
Selena mengerjapkan kedua matanya. Menyadari kalau tak ada sehelai benang pun yang menempel pada tubuhnya, membuat Selena teringat dengan kegiatan yang ia lakukan dengan Revan tadi pagi. Menyerahkan diri kepada Revan sepenuhnya dan memulai dari awal.
"Kau sudah bangun" Revan bertumpu dengan kedua lututnya di samping ranjang
"Jam berapa?"
"Dua siang" Jawab Revan beralih duduk di tepi ranjang dekat Selena, "Ternyata melakukan nya dalam keadaan sadar lebih nikmat dari pada keadaan sebaliknya" Ucap Revan enteng
"Jangan di bahas, Revan! Pergilah, aku mau mandi" Usir Selena memekik kesal, "Kau malu, hm? Padahal tadi kau sangat menikmati nya" Goda Revan mengikis jarak wajah mereka
"Aku sudah menuruti permintaan mu tadi malam, kita akan memberikan mama delapan cucu" Bisik Revan tersenyum miring, "Jangan gila, Revan!" Selena mendorong kuat Revan agar menjauh
"Kenapa? Aku rasa delapan cukup, rumah kita nanti akan ramai dengan suara teriakan mereka" Kata Revan enteng
"Terserah" Membalut tubuhnya menggunakan selimut lalu masuk ke kamar mandi
Tawa Revan pecah karna berhasil menggoda istrinya. "Kesehatan mu lebih penting, Lena" Ucap Revan beranjak pergi dari kamar.
"Lena"
"Apa" Nada ketus keluar dari bibir wanita itu, Selena sekarang tengah sibuk menutupi stempel yang di berikan suaminya
"Ngambek nih ceritanya?" Kata Revan memeluk Selena dari belakang, "Pikir aja sendiri" Balas Selena cuek
"Tadi aku cuma bercanda, nggak mungkinlah kita punya anak sebanyak itu. Tapi kalau kesehatanmu mendukung ya, nggak papa" Ujar Revan terkikik, "Bukannya nge-bujuk malah bikin tambah kesel, nanti malem tidur di sofa" Tutur Selena melepas pelukan Revan
"Kok gitu? Gimana dengan permintaan mu tadi malam? Emang nya bisa jadi tanpa aku, hm?" Tanya Revan menautkan kedua alisnya, "Kata siapa nggak bisa? Di dunia ini cowok banyak kok, nggak cuma kamu" Balas Selena santai
"Eh?"
Selena mengalungkan kedua tangannya di leher Revan. "Kenapa, suamiku? Kau kesal? Itu yang ku rasakan tadi karna candaan mu"
Revan tersenyum. "Beneran juga nggak papa"
"Nggaklah, aku nggak mau berbagi dengan siapapun. Semua yang ada di tubuhmu adalah milikku, aku tidak akan mengijinkan siapapun menyentuhnya"
"Termasuk papa?"
"Itu pengecualian" Tambah Revan.
Di sebuah ruangan dengan minim pencahayaan, seorang gadis terus beriak agar ikatan pada dirinya di lepaskan
Brakk
Gebrakan meja terdengar sangat kuat dan membuat gadis tersebut kaget
"Siapa kau?! Berani sekali kau memperlakukan ku seperti ini! Kau belum tau siapa diriku ha?!" Bentaknya
"Metha Anggara, Nona Muda Anggara. Putri kesayangan tuan Ricky Anggara dan nyonya Meryl Ricky Anggara. Benar bukan?" Ucap seseorang yang duduk di depan Metha
"Siapa kau?"
"Perkenalkan, nama saya Davira. Putri bungsu tuan Evano Zaheza Devanata dan nyonya Tiara Andara Valensi, saya rasa anda sudah mengenal mereka" Jelas Vira tersenyum miring, "Kenapa anda terkejut seperti itu? Atau mungkin anda sudah mengetahui apa tujuan saya membawa anda kemari? Itu bagus, jadi saya tidak perlu repot-repot menjelaskannya"
"Apa mau mu?"
"Nyawa anda. Apa anda pernah mendengar, jika nyawa di balas dengan nyawa? Darah di balas dengan darah? Itu yang akan saya lakukan" Kata Vira memainkan sebuah belati di tangannya
"J–jangan macam-macam!"
"Hanya satu macam, tidak lebih. Tenanglah, anda akan lebih tenang bersama Tuhan dari pada disini" Sambung Vira
"Tapi..jika anda mati sekarang, itu tidak akan seru. Permainan akan di mulai besok pagi, menangislah" Vira menapakkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.
...»»——⍟——««...