
"Re" Panggil Gibran dengan mata fokus ke layar tv
"Hem" Balas Tere dengan deheman. Mereka berdua sekarang berada di rumah nenek Gibran, Angel.
"Gue mau lamar lo" Ucap Gibran dan langsung mendapatkan pukulan di lengan dari Tere
"Kegoblok** lo udah mendarah daging ya, Bran. Mana ada orang ngelamar kayak gitu, nggak ada romantis-romantisnya" Dengus Tere, "Emang harus romantis?" Tanya Gibran beo
"Belajar dulu sama bokap lo sono gimana cara ngelamar cewek" Kata Tere, "Terus kalo gue udah belajar, lo mau terima gue?" Tanya Gibran lagi, "Itu urusan nanti, belajar dulu" Balas Tere
"Ada apa sih ini, dari tadi nenek perhatikan kalian tengkar terus" Tanya Angel menghampiri mereka berdua
"Nenek tau, tadi Gibran ngelamar Rere tapi dia santai gitu. Nggak ada romantis-romantisnya" Adu Tere, "Emang harus ya, Nek. Kan yang penting niat dulu?" Sahut Gibran
"Emangnya kamu udah siap beneran? Jangan cuma karna nafsu kamu ngelamar Tere seenaknya jidat, dia anak orang bukan barang. Yang kamu ambil kalau kamu butuh terus kamu buang setelah nggak kamu perluin" Nasehat Angel
"Bahas masalah sama orang tua kalian. Kalau Nenek cuma bisa do'ain, kalian yang jalanin jadi kalian harus berani ngungkapin apa yang kalian rasakan sama orang tua kalian. Masa depan kalian masih panjang, mantepin dulu hati kalian. Jangan buru-buru."
Di dalam kamar, Selena terus mengusap perut buncitnya yang kadang terasa nyeri karna bayi itu terus menendang dan bergerak
"Nak, tenanglah. Mama tau kamu merindukan ayahmu, tapi tidak dengan sekarang. Kita berjuang sama-sama, Mama yakin kamu anak yang kuat" Selena menepis cepat air matanya yang tanpa permisi turun melewati pipi mulusnya
"Revan, seharusnya kamu saat ini menemaniku. Sebentar lagi anak kita akan lahir, aku sangat membutuhkan mu. Takdir Tuhan memang sangat mengejutkan, dan tak pernah di duga oleh siapapun. Seperti sekarang, di saat aku membutuhkan dukungan mu, Dia malah mengambil mu dariku" Selena menatap kosong ke arah luar dan membiarkan air matanya terus mengalir keluar dari mata cantiknya.
Seorang pria masuk ke dalam rumah dan mendapati rumah sepi, biasanya saat ia sampai dirumah akan langsung terdengar suara teriakan dari sang adik
"I–iya, Tuan"
"Di mana Kendra?" Tanyanya, "Maaf, Tuan. Sudah lima hari ini tuan muda Kendra tidak keluar kamar. Bahkan terakhir kali saya masuk, tuan muda sedang tertidur" Jelasnya
"Kenapa tidak ada yang mengabariku?!" Bentak pria itu yang tak lain adalah Kendrick
"Sekali lagi maaf, Tuan. Tuan muda melarang kami semua untuk menghubungi anda, bahkan semua telfon di rumah ini sudah tuan muda sita" Jawabnya menunduk dalam
"Pergilah" Dengan langkah lebar, pria itu pergi ke kamar adiknya yang berada di lantai dua
Tanpa permisi ia masuk ke dalam dan mendapati kamar itu kosong
"Di mana dia? Kendra! Kendra!" Setiap sudut kamar pria itu mencari keberadaan sang adik tetapi hasilnya nihil, tidak ada tanda-tanda kehidupan di kamar itu
Ia mengecek ponsel nya guna melacak keberadaan adiknya, tetapi hasilnya masih sama
"Shit!"
Di tempat lain, seseorang tengah tertawa puas
"Hah..tak sia-sia diriku mengeluarkan begitu banyak uang untuk ini, ini baru permainan awal. Tunggu permainan selanjutnya" Seringai yang di tunjukkan membuat para penjaga yang berada di sana bergidik ngeri.