
"Oliv, udah lama Lena nggak datang kesini. Apa dia sedang sibuk? Kalau tidak, suruh di kemari dengan Revan" Pinta Yoona, "Nggak tau, Mah. Aku akan menelfon dirinya" Kata Olivia merogoh ponselnya di tas
"Hallo, Lena. Apa Mama mengganggumu" Tanya Olivia ketika sambungan telfon sudah tersambung dengan putrinya
^^^"Tidak. Memangnya ada apa, Mah"^^^
"Begini...kalau kamu sama Revan nggak sibuk, nanti malam datanglah ke rumah Nenek. Nenek ingin bertemu denganmu dan juga Revan"
"Lena" Panggil Olivia ketika tidak mendapat balasan dari Selena
^^^"Baiklah, nanti malam kami akan berkunjung kesana. Ada lagi?"^^^
"Tidak, terimakasih" Setelah percakapan tersebut selesai, Olivia langsung memutus sambungan tersebut.
"Lena sama Revan akan datang malam ini" Ujar Olivia, Yoona mengangguk senang mendengar ucapan anaknya
"Papa mana? Nggak keliatan dari tadi" Tanya Olivia, "Di kebun sebelah. Setelah urusan kantor sekarang ada sama kamu, papamu rajin ke kebun" Jelas Yoona
"Itu lebih baik. Sekarang Mama sama papa tinggal menikmati masa tua kalian. Untuk yang lain, biar aku sama mas Zafran yang urus" Balas Olivia.
Di sebuah kamar, seorang wanita menatap khawatir suaminya
"Yakin mau ke rumah nenek? Aku bisa batalin. Kamu belum sehat bener, nenek pasti ngertiin" Ujar Selena, "Kita akan kesana, kasian nenek pengen ketemu sama kamu. Udah nggak papa, nanti pasti sembuh. Cuma demam dikit doang" Kata Revan tersenyum menatap wanita yang duduk di depannya
Melihat Selena masih menatapnya cemas, Revan mendaratkan kecupan singkat di kening istri nya. "Kita kesana malam ini, jangan di tekuk gitu mukanya. Cantiknya ntar ilang" Ucap Revan menoel pipi Selena
"Gombal" Sedikit senyuman terbit di wajah wanita itu.
Srecctttt
Sebuah belati berhasil mengoyak perut seorang gadis yang selama lebih dari satu minggu telah menjadi tahanan
"Akhirmu sama seperti calon keponakan ku, Nona" Ucapnya tertawa senang, "Bereskan semuanya, dan jangan sampai ada sisa sedikitpun"
"Kerja bagus, Ira. Aku takjub dengan kemampuan mu membunuh musuh dengan cara seperti tadi, bahkan jika orang yang melihat aksimu akan pingsan di tempat" Ucap seorang pemuda menatap bangga gadis di depannya
"Ceh, berlebihan" Vira meletakkan belati tadi lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut
"Kau tidak percaya dengan ucapanku, Ira? Yasudah" Ucapnya cukup jengah melihat sikap dingin Vira, "Apa mau mu?" Tanya Vira
"Tidak ada, kalau aku bilang pun kau pasti menolak" Jawabnya tersenyum, "Hem, masih ada gadis yang lebih baik dari diriku" Tambah Vira melenggang pergi setelah membersihkan diri
"Aku akan tetap menunggu mu, Ira" Gumamnya.
Di kediaman Mahatama, Selena dan Revan sudah duduk bersama kakek, nenek, dan juga Zafran di ruang keluarga. Di mana Olivia? Ia sedang berada di dapur menyiapkan makan malam
"Bagaimana kabar kakek sama nenek" Tanya Selena memeluk sang Nenek, "Kami baik, kenapa kalian jarang sekali kesini" Jawab Yoona
"Nenek, aku sama Revan kan kerja. Terus pulangnya sore, jadi susah ngatur waktu buat kesini" Jelas Selena, "Alasan di terima" Balas Yoona terkekeh
"Apa Lena terus manja denganmu seperti ini, Revan" Tanya Ferdi, "Sesuai moodnya, Kek" Jawab Reva. Pemuda itu menutupi rasa sakit di tubuhnya dengan senyuman, ia tidak ingin keluarga nya khawatir terutama Selena
"Makan malam sudah siap, ayo kita makan" Ajak Olivia menghampiri sekumpulan orang tersebut, mereka semua mengangguk lalu berjalan ke meja makan
Bukan ke meja makan Selena menggandeng tangan Revan melainkan ke lantai atas tepatnya masuk ke kamar
"Mau ngapain? Kamu nggak laper" Tanya Revan bingung, "Kalau sakit bilang, nggak usah senyum. Kamu kira aku nggak tau dari tadi kamu nahan sakit?" Sergah Selena, "Diem disini aja, aku mau makan malam"
Sedari awal di ruang keluarga, diam-diam Selena memerhatikan Revan yang tampak gelisah tetapi masih berusaha tersenyum
"Ayo makan. Kalau di bilangin nurut, bandel" Omel Selena menyuapi Revan sesekali memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Revan tersenyum melihat ke khawatiran istrinya. "Iya. Udah dong, mukanya jangan di tekuk kayak gitu" Kata Revan.
...»»——⍟——««...