
Keluarga Kenneth, Fabian, Auriga, dan Mahatama berlari di sepanjang lorong rumah sakit. Perlahan langkah mereka memelan ketika beberapa perawat keluar sambil mendorong brangkar
"Dokter, bagaimana keadaan korban kecelakaan beberapa jam yang lalu" Tanya Evan, "Kalian keluarga korban?" Tanyanya diangguki mereka semua
"Maaf, Tuan/Nyonya. Korban tidak bisa kami selamatkan. Ledakan dahsyat yang terjadi membuat wajahnya sudah tidak bisa di kenali" Jelasnya, seorang wanita memakai seragam perawat memberikan kantong plastik berwarna putih yang berisi barang-barang milik korban kecelakaan itu
"Mah, i–ini barang-barang punya Revan. Ini punya Revan, a–aku ingat karna aku yang menyiapkan nya tadi pagi" Ucap Selena tak kuasa menahan air matanya melihat barang-barang yang lelaki itu kenakan tadi pagi
"Stuuut..." Olivia mendekap erat tubuh putrinya yang hampir luruh
"Boleh kita melihatnya sebentar" Pinta Tiara penuh harap
"Silahkan, Nyonya" Salah satu perawat membuka kain putih tersebut
Tiara berjalan mendekat, diikuti Evan di belakang. "Kak, katakan padaku kalau ini cuma mimpi. Revan baik-baik saja 'kan? Putraku masih hidup 'kan? Dia bukan Revan 'kan? Kak, jawab aku!" Seru Tiara mencengkram kerah kemeja suaminya
"Ra..."
"Tuhan sudah mengambil bibi Jane dan papa dariku, apa sekarang dia juga akan mengambil putraku?" Lirih Tiara, "Apa dia setega ini pergi meninggalkan Lena yang sedang hamil? Dia sudah lama memimpikan menjadi seorang ayah, tapi sekarang? Di saat impiannya akan terwujud, dia pergi dengan mudahnya"
Evan menarik Tiara kedalam pelukannya dan memberi isyarat kepada perawat untuk membawa jenazah Revan pergi
"Aku akan pulang dan mencari Revan dirumah, kali ini bercanda nya nggak lucu dan aku nggak akan maafin dia" Selena mengusap kasar air mata nya, tetapi saat hendak pergi tangannya di tahan oleh sang Ibu
"Sayang, Revan nggak ada di rumah. D–dia sudah pergi" Ucap Olivia pelan menatap putrinya.
Setelah prosesi pemakaman selesai, satu per satu para pelayat pulang ke rumah mereka menyisakan Selena yang meminta waktu berdua
"Ku harap ini mimpi buruk, Revan. Kau pergi sebelum menyelesaikan tugasmu? Ayah, panggilan itu yang ingin kamu dengar 'kan? Kamu ingin mendengar nya dari anak kita. Tapi saat dia akan hadir, kau pergi?"
"Lena, ayo kita pulang" Ajak Olivia, "Ya, Mama ke sana dulu dan aku akan menyusul" Jawab Selena
"Baiklah"
"Aku pulang dulu, jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu" Selena mencium singkat batu nisan di depannya, kemudian beranjak pergi meninggalkan pemakaman.
Setelah dari pemakaman, Olivia dan Zafran membawa Selena pulang ke rumah untuk sementara sampai semuanya tenang, begitupun juga dengan Evan yang akan tetap di rumah sampai Tiara kembali membaik
"Lena"
"Aku ingin istirahat" Ucap Selena berjalan ke kamar yang berada di pantai dasar, ia masuk ke dalam dan mengunci pintunya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan perlahan
"Kau bohong, kau bohong dengan mengatakan akan selalu bersamaku dan nyatanya kamu pergi. Kalau aku tau akan seperti ini, dari awal aku akan meminta untuk ikut dengamu ke kantor. Kita akan pergi bersama-sama dan berkumpul di sana bersama anak-anak kita"
"Tetapi tidak, aku akan bertahan untuk anak kita. Dia masih membutuhkan ku, aku akan berusaha menjadi ibu sekaligus ayah untuknya nanti. Aku juga akan mencoba mengikhlaskan mu pergi"
"Walaupun sebenarnya aku masih membutuhkan mu, Revan."