MARRIED BY MISTAKE

MARRIED BY MISTAKE
10



"Dokter"


"Sebelum itu, apa saya boleh bertanya sesuatu" Kata Dokter


"Silahkan, Dok"


"Apa kalian sedang ada masalah atau mungkin ada hal lain yang membuat nona memiliki beban fikiran yang berlebihan?" Tanya Dokter


"Tidak ada, Dok"


"Begini, Tuan. Saya sarankan agar nona tidak terlalu banyak fikiran karna itu akan sangat berbahaya dengan kandungan nya, tolong jaga nona sebaik mungkin. Dan beri nona perhatian yang lebih"


Setelah dokter pergi, Revan masuk ke ruangan dimana Selena di periksa


"Lena"


"Revan, apa anak kita baik-baik saja" Tanya Selena memegang lengan suaminya penuh harap, "Ya, dia baik-baik saja. Tenanglah, jangan terlalu banyak fikiran dulu. Aku sudah mengatakannya kepadamu bukan, itu akan bahaya untuknya" Ujar Revan


"Maaf"


"Tidak masalah, ayo kita pulang" Ajak Revan menggendong bridal Selena.


Setelah mengantarkan Selena pulang dengan aman, Revan langsung kembali ke kantor karna ia harus mencari tau dengan detail masalah sang istri dengan rekan kerjanya


Sebenarnya ia sudah curiga dengan sikap para karyawan yang menatap berbeda istrinya, tapi ia berusaha berfikir positif sebelum tau yang sebenarnya


"Katakan apa yang ada di fikiran mu, Shiv" Ucap Revan melihat wajah ragu asisten ibunya, "Begini, Tuan. Tadi pagi nona meminta saya untuk mengantarkan dirinya ke ruang pemantauan CCTV, tapi saya tidak tau yang di butuhkan nona disana karna tadi nona langsung menyuruh saya keluar" Jelas Shiv


"Lalu?"


"Saya tadi nggak sengaja dengar para karyawan bergosip tentang nona yang menggoda anda hanya karna uang sampai nona hamil, dan saya juga menemukan ini di ruangan nona" Lanjut nya memberikan secarik kertas yang ia temukan tadi


Revan meremas kuat kertas kecil tersebut dan membuangnya asal. "Pecat karyawan yang berani bergosip buruk tentang istriku dan sisanya akan ku urus sendiri"


Shiv mengangguk lalu pamit melakukan tugas yang di berikan Revan.


"Tuan, kenapa saya di pecat" Tanya Riska bingung, "Saya memecat mu karna kamu sudah berani menyebar fitnah tentang istri saya" Jawab Revan menatap tajam karyawan nya


"Istri? Apa maksud, Tuan"


"Selena, dia istri sah saya."


Revan masuk ke kamar dengan cara mengendap-endap, perlahan ia mulai mendekati Selena tertidur


Dengan jail, ia tarik hidung istrinya sampai terbangun.


"Revan ih! Ngeselin" Dengus Selena, "Aku ada sesuatu untuk mu" Ucap Revan memperlihatkan dua batang coklat di tangannya, sengaja ia membeli itu karna ia tau pasti mood Selena sedang turun


"Buat aku semua?" Revan mengangguk


"Terimakasih" Ucap Selena mencium pipi suaminya, Revan yang mendapat ciuman tiba-tiba tentu saja terkejut


"Sekali lagi" Pinta Revan


"Apanya? Udah sana mandi, bau acem" Ledek Selena sibuk memakan coklat, "Mana ada, masih wangi gini kok" Bantah Revan menghirup aroma tubuhnya


"Jorok banget sih, udah buruan mandi. Atau nanti tidur di luar" Ancam Selena, "Iya, Nyonya. Ini mau mandi kok" Kata Revan beranjak ke kamar mandi


"Riska udah aku pecat" Ucap Revan


"Ken—"


"Aku udah tau semuanya, bahkan karyawan lain yang sudah bergosip buruk tentangmu juga sudah aku pecat. Dan mereka tidak akan di terima kerja di perusahaan manapun" Sela Revan


"Kenapa harus begitu, mereka masih memerlukan uang. Kalau kamu menutup pekerjaan mereka, bagaimana dengan keluarga nya?" Urai Selena, "Bayangkan kalau kamu yang di posisi mereka, sedangkan kamu membutuhkan banyak uang untuk persalinan ku nanti. Bagaimana?"


"Itu sudah konsekuensi nya. Dari pertama mereka bekerja, mereka sudah mengetahui jika mereka di pecat tidak akan di terima di perusahaan manapun" Balas Revan


"Terserah padamu" Selena meletakkan coklatnya dan beranjak ke kamar mandi.


Pagi hari, Selena menghabiskan waktunya di taman belakang rumah.


"Kakak ipar"


Selena menoleh. "Ya, Vira. Kemarilah"


Vira duduk di sebelah Selena. "Liat bang Revan nggak, Kak. Dari tadi aku nyariin dia nggak ketemu" Tanya Vira, "Dia tadi keluar, katanya masih ada urusan. Mungkin bentar lagi nyampe" Jawab Selena


"Urusan apa hari libur kayak gini, dasar" Umpat Vira, "Ohya, di luar ada oma sana nenek. Kakak nggak mau kesana" Lanjut nya


"Kenapa nggak bilang dari tadi sama Kakak? Ayo kita kesana" Selena menarik tangan Vira masuk ke dalam rumah


"Itu dia cucu menantu kita" Ucap Ishita tersenyum melihat Selena datang bersama Vira, "Oma sama Nenek bagaimana kabarnya" Tanya Selena mencium punggung tangan kedua wanita lansia tersebut


"Baru saja, di mana Revan? Oma dari tadi nggak liat dia" Tanya Aileen, "Revan masih ada urusan di luar, Oma" Jawab Selena


"Anak itu selalu saja" Gerutu Ishita


Jika di tanya di mana Lio dan Kenzo? Mereka mengalami kecelakaan pesawat ketika mereka melakukan perjalanan bisnis bersama ke negara Y. Kecelakaan itu terjadi saat Tiara mengandung Vira di usia enam bulan.


"Lalu Evan? Apa dia juga pergi" Tanya Ishita, "Nggak, Bunda. Kak Evan lagi mandi abis nge-gym" Jawab Tiara


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


"Oma, Nenek, kalian disini" Tanya Revan mencium punggung tangan Aileen dan Ishita, "Masih ingat dengan kami ternyata" Ketus Ishita, "Tentu saja, hal buruk kalau sampai aku melupakan kalian" Balas Revan


"Dari mana saja kamu, ini hari libur kenapa masih bekerja saja" Cerca Aileen, "Bertemu dengan Shiv, Oma. Ada sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan" Jawab Revan.


"Revan, aku mau asam jawa" Pinta Selena yang masih nyaman menempatkan kepalanya di dada bidang Revan, "Janji cuma sedikit" Kata Revan


"Iya" Revan beranjak keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil asam jawa


Revan memberikan asam jawa tersebut ke Selena. "Besok jadwal mu periksa bukan?"


Selena mengangguk.


...»»——⍟——««...


👤 : "Bodo amat kalo ceritanya nggak nyambung!"