semakin lama perasaan semakin tidak tenang ketika mobil yang mengikutinya ber sejajar dengan mobilnya, ia menambah kecepatan nya dan mobil itupun juga menambah kecepatan nya
"Astaga, siapa mereka" Geram Revan melihat bukan sisi kirinya saja, tetapi sekarang ada satu mobil lagi yang mensejajarkan mobil itu dengan mobilnya
Jalanan yang tidak terlalu ramai karna sudah malam, membuat Revan sedikit leluasa untuk menambah kecepatan
Kedua bola mata Revan membulat sempurna ketika melihat ada tikungan tajam dan rem mobilnya tidak berfungsi
"Shit!!"
Scresss
Body mobil Revan sengaja di baret dengan kedua mobil itu, Revan berusaha bertahan sampai ada seseorang yang tersambung dengan telfonnya
"Revan, ken—"
^^^"Lena, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu"^^^
"Y–ya, katakan"
"Revan, kau masih di sana"
^^^"Aku mencintaimu dan akan selalu bersamamu."^^^
Sebuah benturan terdengar begitu keras antara truk dan juga mobil yang di tumpangi Revan, tidak butuh waktu lama mobil itu meledak dan membuat orang-orang yang melihat berteriak histeris.