
Revan menggelengkan kepalanya melihat Selena yang menangis sesegukan gara-gara drakor, kamar yang tadinya rapi sekarang sudah tak berbentuk karna bungkus snack dan juga tisu yang berserakan. Pemuda tersebut berjalan menghampiri Selena dan duduk di sebelah nya
Mereka berdua sudah berada di rumah mereka sendiri karna besok Selena sudah kembali masuk ke kantor.
"Pemeran utama kok mati?" Protes Revan dengan dahi mengerut, "N–nggak semua kehidupan berakhir dengan manis" Balas Selena
"Gimana kalo aku ada di posisi pemain pria itu?" Celetuk Revan, "Ngomong yang baik bisa nggak sih! Kesel ah" Selena menutup laptopnya kasar dan melengkah ke balkon
Revan tersenyum lalu menyusul Selena. "Lena"
Wanita itu tak menjawab
"Sayang"
"Apa manggil-manggil, males ngomong sama kamu" Ketus Selena memalingkan wajahnya, "Marah nih, hm?" Goda Revan
"Pikir aja sendiri"
"Iya, aku minta maaf. Nggak ngulang deh" Ujar Revan, "Beneran, nggak boong. Aku nggak akan ngulang kayak tadi lagi"
Selena menoleh menatap suaminya, Selena memeluk erat tubuh tegap milik Revan. Tangan kokoh Revan mengusap pelan surai panjang Selena
"Jangan bicara kayak tadi lagi, aku takut. Anak kita udah pergi dan aku nggak mau kejadian menyakitkan itu terulang lagi" Isak Selena, "Hm, aku janji nggak akan ngulanginnya lagi" Balas Revan
"Ini udah malem, ayo kita tidur" Ajak Revan.
Pagi hari, Selena dan Revan sudah bersiap dengan pakaian kantor mereka
"Maaf, tadi aku bangun kesiangan jadi nggak sempet buat sarapan" Ucap Selena menatap makanan yang ia pesan tadi di atas meja, "Nggak papa, kita sarapan sekarang" Kata Revan
Selesai sarapan, mereka berdua langsung meluncur ke tempat tujuan mereka.
"Kak Evan nggak ke kantor?" Tanya Tiara melihat suaminya masih santai, "Ke kantor tapi nanti, masih pengen di rumah liat bidadari" Jawab Evan, "Nggak usah muji, nggak mempan. Bilang, mau apa?" Kata Tiara
"Beneran, Sayang. Nggak percayaan banget ama suami" Balas Evan mencubit gemas hidung istri nya, "He'em, aku mau ke belakang dulu. Anak-anak udah pada layu" Ucap Tiara
"Taneman terus yang di urus, suaminya nggak" Protes Evan membuat Tiara mendelik, "Kapan Kak Evan liat aku nggak ngurus Kakak? Tiap hari sebelum aku nyiapin keperluan anak-anak, punya Kak Evan udah selesai duluan. Tapi kalo Kakak ngerasa nggak aku urusin yaudah, terserah" Jelas Tiara panjang lebar lalu pergi dari kamar
"Salah lagi kan, padahal tadi niatnya cuma mau bercanda. Cowok memang selalu salah" Evan segera menyusul Tiara yang sedang kesal ke taman belakang
"Sayang" Andalan Evan jika Tiara kesal atau badmood adalah memeluknya dari belakang
"Apa yang harus aku lakuin biar kamu nggak ngambek lagi" Imbuh Evan, "Palingan nanti juga protes lagi, nggak usah" Jawab Tiara
"Janji nggak akan protes, sekarang kamu bilang sama aku" Tambah Evan.
"Gibran, astaga! Udah Mama bilang berapa kali kalo naruh barang-barang itu di tempatnya" Ucap Catrin kesal karna kelakuan buruk putranya tak kunjung hilang, "Iya, Mah. Nanti Gibran beresin kok, tapi abis ngelamar Rere" Jawab Gibran tanpa beban
"Rere? Maksud kamu Rere—"
"Iyalah siapa lagi" Sela Gibran, "Benaran? Nggak usah nge-ghosting anak orang" Tegur Catrin, "Yang mau nge-ghosting siapa? Orang Gibran serius" Balas Gibran kembali melanjutkan bermain PS
"Buruan! Keburu di ambil orang" Catrin melangkah keluar dari kamar putra dengan perasaan tak menentu.
"Revan? Kamu ngapain ke sini" Tanya Selena menatap heran suaminya yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjanya, "Nggak boleh? Lagian orang-orang kantor juga udah tau kalo kita suami-istri" Jawab Revan duduk di tepi meja kerja Selena
"Iya, aku tau itu. Tapi kamu kesini mau ngapain. Kerjaan kamu udah selesai?" Revan menggeleng
"Mending kamu balik terus selesein dulu kerjaan kamu, ntar kalo numpuk pasti lembur. Kalo udah lembur, nggak inget sama waktu" Omel Selena, "Kenapa kau jadi cerewet kayak gini, hm" Ujar Revan gemas
"Kenapa? Nggak suka? Yaudah"
"Suka, Sayang"
Selena langsung memalingkan wajahnya nya yang memerah karna panggil sayang dari Revan
"Cie! Blushing"
"Apaan sih! Udah sana pergi" Usir Selena, "Aku masih pengen disini, Istriku" Kata Revan, dan lagi-lagi membuat rona di pipi Selena.
Plakk
Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Metha, Vira tak tanggung-tanggung membuat wanita di depannya menjerit kesakitan
"Ups! Maaf telah menyakiti mu, Nona. Tapi..hasil karyaku di tubuh mu sangat indah, mau ku tambah?" Tanya Vira mengetuk dagunya, "D–dasar kau iblis tak punya hati!" Sentaknya
"Hati? Kalau anda tidak membuat masalah terlebih dahulu, semua ini tidak akan terjadi. Bahkan sekarang anda masih bermanja dengan orang-orang yang anda cintai" Ujar Vira, "Apa kita harus mengakhiri permainan ini kalau anda tidak ingin merasakan sakit lagi? Semua pilihan ada di tangan anda, Nona."
...»»——⍟——««...