MARRIED BY MISTAKE

MARRIED BY MISTAKE
7



"Kamu yakin mau kerja" Tanya Revan khawatir dengan keadaan istrinya, Selena mengangguk


"Lebih baik kamu ambil cuti saja, pekerjaan mu akan terganggu dengan keadaan mu yang sekarang" Ujar Revan


Selena yang sedang bersiap pun menghentikan aktivitas nya. "Biarkan saja, toh dia anakku. Biarkan dia mengganggu diriku" Balas Selena


"Aku pergi" Selena segera melangkah keluar dari kamar, ia kesal dengan perkataan Revan tadi yang mengatakan pekerjaan nya akan terganggu karna dia sedang hamil


Pemuda itu tersadar dengan ucapannya, ia lupa kalau istrinya sekarang sangat sensitif.


"Revan, kamu nggak sarapan dulu" Tanya Evan melihat putranya hendak pergi, "Aku sarapan di kantor, aku mau nyusul Lena dulu" Kata Revan melenggang pergi menyusul Selena


"Mana Revan sama Lena? Kok nggak ada di sini" Tanya Tiara keluar dari dapur, "Lena udah berangkat dari tadi, terus Revan baru aja pergi nyusul Lena" Jelas Evan


"Nyusul Lena? Bukannya Revan ngurus perusahaan papa dan Lena kerja di kantor Kak Evan" Tanya Tiara, "Lena sama Revan sekarang sekantor, itu semua perbuatan Revan. Katanya biar bisa jagain Lena juga. Mending kita sarapan, biarkan saja mereka" Evan menarik pinggang ramping istri agar duduk di pangkuan nya


"Kak?"


"Kenapa? Nggak boleh? Lagian Vira juga udah berangkat, nggak ada yang bisa ganggu" Ucap Evan tersenyum, "Udah ah, ayo sarapan" Kata Tiara turun dari pangkuan sang suami.


"Lena" Revan sudah tak peduli lagi dengan keberadaan Riska yang akan mengetahui hubungannya dengan Selena


Riska juga Revan pindahkan bersama Selena agar istrinya tak terlalu capek mengerjakan pekerjaannya.


"Riska, aku mau ke toilet dulu sebentar" Selena beranjak pergi meninggalkan Revan dan juga Riska di sana


Dengan cepat, Revan menyusul istri nya. Tangannya mengulur mencekal pergelangan tangan Selena dan membawa wanita itu ketempat yang sepi


"Mau ngapain sih? Apa kamu kesini cuma mau bilang kalau aku terganggu dengan keadaan ku sekarang dan menyuruhku pulang? Aku seperti ini juga karna dirimu, aku membenci mu tapi tidak dengan anak ini" Ujar Selena menatap marah pria yang ada di hadapannya


"Kalau kamu menganggap anak ini hanya pengganggu, biarkan aku yang merawatnya sendiri. Kamu nggak perlu ikut turun tangan mengurusnya!"


Revan mendekap erat tubuh Selena ketika wanita itu ingin pergi. "Maafkan aku. Aku nggak bermaksud bicara seperti tadi, aku hanya khawatir"


Pria itu mengelap cairan kristal yang keluar dari mata Selena, wajahnya mendekat mengikis jarah wajah mereka


"Boleh?" Selena mengangguk pelan


Revan tersenyum lalu menyambar bibir tipis milik Selena, pemuda itu melepas nya ketika merasa mereka butuh oksigen


"Terimakasih."


Revan sekarang sibuk mempelajari berkas-berkas yang berada di meja ibunya, karna selama ini yang memegang perusahaan adalah Tiara-sang ibu.


Fikiran nya sedikit terganggu saat mengingat ucapan Selena yang membenci dirinya


"Tidak masalah kalau kamu membenci diriku, Lena. Aku akan tetap mencintaimu, walaupun itu hanya sepihak" Ucap Revan pelan, "Dan aku menikahimu bukan hanya untuk menebus kesalahan ku, tapi karna aku mencintaimu."


"Revan..ayolah" Rengek Selena, wanita itu sedari tadi terus merengek meminta buah yang seharusnya tidak di bolehkan saat hamil. Seperti, durian yang sekarang sedang di minta oleh Selena


"Lena, yang lain aja ya. Kamu nggak takut kalo nanti ada apa-apa sama anak kita" Bujuk Revan, "Tapi aku pengen durian, Revan" Merajuk? Tentu saja. Wanita itu keluar dari kamar menuju ke dapur


"Apa yang kamu lakukan, Lena" Tanya Revan menurunkan Selena yang berdiri di atas kursi, "Apa lagi? Aku cuma mau ambil acar" Jawab Selena ketus


"Salah kamu nggak mau nurutin" Selena melenggang pergi dari hadapan suaminya


"Ada apa lagi sama Lena, Revan" Tanya Tiara menghampiri putranya, "Dia mau durian, Mah. Tapikan nggak boleh" Jawab Revan lesu


"Seharusnya memang begitu. Tapi kalau dia pengen, belikan saja. Asal jangan berlebihan, itu malah nanti berbahaya" Ujar Tiara


"Yaudah, Revan pergi dulu cari durian buat Lena."


"Gibran, balikin handphone gue!" Tere terus mengejar pemuda yang membawa lari ponselnya


"Gib—" Tere membulatkan kedua matanya ketika ada sesuatu yang menempel di bibirnya


First kiss gue. Batin Tere


"Astaga! Apa yang kalian lakukan?" Seorang wanita lansia berjalan menghampiri mereka


Gibran dan Tere tersadar dengan posisi mereka


"O–Oma, ini hanya kecelakaan. Tadi Rere ngejar Gibran karna ponsel Rere di ba—"


"Nggak ada alasan. Kalau kalian saling suka, bilang saja. Jangan berbuat seperti tadi di belakang, itu malah nan—"


"Mah, ada apa" Tanya Tara menghampiri Aileen, "Tanya aja sama putrimu, Tara" Kata Aileen


"Rere"


"Tadi cuma kecelakaan, Mih. Tadi ponsel Rere di bawa sama Gibran, terus Rere ngejar dan nggak sengaja kiss" Jelas Tere


"Beneran cuma itu? Nggak ada yang lain?" Goda Tara. Tanpa sepengetahuan Tere, ia sudah mengetahui perasaan Tere untuk Gibran


"Heem, cuma itu"


"Gibran?"


"Ya, hanya itu. Tadi cuma kecelakaan, Tante/Oma" Jawab Gibran


Kalau Oma nggak liat pasti bisa lebih lama. Batin Gibran terkikik


Tere menyenggol lengan Gibran. "Ngapain senyum"


"Siapa yang senyum, mata lo yang salah" Ledek Gibran, "Oma/Tante, Gibran mau pamit pulang"


"Udah sana pulang, nggak usah kesini lagi" Usir Tere, "Rere, nggak boleh begitu. Ntar Gibran nggak kesini beneran nyariin" Ujar Tara


Sebelum pergi, Gibran mencubit gemas pipi kanan Tere dan membuat gadis itu memekik kesal.


...»»——⍟——««...


👤 : "Bab ini Author bingung ceritanya nyambung apa kaga, kalo nggak nyambung? komen aja, ntar Author perbaiki"