
Matahari tenggelam digantikan dengan bulan, diruangan alisha gadis itu menerjapkan matanya membuka sedikit demi sedikit matanya untuk menyesuaikan cahaya.
"Eughh" Lenguh alisha
"Kamu sudah sadar nak?" tanya nyonya maria
Alisha tersentak kaget saat melihat wajah orang baru, ia menatap sekeliling ternyata ia berada di rumah sakit.
"Tadi kami menemukan kamu di lorong rumah sakit" jelas tuan Danu
Ah! Alisha teringat kejadian tadi, ia tadi sedang dihajar oleh Arga karena Arga melihat dirinya dan Regan berbincang.
"Bagaimana apakah ada yang sakit?" tanya nyonya Maria dengan hati-hati
"Tidak nyonya, saya tidak papa" Setelah lama berdiam diri akhirnya Alisha menjawab dengan kepala yang tertunduk
Sejujurnya Alisha sedang takut dengan orang rumah, karena hari sudah malah dan ia belum sampai rumah entah apa yang terjadi dengan dirinya nanti.
"Nak, kami belum bisa mengabari keluarga kamu karena kami tidak tahu, dan tadi kami menemukan kamu tanpa ponsel mu"
"Jadi bisakah kamu menghubungi keluarga mu? siapa tau keluarga mu dirumah khawatir" jelas nyonya Maria dengan mengusap surai rambut alisha
Alisha semakin menunduk ia tidak mempunyai jawaban untuk semua itu, ia memang mempunyai keluarga namun ia tidak mungkin menghubungi keluarga nya karena itu sama saja ia menyerahkan nyawanya.
Toh lagi pula jika dihubungi keluarga nya tidak mungkin datang, keluarga nya tidak mungkin mengakui nya sebagai nona muda Aldebaran bukan?
"Maaf nyonya keluarga saya di kampung, saya tidak berani menghubungi mereka karena mereka akan khawatir" jelas alisha dengan berbohong
Nyonya Maria mengusap surai rambut hitam alisha lalu menatap suami nya yang kini juga tengah menatap dirinya.
"Yasudah kamu istirahat dulu saja" ucap tuan Danu
"Emmm, bolehkah saya pulang tuan, nyonya?" tanya Alisha
"Sayang, cantik kondisi kamu belum pulih kamu harus dirawat dulu" Ucap nyonya Maria
"Tidak papa nyonya, saya mohon saya masih memiliki urusan penting" Ucap Alisha memelas
"Saya berjanji akan membayar tagihan rumah sakit ini kepada kalian" tambah alisha
Nyonya Maria menatap suami nya, kini mereka bingung ini bukan masalah biaya bagi mereka namun ini masalah kesehatan alisha.
Dengan terpaksa nyonya Maria mengangguk kepalanya lalu mereka memanggil dokter.
***
Alisha kembali ke rumah dengan jantung yang berdebar, mata alisha terbelalak saat melihat mobil Regan terparkir sempurna di halaman rumah keluarga nya.
Alisha lantas berlari menuju pintu belakang, beruntung ia tidak langsung masuk tadi
"Tentu saja Regan disini, kekasih nya sedang sakit" batin alisha iri
Dia yang sampai masuk rumah sakit saja tidak dijenguk, boro-boro di jenguk mereka tau dia masuk rumah sakit saja tidak.
Alisha menggelengkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran buruk yang menuntun nya untuk membenci keluarga nya, mau sejahat apapun mereka bagi alisha mereka tetap keluarga alisha.
"Selamat" ucap alisha lega saat sudah bisa masuk kamar. Alisha memandangi kamar nya yang jauh beda dengan kamar keluarga nya, tentu saja karena kemar yang alisha pakai ini adalah kamar pembantu yang berada di belakang, miris bukan?
Alisha bergegas membuka pintu, ia melihat salah satu pembantu dirumah ini membawakan ia makanan.
"Bi asih" ucap alisha tersenyum
"Non, kenapa bisa luka-luka gini" ucap bi asih khawatir, lantas keduanya masuk kedalam kamar kecil alisha
Bi asih segera melihat luka di tubuh alisha, ada banyak luka lebam dan kepala alisha yang di perban. Bi asih kasihan melihat alisha, semua pembantu disini sudah tau kisah nona muda mereka yang terasingkan meski keberadaan nya dapat di lihat oleh keluarga nya.
"Tidak papa bi, alisha terserempet tadi terus dibawa kerumah sakit sama ibu-ibu" jelas alisha berbohong
"Astaga non, eh? ini makanan buat non tadi di dapur masak jadi bibi sisain buat non" jelas bi asih
Alisha tersenyum, ia jelas tau kenapa keluarga nya memasak banyak karena calon menantu mereka datang, ya setiap Regan datang keluarga nya akan menyambut nya dengan mewah.
"Terimakasih Bi"
"Sama-sama non, bibi ke dapur dulu ya" pamit BI asih yang dijawab anggukan oleh alisha
***
Pagi-pagi sekali alisha sudah pergi ke kampus, ia tidak menunjukkan dirinya dihadapan keluarga nya, toh ada atau tidak dirinya tidak dibutuhkan bukan? kecuali dijadikan pembantu atau alat untuk Elisa hidup.
Alisha yakin selamanya ia akan seperti ini, dijadikan Boneka oleh keluarga nya, orang yang diperalat untuk menjadi sumber kehidupan elisa, bodoh memang namun alisha tidak bisa menolak semua perintah keluarga nya.
Makan siang dikantin ini terasa ramai karena alisha ikut bergabung dengan teman-teman nya, biasanya alisha tidak akan ke kantin dan memilih untuk membaca buku di perpustakaan.
"Alisha, ada party ulang tahun Mia Lo harus ikut" pinta Irene
"Iya, Mia kan teman kita terus party nya malam Minggu lagi" jelas Winda
"Plis sha, Lo ga pernah ikut beginian" ucap Irene dengan memelas
"Nanti aku pikir-pikir lagi ya, aku izin dulu" jawab alisha yang tak enak hati
"Yess, gitu dong harus mau! Mia juga dia jarang bikin party jadi kita harus kasih kejutan" ucap Winda bersemangat
Sedangkan sang empu yang sedang dibicarakan tidak tahu keberadaan nya dimana, alisha tersenyum melihat kehebohan teman-teman nya, sangat menghibur batin alisha senang.
"Loh? Lo kok udah masuk aja?" tanya Regan yang berpapasan dengan alisha di lorong kampus
"Bukannya Lo kemarin masih dirawat dirumah sakit ya?"
"Regan tau? apa mungkin dia ngelihat aku waktu di bawa ke IGD? mungkin ya" batin alisha
"Iya udah Regan, kemarin aku ada urusan" jawab alisha
"Emang udah sembuh?" tanya Regan yang masih melihat jelas luka memar di tubuh alisha
"Udah mendingan, eh kalau gitu aku duluan ya" pamit alisha yang dijawab anggukan oleh Regan
Alisha harus segera pergi dari Regan setelah peringatan dari Arga kemarin, ia tidak mau ada mata-mata sang kakak yang melihat ia bertemu dengan Regan, ia tidak mau terkena amuk lagi dari sang kakak meski itu mustahil
...^^^-Bersambung -^^^...