
"Lena!!" Suara yang begitu melengking terdengar di ruang kerja Selena, sang pemilik ruangan mantap tajam sang pelaku
Tere hanya cengegesan melihat tatapan tajam sahabatnya
"Mau ngapain?"
"Ngajak lo keluar, gue bosen di rumah. Lagian bentar lagi jam istirahat 'kan" Kata Tere, "Hari ini nggak bisa, kerjaan gue banyak. Kemarin gue nggak masuk, jadi numpuk sekarang" Balas Selena sibuk dengan komputer di depannya
Tere duduk di kursi yang berada di depan meja Selena. "Gimana kalo gue pesen makan, terus kita makan siang di sini. Kan lo bisa sekalian ngerjain kerjaan lo"
Selena mengangguk setuju. "Gue ikut aja"
Tere merogoh ponselnya yang berada di dalam kantong, kemudian memesan makanan untuk mereka berdua
"Kenapa lo nggak ikut Revan keluar? Kan lo bisa sekalian jalan-jalan gitu, nggak LDR-an kayak gini" Ujar Tere, "Kalo gue ikut, siapa yang ngerjain kerjaan gue. Lagian di sana gue nanti juga di tinggal sendiri sama Revan ngurus perusahaan, mending gue di rumah" Jelas Selena
"Terus gimana lo sama Gibran? Masih sama"
"He'em, masih ribut kalo ketemu"
"Tante Tara udah tau kalau lo—"
"Nggak, mana pernah gue bilang sama mami. Yang ada langsung dinikahin gue sama Gibran" Sela Tere, "Bagus dong, setidaknya lo nggak nge-jomblo" Ledek Selena
"Iye iye, mentang-mentang udah ada pawangnya" Jengkel Tere, Selena terkekeh
Tak berselang lama setelah percakapan mereka, makanan yang di pesan Tere datang.
"Makan dulu, terusin ntar lagi kerjaannya" Tegur Tere di balas deheman oleh Selena.
***
Selena masuk kedalam rumah dekat memijit pelipisnya, kepala nya terasa sangat pusing dari awal sampai di kantor
"Bi, tolong siapkan air untukku. Aku ingin beristirahat sejenak" Pinta Selena
"Baik, Nyonya"
Selena melangkah menuju kamar untuk beristirahat sembari menunggu air untuknya berendam siap
"Nyonya, airnya sudah siap" Ucap pelayan tersebut, "Heem, terimakasih" Setelah pelayan itu keluar, Selena segera masuk ke kamar mandi.
Di tempat lain, Revan terus mencoba menghubungi istrinya untuk memberitahu kalau dirinya sudah mendarat dengan selamat
Shiv yang menyadari wajah gusar atasannya pun memberanikan untuk bertanya
"Tuan, apa ada masalah" Tanya Shiv, "Tidak, kita langsung ke hotel saja" Jawab Revan.
"Sekali lagi, semoga saja di jawab."
Kembali ke rumah, Selena keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, tak tau kenapa tiba-tiba saja ia merasa mual. Ia berjalan mengambil telfonnya yang terus berbunyi
Melihat nama yang tertera di sana, ia segera menggeser tombol hijau
"Lena, kau dari mana saja? Aku dari tadi menelfon mu"
^^^Selena tersenyum. "Aku baru saja selesai mandi, jadi aku tidak dengar kalau kamu menelfon ku"^^^
"Lena"
^^^"Ya"^^^
"Wajahmu pucat, apa kamu sakit"
^^^"Hanya pusing sedikit, tapi nanti juga sembuh"^^^
^^^"Jangan khawatir, aku baik-baik saja" Lanjut Selena melihat wajah cemas Revan^^^
"Jaga kesehatan mu, jangan terlalu lelah"
^^^"Iya, apa kau sudah sampai?"^^^
Revan mengangguk. "Ini lagi di jalan mau ke hotel"
^^^"Jaga diri, jaga mata, jaga hati. Satu lagi, jaga kesehatan"^^^
Lelaki itu terkekeh. "Iya iya. Udah, sekarang kamu istirahat. Jangan lupa minum obat"
^^^"Siap komandan."^^^
Setelah sambungan telefon berakhir, Selena tiba-tiba ingin sesuatu yang asam. Ia melangkah keluar dan mencari pelayan
"Bibi"
"Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu"
"Apa Bibi bisa carikan mangga muda, saya lagi pengen" Pinta Selena dengan sopan
"Mangga muda?" Selena mengangguk
"Bisa, Nyonya. Akan saya carikan sekarang" Ucapnya menyanggupi, "Eh bentar! Ini uangnya, sisa nya buat Bibi aja" Ujar Selena diangguki pelayan itu.